Jumat, 06 November 2009

Menjadi Kristen yang Sejati (Bagian 2)

Di artikel pertama, saya sudah menjelaskan tentang tanda atau ciri yang pertama dari seorang Kristen yang Sejati yaitu menyangkal diri dan memikul salib (band. Luk 9:23). Saat ini kita lanjutkan kepada tanda atau ciri yang kedua yaitu preferensi. Preferensi dari seorang Kristen yang sejati adalah Kristus. Apakah artinya? Artinya adalah bahwa seorang Kristen yang sejati tidak mempunyai hal yang lebih penting, lebih utama, lebih berharga, atau lebih dikasihi dibanding dengan Kristus. Di Lukas 14:26, Yesus berkata:

”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan Ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki, perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Kata “membenci” digunakan oleh Yesus di dalam perbandingan terhadap orang lain yang terdekat termasuk nyawa atau diri kita sendiri. Dengan kata lain, di dalam perbandingan terhadap orang-orang terdekat, yang paling kita kasihi, yang paling kita hargai, yang paling kita anggap penting atau berharga, atau yang paling kita utamakan, Kristus adalah jauh di atas segalanya.

Di dalam diskusi Alkitab saya mengenai hal ini, biasanya saya menjelaskan bahwa sesungguhnya orang Kristen yang sejati adalah orang yang normal atau waras. Mereka bukanlah orang yang marah, dendam, pahit, atau geram terhadap keluarga, sanak family atau diri sendiri. Mereka bukanlah orang yang tidak peduli, tidak mau tahu, atau tidak memerhatikan segala sesuatu termasuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, orang Kristen yang sejati adalah seorang pengelola yang baik di dalam kehidupannya. Matius pasal 25 ayat 14 sampai 30 menggambarkan hal tersebut yaitu tentang perumpamaan tentang talenta. Bedanya, dibandingkan dengan orang yang lain, orang Kristen yang sejati tidak menganggap apapun atau sesuatupun lebih penting, lebih utama, lebih berharga, atau lebih layak untuk dikasihi dibandingkan dengan Kristus, termasuk diri atau nyawa sendiri sekalipun. Jika diperhadapkan di dalam pilihan atau situasi antara Kristus dengan yang lain, maka seorang Kristen yang sejati tentu atau pasti akan memilih Kristus, bahkan dengan sangat mudah.

Sikap ini tentunya akan tercermin di dalam tindakan. Seseorang tidak dapat menyatakan bahwa ia lebih mengasihi Kristus atau mengutamakan Dia padahal tidak tercermin atau terbukti di dalam tindakan atau kehidupannya sehari-hari.

Berikut ini adalah ekspresi sikap yang tercermin di dalam tindakan atau kehidupan sehari-hari dari seorang Kristen yang sejati:
1. Berdoa setiap hari
2. Membaca Alkitab setiap hari
3. Bersekutu atau berjemaat
4. Meninggalkan dosa
5. Dan lain-lain

Saya lebih suka menyebut tindakan-tindakan tersebut di atas sebagai ekspresi sikap bukan semacam tindakan-tindakan wajib yang bersifat legalistis. Mengapa? Karena ekspresi sikap sesungguhnya mengandung cakupan yang sangat luas dan menunjukkan banyak sekali ragam jenis tindakannya. Ia tidak terbatas tindakan dan bebas legalisme. Contohnya, orang yang berdoa setiap hari belum tentu mengasihi Tuhan atau mengutamakan Dia. Tetapi, orang yang mengasihi Tuhan atau mengutamakan Dia lebih dari segala sesuatu, pastilah akan berdoa setiap hari.

Selanjutnya, tanda atau ciri yang ketiga dari Kristen yang sejati, selain menyangkal diri dan memikul salib, mengasihi dan mengutamakan Kristus di atas segalanya, adalah sikap belajar menyerupai Kristus. 1 Yohanes 2:6 mengatakan:

”Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Sikap tersebut adalah wajib atau mutlak bagi setiap orang Kristen. Pernyataan ini tentu saja bukan tidak berdasar, bukan pula berdasarkan atas penilaian atau penerimaan publik tetapi atas prinsip dan pernyataan-pernyataan yang sederhana, jelas dan ekplisit oleh Alkitab. Seorang Kristen yang sejati adalah seorang yang belajar dan bertumbuh menyerupai Kristus. Jika tidak demikian, maka tentu saja orang tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai seorang Kristen yang sejati.

Setelah mengadakan diskusi dengan cukup banyak orang dalam kurun waktu yang relatif lama, saya menyimpulkan bahwa orang-orang di masa kini tidak mengalami kesulitan untuk menggambarkan sifat atau karakter Yesus. Mereka bahkan dengan mudah menggambarkannya. Di dalam diskusi kelompok di satu kesempatan, saya meminta pendapat orang-orang yang hadir tentang seperti apakah karakter Yesus menurut mereka. Dengan mudah sejumlah orang menyebutkan satu per satu karakter Yesus yaitu bahwa Ia mengasihi, sabar, penuh penguasaan diri, tegas, berani, suci, rendah hati, penuh pengampunan dan belas kasihan, dan lain sebagainya. Pertanyaannya sekarang, apakah orang-orang Kristen di masa kini fokus memelajari hal tersebut sehingga mereka menyerupai Kristus atau hanya sekadar mengetahui atau mengagumi karakter Dia semata?

Salah seorang teman yang berdiskusi Alkitab dengan saya pernah mengakui secara jujur bahwa ia mulai merasakan beban, tantangan, dan pergumulan setelah mengikuti tiga atau empat kali pertemuan diskusi. Beban, tantangan atau pergumulan yang dimaksud tentu saja bukan yang bersifat kerumitan intelektual atau semacamnya tetapi saat belajar untuk berubah dan mengalami transformasi karakter atau kebiasaannya. Contohnya, dari seorang yang pemarah menjadi sabar dan penuh penguasaan diri; dari yang berpikir jahat atau negatif menjadi penuh kasih dan pengampunan; dari yang cabul menjadi murni, dan lain sebagainya.

Sekarang, tanda yang ke-empat adalah “bertumbuh”. Orang Kristen yang sejati pasti akan bertumbuh. Mengapa? Karena mereka belajar dari waktu ke waktu. Jika seorang Kristen tidak bertumbuh, maka apa dan bagaimana ia belajar menjadi suatu tanda tanya yang sangat besar. Di Injil Markus 9 ayat 9, Yesus pernah menegur murid-muridNya dengan berkata:

"Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"

Dengan kata lain, Yesus mengharapkan pertumbuhan iman murid-muridNya seiring berjalannya waktu. Di Markus pasal 4, Yesus memberikan perumpamaan tentang benih yang mati dan benih yang bertumbuh dan berbuah. Di Kisah Para Rasul, Lukas mencatat pertumbuhan jumlah anggota jemaat yaitu murid-murid Kristus dari waktu ke waktu (band. Kis 2:47; 6:1,7). Surat-surat Paulus pun juga demikian, banyak berbicara tentang doa, impian, dan harapannya terhadap jemaat supaya mereka bertumbuh di dalam pengetahuan, hikmat, dan pengertian yang benar tentang Tuhan. Surat 1 Petrus pasal 2 ayat 2 berbicara tentang nutrisi pertumbuhan rohani yaitu firman Tuhan. Surat Ibrani pasal 5 ayat 12 berbicara bahwa orang-orang Kristen seharusnya bertumbuh menjadi pengajar Alkitab yang cakap terhadap orang lain seiring berjalannya waktu. Jadi, melalui ayat-ayat tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang Kristen bukan saja harus bertumbuh secara karakter atau pribadinya tetapi juga seharusnya bertumbuh menjadi pengajar yang cakap sehingga dapat menolong, membimbing, dan menuntun orang lain kepada keselamatan dan pertumbuhan rohani.

Sekali lagi, tanda atau ciri Kristen yang sejati adalah bahwa mereka menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, bahwa preferensi mereka adalah Kristus, bahwa mereka adalah orang-orang yang belajar menyerupai Kristus dan mereka bertumbuh dari waktu ke waktu.


(bersambung)



Copyright © 2009 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Tidak ada komentar: