Senin, 31 Agustus 2009

DEASY BAPTISM DAY



Sun, Aug 30, 2009
Naek & Lenda Residence
PDA Harapan Indah Bekasi
Married Ministry

Komunikasi Apologis yang Efektif (Bagian 2)

Seorang apologis semestinya jangan pernah terjebak ke dalam diskusi atau debat filsafat. Karena firman Tuhan bukanlah filsafat, demikian pula filsafat bukanlah firman Tuhan. Filsafat berasal dari dunia sedangkan firman Tuhan berasal dari Sorga. Filsafat adalah kemampuan atau kekuatan manusia di dalam berpikir dan berusaha menemukan hubungan atau jawaban logis tentang atau terhadap segala sesuatu, tetapi Alkitab adalah penyataan Allah. Filsafat hanyalah logika dan rasio semata tetapi firman Tuhan jauh lebih dari itu. Ia bukan kata-kata biasa. 1 Tesalonika pasal 1 ayat 5 mengatakan:”Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh…” Dengan kata lain, filsafat dan firman Tuhan adalah sangat berbeda secara mendasar. Keduanya tidak dapat diperbandingkan, disetarakan, atau pun disejajarkan.

Bagi saya, adalah justru sangat logis dan rasional jika kita menyimpulkan dan menyatakan bahwa logika dan rasio semata tidak akan pernah berhasil membawa atau menghantarkan manusia kepada Tuhan melainkan iman. Iman yang timbul dari pendengaran terhadap firman-Nya yaitu Alkitab (band. Roma 10:17). Contohnya, seperti apakah logika atau rasio manusia menjelaskan dari mana ia berasal? Apa yang semestinya ia lakukan di dalam hidupnya sebagai manusia? Apakah tujuan hidupnya dan kemanakah ia akan pergi setelah mati? Saya percaya bahwa Anda pasti sudah dapat menduga akan seperti apakah logika atau rasio kita menjawab dan menjelaskan tentang semua itu. Tentu tidak akan sama dengan Alkitab. Mengapa? Karena logika dan rasio hanya dapat menjawab berdasarkan apa yang dapat dilihat oleh mata dan yang dapat didengar oleh telinga. 1 Korintus pasal 2 ayat 9 mengatakan:”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Artinya, firman Tuhan adalah sesuatu yang baru yang berbeda bagi manusia. Ia adalah penyataan yang diberikan kepada manusia atas inisiatif Tuhan sendiri. Sesuatu semacam interfensi dari sorga ke dunia. Out of the box.

Jadi, tidak heran mengapa Alkitab dimulai dengan iman. Kejadian pasal 1 mengatakan bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala isinya dalam waktu enam hari, dari yang tidak ada menjadi ada, dengan cara berfirman. Bukankah ini hanya dapat dimengerti atau diterima dengan iman saja bukan logika atau rasio?

Filsafat tidak akan pernah menerima iman. Mengapa? Karena jika ia menerima iman maka ia bukan lagi filsafat. Sebaliknya, Alkitab dimulai dengan iman, dimengerti dan diterima dengan iman. Mengapa? Karena ia adalah penyataan khusus Tuhan. Penyataan Tuhan yang pertama adalah melalui alam semesta (band. Roma 1:19-20). Langit, bumi dan segala isinya sesungguhnya diciptakan Tuhan bukan saja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia tetapi juga sebagai penyataan diri Tuhan kepada manusia. Sehingga, melalui ciptaan-Nya, manusia dapat mengenal Dia bahwa Ia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, bahwa Ia adalah pribadi yang intelek jauh di atas manusia, bahwa Ia peduli, mengasihi, dan memerhatikan manusia. Tetapi, alam semesta saja tidaklah cukup bagi manusia untuk dapat mengenal Tuhan. Manusia butuh sesuatu yang lebih jelas dan yang lebih nyata lagi dan Tuhan tahu kebutuhan tersebut. Oleh sebab itu, Tuhan menyatakan diriNya dengan lebih jelas lagi melalui Alkitab yaitu firman yang dihasilkan oleh Roh Kudus dengan nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai mediaNya (band. 2 Pet 1:20-21).

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengetahui apakah Alkitab berasal dari Tuhan atau tidak? Saat ini saya tidak akan berusaha menjawabnya berdasarkan informasi-informasi eksternal Alkitab melainkan dari dalamnya, yaitu dari Alkitab sendiri. Biarlah ia yang akan memberikan jawabannya kepada Anda dan saya.

Satu hal penting yang harus kita ketahui adalah bahwa Alkitab dituliskan oleh nabi-nabi dan rasul-rasul. Mereka dipilih oleh Tuhan bukan sebaliknya yang memilih Tuhan. Di Keluaran 4 ayat 12 Tuhan berfirman kepada Musa: ”…pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kau katakan.” Ini disampaikanNya pada saat memilih, menetapkan dan akan mengirim atau mengutus Musa sebagai nabi. Dengan kata lain, sebelum seseorang berbicara atas nama Tuhan, mewakiliNya, menjadi alat atau nabiNya yang menyampaikan firmanNya, ia terlebih dahulu harus menerima firman secara langsung dari Tuhan.

Secara etimologi, arti kata nabi (prophet) juga menjelaskan hal ini yaitu yang menyampaikan kata-kata atau tulisan-tulisan yang berasal dari Tuhan (prophecies). Ulangan 18 ayat 18 juga mengatakan hal yang sama: ”seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” Demikian juga Yeremia pasal 1 ayat 9 mengungkapkan bahwa sebelum Tuhan mengirim atau mengutus nabi Yeremia, Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutnya; Tuhan berfirman kepada Yeremia:”Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.” Dan, di Yehezkiel pasal 3 ayat 1 dan 2, Tuhan berfirman kepada Yehezkiel:”Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.”

Dari kutipan ayat-ayat tadi dapat kita temukan konsistensi tentang bagaimana Tuhan menyampaikan firman-Nya melalui nabi-nabi. Tidak ada subjektifitas dari orang-orang yang akan diutus atau dikirimNya. Tidak ada campur aduk, pikiran, pendapat, atau kepentingan dari atau oleh manusia tetapi Tuhan saja. Hanya firman-Nya, perkataan-perkataan-Nya saja yang mereka terima dan sampaikan. Wahyu pasal 22 ayat 18 sampai 19, menunjukkan sikap yang serius dan sungguh dari rasul Yohanes terhadap setiap kata yang diterima dan disampaikannya dari Tuhan. Ia berkata:”…jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Ini berarti bahwa ada terdapat konsistensi sikap yang serius dan sungguh juga dari nabi-nabi atau rasul-rasul yang menyampaikan firman Tuhan. Dengan kata lain, bukan saja Tuhan yang menyampaikan setiap kata tanpa terkorupsi atau terkontaminasi tetapi nabi-nabi dan rasul-rasul pun juga demikian, mereka tidak menambahi atau pun menguranginya.

Jadi, penyataan Tuhan yang pertama adalah melalui alam semesta, yang kedua adalah melalui Alkitab, dan yang ketiga yang akan saya jelaskan sesaat lagi adalah Firman yang hidup yaitu Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal (band. Yoh 1:1;14; 1 Yoh 1:1; Yoh 3:16). Dari Yesus, oleh Yesus atau melalui Yesus, kita melihat Bapa. Yohanes 14 ayat 9 mengatakan:”… Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;….” Bahkan jauh sebelumnya, nabi Yesaya pun sudah menubuatkan ini bahwa Yesus adalah Immanuel yang artinya Allah beserta atau bersama-sama dengan kita.

Jika seorang apologis menghadapi pendebat yang tulus, yang sungguh-sungguh ingin belajar dan mengerti, maka tidak ada cara yang lebih efektif selain menyampaikan firman Tuhan, tetapi jika ia berhadapan dengan pendebat yang tidak tulus, maka tidak ada cara lain yang lebih efektif selain mengebaskan debu dari kakinya.



Copyright (c) 2009 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Rabu, 26 Agustus 2009

Komunikasi Apologis yang Efektif (Bagian 1)

Selama menjadi seorang Kristen saya sudah mendengar isu-isu yang men-diskreditkan Yesus atau Alkitab, baik secara verbal maupun melalui media masa. Saya percaya bahwa tentu saja orang-orang yang menyebarkannya mempunyai tujuan atau kepentingan tersendiri. Entah itu demi sensasi, popularitas, politisasi, atau mungkin semata-mata karena anti terhadap kekristenan. Saya tidak akan menyebutnya di sini satu per satu tetapi satu hal yang pasti tentang isu-isu tersebut bahwa semuanya terkikis habis, hilang, lenyap ditelan oleh waktu. Tidak ada satu pun dari isu-isu tersebut yang bertahan hingga saat ini.

Ini sebenarnya merupakan suatu bukti atau pelajaran bagi orang-orang Kristen agar tidak akan pernah percaya, terpancing, marah, atau tersinggung dengan isu-isu semacam itu. Apa yang semestinya dilakukan oleh orang-orang Kristen semestinya adalah tetap tekun mempelajari Kitab Suci mereka. Mengapa? Karena Alkitab adalah kebenaran dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar di dalam hidup manusia. Yesus berkata di Yohanes pasal 17 ayat 17:”…firman Tuhan adalah kebenaran.”

Dengan demikian, setiap apologis Kristen yang percaya kepada kuasa firman Tuhan tidak harus mengambil langkah atau tindakan yang tidak tepat atau tidak sesuai dalam merespon isu-isu yang demikian. Cukup membaca, memerhatikan dan menyelidiki Alkitab yang ada di rumah, maka mereka akan dapat menemukan jawabannya. Jika seseorang apologis bukanlah sejarahwan atau arkeolog, tentu ia tidak perlu mengunjungi tempat-tempat atau lokasi-lokasi tertentu untuk mengadakan penelitian sejarah atau arkeologi. Mengapa? Karena Alkitab sebenarnya cukup untuk menjawab isu-isu semacam itu. Mazmur pasal 19:8 berkata:”Taurat Tuhan itu sempurna”. Ibrani pasal 4 ayat 12 mengatakan:”…firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun,…ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Contohnya terhadap isu-isu yang men-diskreditkan Yesus, Alkitab dengan sangat jelas telah menubuatkan tentang kedatangan Yesus, kelahiran-Nya, kehidupan, pelayanan, kematian dan kebangkitan-Nya. Sehingga atas dasar itu, isu-isu apapun yang negatif, yang sensasionl yang seperti apapun tentang Yesus dapat dibuktikan kesalahannya oleh Alkitab, termasuk isu tentang Yesus yang pernah hijrah ke India atau menikah dengan Maria Magdalena. Itu jelas adalah kebohongan dan fitnah.

Seorang apologis memang tidak ada salahnya mengetahui atau mengenali teknik-teknik yang biasa dilakukan oleh orang-orang tertentu untuk memutarbalik atau mengubah haluan orang Kristen atau apologis sehingga tidak percaya kepada Alkitab. Menurut saya ada 4 (empat) teknik yang biasanya digunakan oleh orang-orang seperti mereka.

Teknik yang pertama adalah menghina atau mengejek. Ini biasanya dilakukan terhadap seorang apologis yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Mereka mungkin akan mengamati dan memerhatikan apa yang dapat dijadikan senjata untuk menjatuhkan seorang apologis tersebut. Apakah itu soal penampilannya, caranya berbicara atau menyampaikan jawaban, atau mengenai apa yang sedang atau baru saja ia sampaikan.

Teknik yang serupa juga digunakan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terhadap Yesus. Mereka menghina, mengejek Dia, menyebut-Nya sebagai penghujat, mitra Belzebul, dan sebagainya. Tetapi mereka tidak pernah berhasil. Mengapa? Karena Yesus menjawab mereka dengan Kitab Suci yang kuat dan penuh kuasa. Ia seringkali menjawab dengan cara melontarkan pertanyaan seperti ini:”Tidakkah engkau baca?”, “Bukankah ada tertulis?” dan semacamnya. Ini menunjukkan saya dua hal penting. Yang pertama adalah bahwa Kitab Suci adalah kuasa Tuhan. Dan yang kedua adalah bahwa Yesus memberikan teladan kepada orang-orang Kristen untuk menjawab dengan Alkitab meskipun sebenarnya Ia sendiri adalah Firman yang hidup (band. Yoh 1:1, 14). Ia dapat menyatakan sesuatu dan sesuatu itu adalah firman.

Teknik yang kedua adalah dengan cara memuji. Ini sangat berbeda dan bertolak belakang dengan teknik yang pertama. Jika teknik yang pertama digunakan terhadap seorang apologis yang percaya diri, maka teknik yang kedua adalah terhadap apologis yang kurang percaya diri. Dengan menggunakan teknik ini diharapkan apologis tadi dapat dimenangkan hatinya, kemudian dirangkul menjadi teman sehingga meskipun mungkin tidak menjadi pendukung utama, tetapi setidaknya sudah tidak terlalu serius atau sungguh-sungguh bahkan mungkin akan menjadi kompromis terhadap kebenaran.

Teknik yang ketiga adalah repetisi. Repetisi bukan saja dilakukan oleh orang-orang sekuler, tetapi juga orang-orang yang relijius dan orang-orang Kristen pun melakukannya. Repetisi sangat berguna dan menguntungkan jika dilakukan terhadap ajaran atau doktrin yang Alkitabiah, sebaliknya tidak demikian terhadap yang tidak Alkitabiah. Contohnya, iklan produk-produk di media seperti televisi, internet, radio, surat kabar, billboard, dan sebagainya biasanya dilakukan dengan teknik repetisi yaitu mengkomunikasikan atau mengeksposnya berulang-ulang kali. Dengan demikian diharapkan orang-orang yang melihat, mendengar atau memerhatikan iklan tersebut akan tahu, mengingat, percaya dan yakin kepada produk yang diiklankan tersebut. Bahkan lebih dari itu mereka mungkin akan nge-fans atau ‘fanatik’ terhadap apa, siapa atau bagaimana produk itu diiklankan. Akibatnya, tidak sedikit orang di masa kini yang terjebak dan terperangkap di dalam materialisme dan konsumerisme. Lukas 11:28 berkata:”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya”. Bukan yang materialis atau yang konsumeris. Jika demikian, salahkah mengiklankan produk? Tentu saja tidak. Tetapi, setiap orang perlu mengetahui dan menyadari seperti apakah sejatinya iklan-iklan tersebut secara umum yaitu bahwa ia biasanya tidak akan mengkomunikasikan kekurangan, kelemahan, efek samping, resiko atau dampak negatif dari produk-produknya.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen semestinya juga sangat familiar dengan repetisi terhadap Alkitab. Baca dan perhatikanlah Ulangan pasal 6:6-8 dan Ibrani 1:1 berikut ini:

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. (Ulangan 6:6-8)

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. (Ibrani 1:1-2)

Bedanya, semua produk tanpa kecuali adalah fana tetapi firman Tuhan yang tertulis di Alkitab adalah kekal selamanya (band. Luk 21:32; 1 Pet 1:24-25; Mzm 119:89). Sekarang tergantung tiap-tiap orang apakah ia akan percaya kepada Alkitab atau tidak? Setiap orang mempunyai banyak pilihan di dalam hidupnya. Apakah yang ia inginkan? Apakah yang ia percayai atau yakini? Apakah yang akan ia jadikan sebagai panduan hidupnya? Apakah ia mau mengikut Yesus atau orang seperti Hitler? Seseorang mungkin menyatakan bahwa ia tidak mau percaya kepada apapun atau kepada siapapun? Bukankah itu juga berarti pilihan. Sesuatu semacam kepercayaan atau keyakinan dalam bentuk yang berbeda yaitu bahwa ia tidak percaya kepada apa atau siapapun tetapi dirinya sendiri? Dengan kata lain, setiap manusia pasti akan percaya dan memilih sesuatu di dalam hidupnya, entahkah itu Tuhan atau yang lain.

Teknik yang keempat adalah dengan menggunakan public figure. Caranya adalah dengan mengekspos pernyataan atau testimony dari orang-orang terkenal, selebritis, yang mempunyai banyak fans atau audiens di dunia atau masyarakat luas yang berpotensi memutarbalikkan atau mengubah haluan orang-orang Kristen atau apologis. Orang-orang tertentu mempunyai potensi untuk melakukan hal semacam ini dan dapat memengaruhi banyak orang secara emosional.

Terlepas benar atau tidak tayangan-tayangan video di internet, YouTube, saya mengakui pernah merasa down dan kecewa terhadap pernyataan-pernyataan pendeta dan penginjil besar seperti Billy Graham dan Robert Schuller. Secara eksplisit, mereka menyatakan bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan. Benarkah? Tidak. Alkitab selalu mempunyai jawaban dan dapat menjaga dan memertahankan dirinya. Galatia pasal 1 ayat 8 berkata tentang orang-orang seperti ini:

”Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.”



Copyright (c) 2009 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Senin, 24 Agustus 2009

Minggu, 23 Agustus 2009

LIMA PENYEBAB SALAH INTERPRETASI

Ada lima hal menurut saya yang mengakibatkan kesalahan di dalam menginterpretasikan Alkitab. Yang pertama adalah subjektifitas. Subjektifitas biasanya timbul di dalam diri seseorang yang sudah mempunyai pemikiran, kepercayaan atau keyakinan sendiri sebelum mengadakan studi yang komprehensif terhadap Alkitab. Orang yang subjektif menggunakan ayat-ayat Alkitab tertentu untuk mendukung pemikiran, kepercayaan, atau keyakinannya tersebut.

Salah satu akibat dari sujektifitas adalah bias. Bias dapat timbul atau terjadi di dalam diri seseorang yang sebelumnya sudah mempunyai pengalaman tertentu, yang mengakar kuat di dalam diri seseorang, yang traumatis atau semacamnya. Contohnya, seseorang yang dibesarkan di tengah lingkungan yang permisif, yang biasanya tidak menghormati otoritas akan sangat sukar menerima Alkitab yang otoritatif terhadap dirinya. Akibatnya, orang-orang yang demikian akan cenderung menyukai ayat-ayat tertentu yang tidak bersifat menegur atau yang imperatif. Ditambah lagi, Alkitab juga mengandung informasi tentang penghakiman dan neraka. Sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang seperti dicontohkan tadi.

Tidak heran mengapa ada terdapat kelompok atau ajaran Kristen tertentu yang tidak percaya atau tidak menerima ajaran atau pesan bahwa penghakiman dan neraka itu adalah benar dan sungguh ada. Pengikut-pengikut ajaran seperti itu mungkin juga adalah orang-orang yang serupa, yang biasanya tidak menghormati otoritas, menentang disiplin, dan menolak tanggung jawab (band. Ibrani 4:12-13).

Padahal, Alkitab mengandung 2 (dua) jenis pesan yang sangat jelas. Pertama yaitu pesan keselamatan (Sorga) dan yang kedua adalah pesan penghakiman (Neraka). Yang pertama adalah bagi orang yang percaya, sedangkan yang kedua adalah bagi yang tidak percaya. Berikut di bawah ini adalah contoh ayat-ayat yang berkaitan dengan hal tersebut.

Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (Markus 16:16)

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian? (2 Korintus 2:15-16)

Paulus sendiri melontarkan pertanyaan:”…siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” Artinya tugas pemberita firman sesungguhnya merupakan tugas yang sangat menantang dan sangat beresiko terhadap pemberitanya. Mengapa? Karena ia menyampaikan bukan saja kabar baik bagi tetapi juga pesan atau berita tentang penghakiman bagi orang yang tidak percaya.

Yohanes pasal 16 ayat yang ke 8 mengatakan bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Dialah juga yang menghasilkan Alkitab yang dituliskan oleh nabi-nabi dan rasul-rasul (band. 2 Petrus 1:20-21). Dengan kata lain, baik Roh Kudus maupun Alkitab mengandung pesan tidak berbeda, tidak bertentangan atau tidak bertolak belakang yang salah satu pesannya adalah penghakiman atau neraka.

Yang kedua adalah sentimentalitas. Sentimentalitas juga adalah salah satu hal yang berpotensi menghasilkan bias di dalam interpretasi seseorang terhadap Alkitab. Orang-orang Kristen yang lahir di tengah budaya yang sungkan terhadap orang lain akan sangat sukar atau bergumul di dalam merespon atau menerima ayat-ayat tertentu yang mengandung nasihat untuk mengoreksi, menasihati atau menegur orang lain. Apalagi, salah satu manfaat Alkitab adalah untuk mengoreksi dan menyatakan kesalahan bukan saja diri sendiri tetapi juga orang lain.

Tokoh-tokoh Alkitab seperti para nabi dan para rasul adalah orang-orang yang mengalami resiko berupa ejekan, hinaan bahkan penganiayaan karena berita yang mereka bawa dan sampaikan. Semua itu tentunya tidak akan pernah terjadi jika mereka hanya membawa pesan atau berita tentang kedamaian atau tentang Sorga saja. Yohanes Pembaptis misalnya, hidupnya di dunia berakhir dengan kepala yang dipenggal dan disajikan di atas talam. Saya merasa tidak perlu menjelaskan lebih lanjut kepada Anda tentang bagaimana atau seperti apa Yohanes Pembaptis menyampaikan khotbahnya di padang gurun. Anda pasti sudah mengetahui dan familiar tentang suaranya yang keras dan khotbahnya yang lantang. Yesus Kristus pun bukanlah orang yang sentimental meskipun Ia adalah pribadi yang penuh kasih. Ia menegur keras agamawan yang munafik, yang kurang ajar, orang-orang yang tidak percaya, atau yang hanya berupaya memenuhi kebutuhan jasmani dan bukan rohani.

Yang ketiga adalah rasionalisme. Rasionalisme dapat menjadi penyebab timbulnya kesalahan di dalam menginterpretasikan Alkitab meskipun sesungguhnya kitab tersebut adalah kitab yang rasional. Hal-hal atau bagian-bagian tertentu yang ada terdapat di dalamnya yang mungkin sulit atau sukar dicerna atau diartikan secara rasio oleh manusia sesungguhnya bukanlah berada di bawah level rasio manusia atau irasional, tetapi sebaliknya berada di atas rasio manusia atau biasa disebut dengan supra rasio. Contohnya tentang penciptaan langit dan bumi di dalam waktu enam hari, dari yang tidak ada menjadi ada. Selain itu tentang kebangkitan dari mati, tentang kenaikan, tentang surga, neraka, tentang trinitas, tentang inkarnasi, dan lain-lain.

Rasionalisme dapat mengakibatkan orang-orang Kristen tertentu menetapkan doktrin sendiri yang berbeda dari pesan atau pengertian asli Alkitab, sehingga, lahirlah aliran atau kelompok yang baru yang biasa disebut dengan sekte atau cult. Sekte atau cult tertentu tidak percaya tentang eksistensi neraka, tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu dari tiga pribadi Tuhan, dan tidak percaya tentang kebangkitan dari mati.

Yang ke-empat adalah lack of study atau kurangnya studi atau pendalaman Alkitab. Seseorang mungkin saja mengutip satu atau dua ayat di dalam Alkitab, kemudian memercayai dan meyakininya, lalu melakukan, menerapkan atau mengimplementasikannya. Padahal, mungkin saja bahwa satu dua ayat yang dikutipnya itu belumlah lengkap tanpa ayat-ayat yang lain yang juga disebutkan oleh Alkitab. Contoh yang paling mudah atau sering ditemukan di dalam kehidupan Kristen adalah interpretasi terhadap Yohanes 3:16 yang mengatakan:”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Orang Kristen yang tidak membaca Lukas 13:3,5 akan menyimpulkan “percaya saja sudah cukup” atau “yang penting percaya”. Sebaliknya, orang Kristen yang mengadakan studi dengan teliti dan rajin akan mengerti bahwa percaya yang dimaksud oleh Yohanes 3:16 berarti juga adalah bertobat seperti yang disebutkan oleh Lukas 13:3,5.

Yang kelima adalah dosa. Roma 1:25 mengatakan:”Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya,…” Dosa adalah penyebab mengapa manusia tidak menerima dan menolak kebenaran yaitu dengan cara menggeser dan menggantikannya dengan yang lain. Itu bisa saja merupakan ritual atau tindakan relijius yang mungkin tampaknya sangat sungguh-sungguh dan mempesona. Tetapi sesuai kitab Roma pasal 10 ayat 1 dan 2, kesungguhan bukanlah acuan atau patokan bahwa seseorang akan dinilai atau dipandang benar oleh Tuhan atau dapat diterima oleh-Nya melainkan apakah orang tersebut mempunyai pengertian yang benar. Interpretasi atau pengertian yang benar adalah awal atau dasar yang mutlak dan penting sebelum seseorang melakukan semua tindakan atau perbuatan-perbuatan spiritual atau rohaninya.

Saya ulangi sekali lagi secara ringkas, lima hal yang menyebabkan salah interpretasi adalah subjektifitas, sentimentalitas, rasionalisme, lack of study, dan yang kelima adalah dosa. Lima hal ini dapat berhubungan atau saling kait-mengkait antara satu dengan yang lain.



Copyright (c) 2009 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Kamis, 20 Agustus 2009

HARYSON BAPTISM DAY



HARYSON BAPTISM DAY
Suyanto & Dian Residence
Wed, Aug 19, 2009
Jakarta Pusat & Harapan Indah Bekasi
Married Ministry

Rabu, 19 Agustus 2009

APOLOGETIK (Bagian 2)

Salah satu bagian dari apologetic adalah bersifat sejarah atau biasa disebut dengan historical apologetic. Artinya adalah penjagaan, pertahanan atau pembelaan terhadap Alkitab yang berkaitan dengan sejarah. Misalnya, tentang evidensi Kristus, tentang sejarah kitab-kitab, tahun, penanggalan, penggalian, arkeologi, dan tentang peneguhan waktu atau catatan sejarah di Alkitab.

Semua upaya berupa observasi, riset, penelitian, atau analisa terhadap fakta atau data yang ada atau yang ditemukan melalui eksplorasi atau discovery bertujuan untuk menjaga, memertahankan atau membela Alkitab. Contoh yang populer hingga saat ini adalah penemuan bukti sejarah mengenai kisah Nuh, bahtera dan air bah. Selain itu ada juga penemuan manuskrip Qumran, peninggalan-peninggalan sejarah seperti tembok ratapan, Via Dolorosa, dan sejumlah lokasi di Palestina dan Timur Tengah yang disebutkan oleh Alkitab.

Di masa kini, sudah banyak penyedia jasa tur wisata yang menawarkan paket perjalanan dan wisata untuk dapat melihat bukti-bukti atau peninggalan sejarah di Alkitab seperti sungai Yordan, bukit Golgota, dan sejumlah tempat-tempat sejarah lainnya. Ini menunjukkan atau membuktikan bahwa Alkitab memiliki dukungan yang kuat secara historical berupa bukti-bukti dan peninggalan-peninggalan sejarah.

Tetapi, meskipun historical apologetic memberikan kontribusi atau dukungan terhadap sejarah di Alkitab secara histories, menurut saya, itu saja tidaklah cukup untuk membawa atau mengantarkan seseorang untuk menjadi seorang Kristen atau murid Kristus yang sejati. Orang-orang Kristen memang patut berterima kasih terhadap historical apologetic tetapi jangan berpuas diri atau berhenti sampai di sana. Sebaliknya, mereka harus melanjutkan studi terhadap tulisan, konten, pesan, atau prinsip-prinsip yang ada di dalam Alkitab. Sehingga dengan demikian, barulah seseorang akan menjadi Kristen atau murid Kristus yang sejati.

Seorang Kristen yang sejati haruslah sadar dan yakin bahwa Alkitab adalah lengkap dan sempurna. Ia tidak berdusta dan tidak salah di dalam setiap kata atau tulisannya. Alkitab adalah kitab atau tulisan yang berani dan terang-terangan meng-klaim bahwa ia adalah murni, lengkap dan sempurna. Baca dan perhatikanlah dua kutipan ayat berikut di bawah ini:

Taurat Tuhan itu sempurna…(Mazmur 19:8)

Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung padaNya. Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta. (Amsal 30:5-6)


Klaim ini hanya punya dua kemungkinan. Ia benar atau dusta, itu saja. Tidak ada yang lain. Jika ia tidak benar berarti dusta. Jika ia bukan dusta atau bohong, berarti ia benar. Yesus secara jelas dan terang-terangan menyatakan bahwa Ia adalah kebenaran dan firmanNya adalah benar. Setiap kali ia mengajar, menjawab atau menjelaskan sesuatu kepada siapa saja termasuk iblis, ia merujuk dan mengutip Kitab Suci Perjanjian Lama. Kelahiran, kehidupan, pelayanan dan kebangkitanNya adalah bukti bahwa Ia bukan pembohong. Iblislah yang adalah pembohong dan bapa segala dusta.

Bagaimana dengan Kitab Perjanjian Baru? Bagi saya, itu lebih mudah dijelaskan. Mereka jelas-jelas telah menerima Roh Kudus di hari Pentakosta sesuai dengan janji yang telah disampaikan oleh Yesus. Sejak saat itu, kuasa dan kerja Roh Kudus sangat kelihatan termasuk di dalam menghasilkan tulisan-tulisan Kitab Suci. Sekian waktu setelahnya, bapa-bapa gereja menentukan kanon berdasarkan penulis yang adalah rasul dan mitra langsung dari rasul tersebut. Contohnya, rasul Paulus, Markus dan Lukas. Tulisan, isi, konten atau pesan yang disampaikan oleh kitab-kitab yang termasuk di dalam kanon tersebut pun tidak bertentangan tetapi saling mendukung atau menjelaskan. Dengan kata lain, Alkitab menjelaskan Alkitab.

Fakta ini semestinya mencengangkan dan mengherankan kita karena kitab-kitab yang ditulis oleh 40 orang di waktu, tempat, dan latar belakang yang berbeda dapat menghasilkan pesan yang singkron, tidak bertentangan, bahkan saling mendukung dan menjelaskan satu sama lain. Sesuatu yang tidak pernah dan tidak akan pernah lagi terjadi di dalam sejarah manusia. Ini menunjukkan atau membuktikan bahwa Tuhanlah yang ada dibalik semua itu. Dia-lah yang mengerjakannya, sedangkan para nabi dan rasul hanyalah alat atau mediaNya saja.

Jika kita menilai atau menyatakan bahwa Alkitab adalah benar sebagian saja, maka kita akan mengalami banyak masalah setelahnya. Apakah maksud saya? Maksud saya adalah setelah kita menyatakan demikian, maka kemudian kita pun secara otomatis dihadapkan kepada pertanyaan, bagian mana di Alkitab yang benar dan bagian mana yang salah?

Satu dasar penting untuk percaya bahwa Alkitab murni, lengkap dan sempurna adalah bahwa ia sesungguhnya tidak dihasilkan oleh manusia tetapi oleh Roh Kudus. Di 2 Tim 3:16 disebutkan bahwa tulisan Kitab Suci itu diilhamkan oleh Allah, atau nafas atau di-nafaskan Allah (menurut naskah Yunani).

Memang, yang menuliskan Alkitab adalah manusia tetapi mereka hanyalah alat atau media saja, sedangkan kata-kata yang mereka tuliskan berasal dari Allah. Kebenaran akan hal ini dijelaskan di dalam kisah-kisah para nabi ketika Tuhan sedang atau baru saja akan mengutus mereka. Contohnya, ketika Tuhan mengutus nabi Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir, Musa merespon dengan mengatakan bahwa ia tidak pandai berkata-kata, tetapi Tuhan mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan berbicara atau berkata-kata sedangkan Musa menyampaikan saja. Contoh yang lain adalah Yehezkiel dan Yeremia, Tuhan menaruh perkataan-perkataanNya ke dalam mulut mereka, dan mereka menyampaikannya.

Jadi, jelas bahwa lingkup kemurnian, kelengkapan dan kesempurnaan Alkitab mencakup sampai kepada kata-katanya bukan hanya pikiran, ide, atau konsepnya saja. Karena, bagaimana mungkin pikiran, ide atau konsep dapat disampaikan tanpa kata-kata? Jadi, seseorang akan terjebak di dalam kesalahan ketika menyatakan bahwa hanya pikiran, ide atau konsepnya saja yang murni dan sempurna. Jika, kata-katanya tidak murni dan sempurna, maka itu akan berarti bahwa pikiran, ide atau konsepnya pun tidak sempurna.

Anggapan, penilaian atau kesimpulan yang menyatakan bahwa Alkitab tidak lengkap juga akan berbahaya bagi orang Kristen. Mengapa? Karena jika orang Kristen menganggap atau menilai bahwa Alkitab tidak atau belum lengkap, itu berarti bahwa masih akan ada wahyu, nubuat atau penyataan yang lain, yang baru dari Allah di masa depan. Ini terjadi di dunia kekristenan yang nyata jelas mengacaukan dan membingungkan.

Ada orang-orang Kristen tertentu yang percaya dan mengekspos bahwa mereka masih menerima wahyu, nubuat, atau pun penglihatan bahkan dalam frekuensi yang cukup sering. Kepercayaan atau keyakinan seperti ini sebenarnya disadari atau tidak merupakan sikap yang tidak menghormati bahkan berpotensi menggeser atau menggantikan Alkitab. Di samping itu ia pun nantinya dapat memutar arah haluan orang-orang Kristen dari menuju Tuhan dan kebenaranNya kepada sesuatu yang lain, yang berbeda, dan itu tidak lain dan tidak bukan adalah dusta dan kebohongan, di mana iblis adalah dalang di balik semuanya.

Bukankah Alkitab sudah lengkap dan selesai ditulis? Itu berarti bahwa kita tidak perlu menambah atau menguranginya seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat berikut di bawah ini:

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. (1 Korintus 13:8-10)

…:”Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)



Copyright (c) 2009 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/