Minggu, 31 Mei 2009

PERNIKAHAN DAN PERCERAIAN

Bacaan: Mat 19:3-6

19:3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"
19:4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Terlepas dari banyaknya kasus atau pertanyaan orang tentang perceraian atau pernikahan kembali, ada terdapat 4 (empat) alasan yang diberikan oleh Yesus tentang mengapa seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya atau menikah lagi dengan wanita lain.

4 (empat) alasan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sejak awal, Allah telah menciptakan satu orang pria yaitu Adam dan satu orang wanita yaitu Hawa. Tidak ada pilihan, tidak ada alternatif dan tidak ada cadangan.
2. Sepasang suami isteri mempunyai ikatan yang sangat kuat satu sama lain.
3. Sepasang suami isteri adalah satu daging.
4. Pernikahan adalah rancangan Tuhan, pekerjaan dan mujizat Tuhan. Terlepas dari apa agama atau keyakinan seseorang.

Ke-empat alasan tadi semestinya dapat dijadikan dasar atau alasan oleh sepasang suami isteri agar tidak bercerai atau menikah lagi. Apalagi jika konflik atau permasalahan yang dihadapi hanya seputar komunikasi yang kurang cocok atau hubungan yang kurang harmonis. Dengan kata-kata lain, ada 4 alasan yang lebih kuat untuk mempertahankan pernikahan lebih dari alasan-alasan untuk bercerai.

Memang, Yesus juga menyebutkan satu hal yang dapat dijadikan alasan untuk bercerai yaitu perzinahan. Namun, jika seorang suami tetap mau setia terhadap isteri yang jatuh ke dalam perzinahan, itu adalah pilihan yang mulia. Pilihan yang menunjukkan belas kasihan dan pengampunan yang sangat besar terhadap isteri yang berdosa. Pilihan yang sama seperti yang telah dilakukan Tuhan terhadap kita yang berdosa. Ia mengasihi, mengampuni, dan berbelas kasihan terhadap kita.

Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di zaman Yesus, orang-orang Yahudi khususnya orang Farisi begitu mudah menceraikan isterinya. Mereka dapat menceraikan isterinya dengan alasan apa saja, setiap saat setiap waktu. Cukup dengan menerbitkan surat cerai, mereka pun dapat mengusir isteri mereka dari rumah. Entahkah dengan alasan yang sepele atau alasan yang dibuat-buat.

Jadi, situasi di zaman itu adalah situasi yang sangat merugikan bagi para wanita. Sebaliknya, situasi semacam itu melahirkan pria-pria pezinah, yang tidak setia dan tidak bertanggung jawab. Apalagi orang Farisi, mereka berpotensi menjadi petinggi-petinggi agama yang cabul dan munafik (band. Mat 23:14). Apa yang mereka tanyakan kepada Yesus sesungguhnya bukan untuk belajar atau berubah dari kebiasaan bercerai yang seringkali mereka lakukan. Melainkan, untuk mencobai Yesus sehingga terjebak ke dalam perangkap yang mereka siapkan.

Orang-orang Farisi sebenarnya ingin mengadu Yesus terhadap ketetapan para rabi Yahudi dan taurat Musa. Tetapi mereka tidak berhasil karena Yesus menjawab dengan dasar yang lebih kuat daripada Musa dan para rabi. Ia merujuk ke kitab Kejadian dan berkata kepada mereka: "Tidakkah engkau baca…" Betapa meyakinkannya jawaban Yesus tersebut. Di samping itu Ia pun mengejutkan orang-orang Farisi dengan menyadarkan bahwa jawaban atas pertanyaan yang memojokkan itu ternyata ada di halaman depan kitab Kejadian yaitu tentang Adam dan Hawa.

Perceraian atau pernikahan kembali yang terjadi saat ini sesungguhnya lebih bersifat masalah, konsekuensi atau akibat-akibat dari dosa-dosa manusia. Alkitab dengan jelas mengatakannya. Mari perhatikan kronologi tentang Adam dan Hawa berikut ini:
1. Hawa jatuh ke dalam dosa sebelum Adam.
2. Hawa mempengaruhi Adam sehingga jatuh ke dalam dosa. Hal ini menandakan adanya pergeseran siapa adalah pemimpin siapa.
3. Sejak jatuh ke dalam dosa, wanita mendapat kutukan. Selain merasakan sakit saat melahirkan, ia pun akan mempunyai keinginan untuk mengontrol atau memimpin (band. Kej 3:16).

Patut diakui bahwa pembahasan seputar cerai dan kawin lagi mempunyai kompleksitas yang super njelimet. Pernah satu kali saya terlibat diskusi yang kemudian berubah menjadi debat. Orang-orang yang terlibat diskusi kebetulan adalah orang-orang yang sedang mengalami masalah pernikahan yang serius. Di antara mereka ada yang sedang akan bercerai karena kekerasan dalam rumah tangga, ada yang sudah bercerai, ada pula yang berulang kali sudah bercerai. Ada yang akan menikah lagi, ada pula yang beristeri lima dan sedang galau dan kacau hidupnya.

Pada akhirnya, saya bertanya dalam hati, haruskah Tuhan menjawab kompleksitas yang super njelimet semacam ini? Haruskah Ia menyediakan setiap solusi terhadap hubungan kawin-cerai? Haruskah Ia menyediakan pilihan atau alternatif bagi setiap pasangan yang tidak dapat menerima nasihat? Atau, bukankah semestinya setiap pasangan pernikahan harus kembali kepada desain ideal dan original dari Allah yaitu satu pria, satu wanita, satu kesatuan, dan satu daging, keduanya tidak dapat terpisahkan. Jika Adam dan Hawa bercerai sejak dulu, bukankah taman Eden akan menjadi sangat sepi dan tentunya Alkitab akan berakhir di Kitab pertama saja, karena tidak ada keturunan manusia setelahnya.

Tujuan tulisan ini tidak sedang menawarkan solusi terhadap kompleksitas kawin cerai yang super njelimet, tetapi untuk menguatkan dan mengokohkan pernikahan-pernikahan yang ada, yang bahkan mungkin sedang berada di ambang perceraian.

Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Korintus berpendapat bahwa setiap pria atau wanita sebaiknya tetap di dalam keadaannya semula. Pasangan suami isteri hendaknya tetap setia satu terhadap yang lain. Ia berpendapat, jika seorang bujangan termasuk duda atau janda, memungkinkan untuk tetap hidup sendiri tanpa pasangan, karena tekadnya yang ingin melayani Tuhan dan terbebas dari beban pernikahan dan keluarga, biarlah hendaknya demikian. Tetapi, jika seorang pria atau wanita memungkinkan untuk menikah, dan tidak tahan bertarak, hendaklah mereka menikah dan jangan kawin cerai lagi, sebaliknya keduanya semestinya menjadi pasangan yang bersatu padu melayani dan memuliakan Tuhan seperti halnya Priskila dan Akwila.


Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Related Sermons (Get it FREE!):
Conflict Resolutions (Produced by BPH)
Ten Commandment on Marriages (Produced by BPH)
Jesus’ Teaching on Divorce (Produced by GTY)

Jumat, 29 Mei 2009

Kepada Pembaca dan Partner NMQT

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih,

Melalui surat ini, kami ingin menyapa Anda untuk berterima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan Anda selama ini kepada NMQT - baik secara moral, spiritual maupun finansial. Berkat Anda semua, maka NMQT dapat tetap terus setia melayani sejak satu tahun yang lalu hingga saat ini.

Dan kami bertekad untuk tetap terus setia menyampaikan firman-Nya karena kami menyadari betapa NMQT dapat bermanfaat bagi kerohanian dan juga menyemangati banyak orang. Sebagaimana tanggapan-tanggapan positif yang telah kami terima dari dalam maupun dari luar negeri. Baik secara lisan maupun secara tertulis.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih
, kami menyakini bahwa firman Tuhan-lah yang telah menggugah Anda melalui NMQT bukan hal-hal lain yang ada di sana. Karena kami sendiri berupaya sedapat mungkin menyampaikan-Nya sesederhana dan sejelas mungkin. Sehingga, pesan firman Tuhan dapat disampaikan kepada siapa saja dengan sebenar-benarnya dan semurni-murninya.

Karena kami pun percaya bahwa firman Tuhan adalah yang utama, vital dan mutlak demi perubahan, pertobatan dan pertumbuhan kerohanian Kristen. Sedangkan yang lain selain itu hanyalah faktor pendukung atau faktor pelengkap saja.

Atas dasar tersebut, NMQT mempunyai visi dan komitmen jangka panjang yaitu untuk menyampaikan firman yang sebenar-benarnya, semurni-murninya, sejelas-jelasnya dan seluas-luasnya bagi kemuliaan Tuhan.

Oleh karena itu, melalui surat ini, kami ingin mengajak Anda untuk turut berpartisipasi mendukung pelayanan NMQT.

Ada 3 (tiga) cara yang dapat Anda lakukan untuk mendukung pelayanan ini. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengirimkan tanggapan Anda terhadap NMQT ke letters.berean@gmail.com tentang apa yang Anda pelajari, yang membantu, menyemangati atau yang mengubahkan Anda secara pribadi.

2. Meng-informasi-kan kepada teman-teman, sahabat atau keluarga Anda tentang NMQT atau tentang pesan-pesan atau pelajaran-pelajaran nya yang ber-manfaat bagi Anda.

3. Men-support NMQT secara finansial melalui nomor rekening:
BCA 288 300 5031
a/ n Yayasan Gema Kristus Damai Indonesia.

Sebagai informasi bagi Anda, buku NMQT kini sedang dalam proses pengerjaan. Kami berharap dapat menyelesaikannya dalam waktu dekat dan menyusulnya dengan edisi-edisi selanjutnya kemudian secara kontinu di masa yang akan datang.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih, percayalah, bahwa kami tidak bertujuan untuk meraup keuntungan materi sebesar-besarnya melalui pelayanan ini melainkan perluasan dan pelebaran jangkauan yang lebih jauh dan besar sehingga dapat menyampaikan pesan firman-Nya. Dan itu semua hanya demi kemuliaan-Nya semata-mata.

Demikian surat ini, atas perhatian dan kerjasamanya (sekali lagi) kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Dari Saudara dan Partner Anda di dalam Kristus,



Naek






BERBAHAGIALAH YANG LEMAH LEMBUT (Bagian 2)

Seperti yang telah disimpulkan, lemah lembut adalah kekuatan yang terkontrol atau terkendali. Kualitas seperti ini juga digambarkan melalui hidup tokoh-tokoh Perjanjian Lama seperti Abraham, Yusuf, Daud, dan lain-lain. Abraham tidak marah dan tidak bersikap sok kuasa terhadap Lot, meskipun hal tersebut sepertinya wajar-wajar saja jika ia melakukannya. Ia dapat berkata kepada Lot: "Lot, saya yang membawa kamu ke tanah Kanaan, seharusnya kamu tahu diri. Tuhan yang membawa saya ke tempat ini, dan saya adalah orang pilihan-Nya. Sedangkan kamu, siapa? Kamu bukan siapa-siapa? Kamu mengerti?"

Nyatanya, Abraham tidak mengindikasikan kemarahan sedikit pun. Tidak ada nada suara yang sombong, angkuh atau sok kuasa, meskipun, mungkin Lot dapat mengerti jika ia bersikap demikian terhadapnya. Tetapi, apa yang ia katakan kepada Lot. Baca dan simaklah apa yang dikatakannya berikut ini:

Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri. (Kej 13:8-9)

Dengan kata-kata lain, Abraham sesungguhnya punya banyak alasan atau dasar untuk marah terhadap Lot, tetapi, ia tidak melakukannya. Ia yang membawa Lot ke tanah Kanaan. Ia lah yang semestinya paling berhak atas tanah tersebut. Di samping itu, ia pun adalah pilihan Tuhan yang membawa nya ke sana. Tetapi, Abraham tidak marah, tidak sombong, dan tidak sok kuasa terhadap Lot. Ia mempunyai potensi, kekuatan dan otoritas yang terkontrol dan terkendali.

Demikian pula halnya dengan Yusuf, terhadap saudara-saudara nya yang kasar dan licik, yang telah menjualnya kepada pedagang budak, ia tidak membalas dendam. Ia justru bertanya tentang keadaan adiknya yaitu Benyamin. Dan bukan itu saja, ia juga menampung saudara-saudara nya yang jahat dan tidak mengasihi itu, tinggal di rumahnya. Padahal, ia punya banyak alasan untuk marah terhadap saudara-saudaranya tersebut. Mereka telah berbuat salah terhadapnya dan ia pun mempunyai power dan kesempatan untuk membalas dendam. Setidaknya memberi sedikit pelajaran sehingga mereka menderita dan akhirnya menyesal terhadap apa yang telah mereka lakukan. Tetapi, apakah ia melakukannya? Tidak.

Daud pun tidak berbeda dengan Abraham atau Yusuf. Walaupun ia telah diurapi menjadi raja menggantikan Saul, ia tidak serta merta menghabisi nyawa Saul. Padahal, ia punya alasan yang tampaknya sangat beralasan untuk membunuh raja pertama Israel tersebut. Pertama, Saul telah berulang kali berusaha membunuhnya. Kedua, ia telah dipilih Tuhan untuk menjadi raja melalui Samuel. Ketiga, Daud mempunyai kesempatan dan momen yang tepat untuk melakukannya di gua Adulam, yaitu saat Saul sedang sendiri dan membuang hajat di sana. Di tambah lagi, Daud juga ditemani teman-teman yang siap membantu dan mendukungnya. Tetapi, apakah Daud melakukannya? Tidak.

Alkitab berkata di Amsal 16:32: Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Artinya, orang yang sabar atau yang menguasai diri, dinilai mempunyai tingkat kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang hanya sekadar punya potensi kekuatan yang besar, tetapi tidak dapat menguasai diri atau mengendalikannya.

Kelemah lembutan bukan lah kelemahan melainkan kekuatan. Ia bukan suara pelan, rendah, sayup-sayup, yang hampir tak terdengar. Ia adalah kualitas rohani yang ada di dalam diri seseorang (band. 1 Pet 3:4).

Orang yang lemah lembut adalah orang yang dapat meredakan kegeraman (band. Amsal 15:1: Titus 3:2). Ia pun dapat menerima nasihat, koreksi atau teguran firman Tuhan dengan sangat efektif (band. Yak 1:21).

Kelemah lembutan adalah kualitas yang wajib dimiliki oleh setiap pemimpin Kristen. Mereka harus memimpin dengan lemah lembut sehingga dapat menuntun orang lain termasuk yang suka melawan, dan dapat memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan mengenal kebenaran (Gal 6:1; 2 Tim 2:25: 1 Pet 3:15).

Yesus, Paulus, Petrus dan rasul-rasul yang lain adalah pribadi yang lemah lembut (Zak 9:9, Mat 11:29, Mat 21:5, 2 Kor 4:21, 2 Kor 10:1). Anda dan saya pun semestinya juga demikian (band. Ef 4:2).



Referensi: Wikipedia; PASH Matius oleh DR. William Barclay - Penerbit BPK Gunung Mulia; Audio Sermon Grace to You - Happy are the Poor in Spirit by Mac Arthur, John; Audio Sermon Berean Publication House - Seri Khotbah di Bukit oleh Pdt. Harliem Salim

Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Rabu, 27 Mei 2009

BERBAHAGIALAH YANG LEMAH LEMBUT

Kemarahan bukanlah hal yang asing bagi setiap orang. Banyak orang berpendapat bahwa kemarahan adalah hal yang wajar. Apalagi ketika disakiti atau dirugikan oleh orang lain. Kemarahan dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja. Di jalan, saat orang menyalib kendaraan Anda dan mengagetkan Anda. Di rumah, saat Anda tengah mempersiapkan diri ke kantor, Anda tidak menemukan kunci mobil, sisir, atau kaos kaki di tempat yang biasa. Anda mencari ke sana kemari, tetapi Anda tidak menemukannya. Dalam pernikahan, Anda mungkin tidak mendapat respon seperti yang Anda inginkan. Anda mendapatkan sikap ketus atau bisu yang mengintimidasi. Kemarahan dapat dijelaskan melalui berbagai peristiwa dan keadaan. Oleh siapa saja dan kapan saja. Saya yakin, Anda mempunyai banyak cerita tentang kemarahan Anda atau kemarahan orang lain yang pernah Anda saksikan.

Patrick Morley, penulis buku MAN IN THE MIRROR mengkategorikan kemarahan dalam 3 (tiga) bentuk atau jenis. Pertama, kemarahan yang ditinjau dari frekwensi nya, sangat amat jarang terjadi, tetapi, ketika kemarahan itu terjadi, ia seperti ledakan bom yang eksplosif – besar, kuat dan tidak terkendali. Kedua, kemarahan yang ditinjau dari frekwensi nya sangat amat sering terjadi, tetapi, kekuatan atau intensitasnya relatif kecil. Banyak orang biasanya menyebutnya dengan istilah "cerewet". Kemarahan yang ketiga adalah kemarahan yang sangat amat jarang terjadi, karena ia tersimpan, tersembunyi dan terpendam sangat dalam di dalam diri seseorang. Kita biasanya menyebutnya jenis ini dengan istilah "dendam".

Timbul pertanyaan, salahkah jika seseorang marah, baik terhadap situasi atau terhadap orang lain? Bukankah kemarahan adalah hal yang wajar dan manusiawi? Atau sebaliknya, baik-kah atau benarkah jika seseorang tidak pernah marah? Dapatkah ia disebut sebagai orang yang normal atau manusiawi?

Alkitab berkata:"Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi (band. Mat 5:6)". Kata lemah lembut dalam bahasa Yunani disebut dengan "praus". Praus biasa digunakan untuk mengartikan atau menggambarkan tentang binatang liar yang telah menjadi jinak. Dengan kata lain, kata praus mengandung arti tentang potensi kekuatan yang terkendali atau terkontrol di dalam diri atau pribadi seseorang. Jadi, lemah lembut bukan berarti lemah, tidak berdaya, atau pengecut, melainkan kuat, handal dan tangguh tetapi penuh dengan penguasaan diri.

Sebagai contoh yang sempuna, perhatikanlah Yesus. Ia tidak kesal ketika orang-orang Farisi mengintimidasi-Nya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Ia tidak marah atau mendendam ketika Ia hendak dibunuh bahkan ketika Ia disalib, Ia berkata Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tetapi, apakah itu berarti bahwa Yesus tidak bisa marah? Tidak. Ingatkah Anda tentang peristiwa Bait Suci yang dibersihkan oleh Yesus? Apakah yang Yesus lakukan? Ia menjalin tali dan membuat cambuk. Ia membalikkan meja-meja, melepaskan hewan atau ternak yang diperjual belikan di Bait Suci. Ia mengusir dan membubarkan aktifitas pebisnis liar yang mengatasnamakan Tuhan dan korban persembahan.

Sebenarnya, apa yang sedang terjadi saat itu? TUHAN sedang direndahkan. Ia tidak dihormati tetapi disakiti dan dikecewakan. Dengan cara apa? Dengan cara menjual hewan korban dengan tarif yang tidak masuk akal termasuk kepada orang-orang yang miskin dan tidak sanggup membelinya. Orang yang hendak mempersembahkan korban dikenai tarif yang sangat amat mahal dan berlipat kali ganda. Belum lagi, tentang pendatang yang harus menukarkan uang untuk mempersembahkan korban. Mereka bukan mendapatkan kemudahan melainkan nilai tukar yang sangat menekan. Waktu itulah Yesus marah, tetapi selain itu tidak.

Anda mungkin telah mengerti sampai di sini. Yesus tidak marah ketika orang mengintimidasi-Nya, hendak membunuh-Nya, bahkan ketika orang menganiaya dan menyalibkan-Nya. Tetapi, Ia marah ketika imam-imam menjadi korup dan tidak menjadi perantara yang baik bagi umat-Nya. Ia marah ketika imam-imam mempersulit bahkan menghalang-halangi umat-Nya beribadah demi kepentingan dan keuntungan pribadi atau kelompok.

Jika Yesus saja tidak marah, mengapa sebagai pengikut-Nya kita seringkali tidak seperti Dia. Kita sering marah karena merasa kurang dihormati, kurang dihargai, kurang diperhatikan, kurang diperlakukan dengan baik, kurang dipedulikan, dan sebagainya. Kita sering marah karena hal-hal yang tidak sesuai harapan, karena hal-hal yang tidak memenuhi ekspektasi kita. Tetapi, pernahkah kita marah seperti Yesus, dengan alasan-alasan yang sama seperti Dia? Pernahkah kita marah karena hal yang kena-mengena terhadap TUHAN bukan karena diri sendiri, karena kepentingan TUHAN bukan karena ego, urusan, privasi atau kepentingan pribadi? Pernahkah? Jika tidak, di manakah kesamaan kita dengan Yesus? Apakah yang ada di dalam diri kita yang serupa dengan-Nya?

Kemarahan tidak membawa kebahagiaan. Ia membuat orang merasakan sesak di dada, tidak tenang dan susah tidur. Sebaliknya, orang-orang yang lemah lembut dan menguasai diri terbebas dari rasa sakit hati, kesal, dendam, atau tersinggung. Orang Kristen yang lemah lembut adalah orang yang jauh di dalam hati dan pikiran nya sadar dan mengerti bahwa ia hanyalah seorang yang berdosa. Sesungguhnya, ia tidak layak untuk dihormati, dihargai, diperlakukan dengan baik, adil, dipuji, disanjung, apalagi disembah. Melainkan, TUHAN saja. Ya, TUHAN saja yang layak, saya pun tidak.


Referensi: Wikipedia; PASH Matius oleh DR. William Barclay - Penerbit BPK Gunung Mulia; Audio Sermon Grace to You - Happy are the Poor in Spirit by Mac Arthur, John; Audio Sermon Berean Publication House - Seri Khotbah di Bukit oleh Pdt. Harliem Salim

Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/


Senin, 25 Mei 2009

MANUSKRIP ALKITAB

Kekristenan tidak terpisahkan dari kegiatan “baca-tulis”. Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Di Kitab Ulangan pasal 6, disebutkan bahwa Tuhan memberikan perintah kepada orang tua khususnya ayah untuk menyampaikan firman Tuhan kepada anak-anaknya. Ia harus membacakan dan menuliskannya di setiap tempat, setiap keadaan dan setiap waktu.

Tuhan sendiri menunjukkan perhatian yang besar terhadap “baca-tulis”. Ia menuliskan ulang 10 perintah yang sama pada 2 (dua) loh batu yang pernah dipecahkan oleh Musa (band. Kej 34:1). Hal serupa pernah terjadi ketika raja memusnahkan firman Tuhan yang ditulis oleh Yeremia dan Barukh. Tuhan menyuruh Yeremia menuliskannya kembali sama persis seperti semula bahkan ditambah dengan penekanan terhadap pesan yang semula dituliskan.

Yesus pun demikian. Ia selalu merujuk kepada Kitab Suci. Ketika dicobai oleh Iblis di padang gurun, Ia mengutip ayat-ayat Kitab Suci dengan menyebutkan “ada tertulis…”. Di jalan menuju Emaus, Yesus menjelaskan Kitab Suci secara komprehensif, detil, rinci, dan sistematis kepada murid-murid-Nya (band. Luk 24:27,32). Di Bait Suci, Ia membaca Kitab Yesaya dan menjelaskannya. Di Kitab Kisah Para Rasul, ia menjelaskan tentang Kerajaan Allah yang tentunya juga merujuk atau mengacu kepada ayat-ayat Kitab Suci. Ia juga mengucapkan ungkapan-ungkapan seperti “tidak kah kamu baca…” yang menandakan bahwa ia membaca Kitab Suci dengan intensif dan konsisten.

Murid-murid Yesus adalah bukti intensitas Yesus terhadap “baca-tulis”. Petrus yang dulunya adalah seorang nelayan mampu berkhotbah dengan mengutip ayat-ayat dari Kitab Yoel. Rasul-rasul yang lain pun demikian, dapat mengajar dan menjelaskan nubuat-nubuat dan ayat-ayat dari Perjanjian Lama.

Jadi, sangat jelas bahwa kegiatan “baca-tulis” adalah bersumber atau berasal dari Tuhan. Itulah cara Dia menjaga atau melindungi pesan yang Ia sampaikan kepada manusia. Suatu cara yang memungkinkan pesan-Nya tetap sustain hingga saat ini.

Secara historis, kita dapat ketahui bagaimana kegiatan “baca-tulis” kitab-kitab PB berlangsung. Dimulai dari rasul-rasul yang menuliskan surat-surat kepada Jemaat atau orang-orang Kristen. Kemudian, surat-surat tersebut dibacakan dari jemaat yang satu ke jemaat yang lain. Tetapi, sebelum mengirimkannya ke jemaat yang lain, surat-surat tersebut disalin ulang sama persis seperti aslinya, lalu di-forward ke jemaat-jemaat lain yang belum membacanya. Inilah sebabnya mengapa surat-surat tersebut masih tetap bertahan hingga saat ini bahkan jumlahnya pun bukan satu tetapi rangkap. Salinan surat-surat semacam inilah yang kemudian disebut dengan istilah Codex. Sebagai gambarannya di zaman ini, codex adalah sama seperti dokumen hasil photo copy terhadap dokumen asli yang berlipat ganda jumlahnya.

Hal serupa dilakukan oleh orang-orang Esene yaitu menyalin tulisan-tulisan Kitab Suci yang kita kenal sebagai naskah Dead Sea Scroll. Naskah-naskah tersebut tersimpan rapi dan utuh di dalam perpustakaan mereka sehingga kita pun dapat membaca, mengerti dan memperoleh manfaatnya hingga saat ini.

Selain orang-orang tersebut, ada pula orang-orang Berea yang dinilai Alkitab sebagai orang-orang punya hati yang lebih baik. Mereka menerima firman dengan segala kerelaan hati dan menyelidiki Kitab Suci setiap hari. Kegiatan tersebut mereka lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pesan yang murni dan jelas dari Tuhan. Dengan demikian, orang-orang seperti itu akan terhindar dari pesan yang palsu, yang tidak jelas atau rancu.

Tetapi, realitanya di masa kini, tidak sedikit orang-orang Kristen yang negatif atau apatis terhadap kegiatan “baca-tulis”. Ada yang mengidentikkan orang yang giat atau tekun membaca Alkitab sebagai “orang Farisi” modern. Padahal kesalahan orang Farisi di masa lalu bukan terletak kepada kegiatan “baca-tulis” nya tetapi kepada mis-interpretasi-nya. Ada pula ungkapan offensive yang mengatakan “yang penting kan melakukan…” Padahal, tindakan “melakukan” tidak dapat diterapkan tanpa mengerti apa dan bagaimana melakukan firman-Nya.

Tanpa mengabaikan tentang betapa pentingnya “melakukan” firman Tuhan, orang Kristen pun perlu menyadari betapa penting nya juga upaya memperoleh pesan yang tepat dan jelas. Karena, pesan yang tidak tepat dan tidak jelas tentu saja menghasilkan tindakan yang salah juga. Jadi apakah gunanya melakukan pesan yang salah?

Secara pribadi, saya berpendapat pentingnya penggalian firman yang sustainable atau yang berkelanjutan. Artinya, kita perlu melanjutkan penggalian firman yang ditulis oleh para rasul, yang kemudian dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, yang tulus dan setia menjaga kemurnian firman, bapa-bapa gereja, dan teolog-teolog yang sejati. Mereka telah mengambil peran yaitu menerjemahkan Codex menjadi kanon, hingga akhirnya menjadi Alkitab. Tinggal kita hari ini yang semestinya juga turut mengambil peran yaitu melanjutkannya. Caranya? Menjaga pesan yang murni, sampaikan, ajarkan, khotbahkan, lakukan dan teruskan kepada generasi selanjutnya.

Minggu, 24 Mei 2009

PENERJEMAHAN ALKITAB

Salahkah menerjemahkan Alkitab? Seperti itulah kira-kira pertanyaan yang tersimpan di hati banyak orang ketika menyaksikan penganiayaan terhadap penerjemah-penerjemah pertama seperti: Tyndale atau Wycliffe.

Di masa hidup mereka tidaklah mudah menerjemahkan Alkitab dari bahasa aslinya yaitu Ibrani, Yunani atau Aram ke dalam bahasa Inggris. Mengapa? Karena pada masa itu Alkitab dipandang suci secara ekstrim sehingga membacanya pun, orang-orang awam sangat kurang mendapat kesempatan. Alkitab tersimpan dan tersembunyi di ruang-ruang pribadi kaum imam saja. Sedang orang awam jauh dari pesan yang sebenarnya.

Anda mungkin bertanya, mengapa situasi semacam itu dapat terjadi? Alkitab sendiri menjawabnya dengan langsung, jelas dan tidak berbelit-belit. Di 2 Tim 3:16-17 disebutkan bahwa Alkitab adalah cara atau rancangan Allah untuk mengoreksi manusia. Dengan kata-kata lain, melalui pengertian dan pengenalan akan Alkitab, maka kesalahan dan dosa-dosa manusia pun akan dinyatakan. Semua kesalahan tanpa kecuali akan keluar dan terbongkar dari tempat persembunyiannya termasuk dosa dan kesalahan-kesalahan imam-imam yang korup di zaman Tyndale dan Wycliffe.

Mari kembali ke pertanyaan semula, salahkah upaya penerjemah-penerjemah tadi? Sebelum menjawabnya dengan “ya” atau “tidak”, penting bagi kita untuk mengerti sedikit banyak tentang “komunikasi”. Di dalam komunikasi ada terdapat 4 (empat) unsur yang paling besar atau paling utama. Unsur-unsur tersebut adalah: pesan, media atau alat, komunikator dan komunikan. Dari ke-empat unsur tersebut, bahasa dapat dikategorikan sebagai media atau alat bukan pesan. Jadi, dalam hubungannya dengan penerjemahan, bahasa yang berbeda bukanlah masalah selama pesannya tidak diubah secara sengaja atau pun tidak sengaja.

Bahasa-bahasa di dunia sangat beragam jenisnya karena bangsa-bangsa di dunia pun demikian. Jika bahasa Alkitab hanya menggunakan bahasa Ibrani, Yunani atau Aram saja, maka semakin sedikit lah orang yang mengerti atau memahami Alkitab dari waktu ke waktu. Sebaliknya, upaya penerjemahan Alkitab telah menunjukkan hasil yang nyata dan lebih baik. Orang-orang dari berbagai bangsa dapat mendengarkan pesan Tuhan dengan bahasa mereka sendiri. Hal serupa pernah terjadi di Yerusalem pada hari Pentakosta, yaitu ketika para rasul berbicara kepada orang banyak dengan berbagai bahasa dari bangsa-bangsa di dunia. Suatu pertanda atau petunjuk bahwa Allah ingin menyampaikan pesan-Nya yang sama kepada semua bangsa dengan semua bahasa.

Timbul pertanyaan, bagaimana dengan penerjemahan yang berbeda atau kurang tepat? Secara pribadi, saya menganggapnya sebagai tantangan bukan permasalahan. Mengapa? Karena tantangan adalah bagian dari proses belajar yang Tuhan janjikan. Ia berkata di Mat 6:33: ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya…”. Di Yer 29:13 disebutkan: ”...kamu akan menemukan Aku jika kamu mencari Aku dengan segenap hati.” Studi atau belajar-mengajar Alkitab adalah proses yang di-izinkan dan disediakan oleh Tuhan bagi orang-orang Kristen. Orang-orang yang malas, yang apatis, yang tidak peduli atau yang menganggap remeh terhadap belajar-mengajar Alkitab dengan sendirinya terseleksi dari janji-janji Tuhan.

Lagipula, pesan-pesan penting atau utama dari Alkitab tidak lah berubah. Ia tidak akan pernah berubah. Jika terdapat kata atau penerjemahan yang kurang tepat, seseorang dapat membandingkannya dengan ayat yang lain, perikop atau kisah yang lain di Alkitab. Atau, orang tersebut dapat pula membandingkannya dengan penerjemahan yang lain. Contohnya di dalam bahasa Inggris ada King James Version, New King James Version, New International Version, New American Standard Bible, dan lain-lain. Dengan demikian, maka ia dapat memperoleh pesan yang lebih jelas, utuh dan kuat. Jadi, penerjemahan bukannya menghasilkan permasalahan melainkan kekayaan yang melimpah terhadap Firman Tuhan.

Bagaimana dengan orang buta atau orang bisu? Tuhan pun mengaruniakan bahasa-bahasa yang khusus bagi mereka yaitu bahasa non verbal. Selain itu ada juga tulisan atau huruf braile bagi orang yang buta.

Jika Tuhan pernah mengacaukan manusia di zaman Nimrod dengan mengaruniakan bahasa-bahasa yang berbeda bagi mereka, tetapi kini, Tuhan telah menyatukan manusia ke dalam Kerajaan-Nya dengan pesan yang sama. Mungkinkah ini adalah suatu nubuat? Bukan, ini adalah kuasa Tuhan.



Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/John_Wycliffe
http://en.wikipedia.org/wiki/William_Tyndale


Rabu, 20 Mei 2009

SURAT-SURAT UMUM

Kitab Perjanjian Baru dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu:
1. Kitab-Kitab Injil
2. Surat-surat Paulus
3. Nubuat (Wahyu)
4. Surat-surat lainnya (General Epistles)

General Epistles terdiri dari surat 1 & 2 Petrus, Yakobus, Yudas, 1-3 Yohanes, dan Ibrani. Untuk dapat mengerti dengan baik surat-surat tersebut, kita perlu mempelajari latar belakang yang ada di sana. Salah satunya adalah dengan merujuk ke Kitab Kisah Para Rasul. Di sana kita temukan bahwa para rasul pernah mengadakan kesepakatan bahwa mereka membagi wilayah penginjilan mereka. Rasul Paulus dan Barnabas kepada orang-orang non Yahudi sedangkan rasul-rasul lainnya kepada orang-orang Yahudi teristimewa yang ada di Yerusalem.

Meskipun kesepakatan tersebut tidak mengartikan bahwa mereka tidak dapat menolong orang-orang yang berbeda atau lain dari yang telah disepakati. Contohnya, Petrus tetap saja menolong Kornelius. Ia masuk ke dalam rumah perwira pasukan Romawi itu walau tindakan tersebut sesungguhnya najis atau dilarang bagi bangsa Yahudi. Yohanes pun di masa tuanya mengalamatkan injil yang ditulisnya kepada orang Yunani. Petrus pun di akhir masa hidupnya ada di Roma dan mati disalibkan secara terbalik di sana.

Kesepakatan tersebut tampaknya lebih kepada kebijaksanaan yang tidak sedemikian mengikat. Tujuannya adalah agar mereka dapat lebih mandiri secara sehat dan dapat berkonsentrasi terhadap daerah atau wilayah yang sedang tangani. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia pun demikian? Di satu sisi kita mengerjakan sesuatu secara sendiri, di sisi lain kita bekerjasama atau bergantung satu sama lain. Seorang pakar hubungan manusia yang bernama Stephen R. Covey menyebut pemikiran ini dengan istilah “interdependent”. Ya, para rasul tampaknya sudah menerapkannya dan mengerti dalam tindakannya.

Melalui informasi-informasi tersebut, pertama-tama dapatlah kita mengerti kepada siapa surat-surat tersebut ditujukan. Secara umum adalah kepada orang-orang Kristen pada masa itu dan juga masa kini. Memang, pada surat-surat General Epistles, disebutkan nama atau kelompok murid-murid Kristus pada abad pertama sebagai alamat atau penerima surat. Contohnya di Yakobus, disebutkan “kepada kedua belas suku di perantauan. Di surat 1 Petrus: “kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Atau, di 2 Yohanes disebutkan “kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya…”

Jika demikian, dapat timbul pertanyaan, apa hubungannya surat-surat tersebut dengan kita yaitu orang-orang Kristen di masa kini. Bukankah surat-surat itu nyata jelas ditujukan kepada orang atau kelompok yang disebutkan namanya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut lebih jauh, mari baca dan perhatikan ayat berikut ini yaitu Kisah Para Rasul 2:39:

“…Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”

Artinya, janji Tuhan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Demikian pula pesan-Nya adalah pesan yang transenden, worldwide dan berkelanjutan.

Hanya saja, sebagai orang Kristen yang hidup di masa kini kita perlu juga mempelajari latar belakang kultur atau budaya, bahasa, pemikiran, kebiasaan, geografi, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian kita dapat memperoleh pesan yang jelas yaitu dengan cara mengintegrasikan hal-hal tersebut tadi. Karena jika tidak demikian, kita mungkin kurang mendapat pesan yang jelas bahkan salah interpretasi.

Tetapi, janganlah risau atau putus asa mendengar penjelasan ini karena sesungguhnya Alkitab bukanlah terlalu sulit untuk dipahami. Walau memang realitanya ada hal-hal tertentu yang cukup menantang kita untuk berpikir keras dan mempelajarinya dengan lebih serius atau lebih sungguh. Bahkan mungkin mendoakannya, meminta pimpinan Tuhan sehingga kita dapat mengertinya.

Selain itu, ada pula hal-hal yang memang tidak dinyatakan oleh Tuhan kepada kita, mungkin karena hal tersebut ada di atas rasio kita atau mungkin saja karena kebijakan ilahi-Nya.

Kabar baiknya, ditinjau dari isi, surat-surat General Epistles adalah surat-surat yang singkron satu sama lain. Tidak ada isi atau pesan yang bertentangan satu sama lain. Baik itu di antara surat-surat General Epistles sendiri, maupun terhadap surat-surat lain di PB dan di PL. Sebagai contoh, di Kitab Ibrani tertulis tentang arti dari iman, tetapi di kitab Yakobus dituliskan tentang iman yang benar yang menghasilkan perbuatan yang benar pula. Keduanya menulis tentang iman tetapi tidak bertentangan melainkan saling melengkapi dan mendukung satu terhadap yang lain.

Hal yang paling penting adalah bahwa baik prinsip, nilai maupun setiap kata dari Alkitab khususnya General Epistles adalah murni, benar dan berasal dari Allah. Surat-surat tersebut menjadi bagian yang terpadu dengan surat-surat yang lain di Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Sehingga dengan demikian, pesan Alkitab pun semakin kuat dan jelas saja bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Demikianlah cara Tuhan kita menyampaikan pesan-pesan-Nya. Indah dan brilliant, bukan?