Senin, 04 Mei 2009

Kepada Pembaca dan Partner NMQT

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih,

Melalui surat ini, kami ingin menyapa Anda untuk berterima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan Anda selama ini kepada NMQT - baik secara moral, spiritual maupun finansial. Berkat Anda semua, maka NMQT dapat tetap terus setia melayani sejak satu tahun yang lalu hingga saat ini.

Dan kami bertekad untuk tetap terus setia menyampaikan firman-Nya karena kami menyadari betapa NMQT dapat bermanfaat bagi kerohanian dan juga menyemangati banyak orang. Sebagaimana tanggapan-tanggapan positif yang telah kami terima dari dalam maupun dari luar negeri. Baik secara lisan maupun secara tertulis.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih
, kami menyakini bahwa firman Tuhan-lah yang telah menggugah Anda melalui NMQT bukan hal-hal lain yang ada di sana. Karena kami sendiri berupaya sedapat mungkin menyampaikan-Nya sesederhana dan sejelas mungkin. Sehingga, pesan firman Tuhan dapat disampaikan kepada siapa saja dengan sebenar-benarnya dan semurni-murninya.

Karena kami pun percaya bahwa firman Tuhan adalah yang utama, vital dan mutlak demi perubahan, pertobatan dan pertumbuhan kerohanian Kristen. Sedangkan yang lain selain itu hanyalah faktor pendukung atau faktor pelengkap saja.

Atas dasar tersebut, NMQT mempunyai visi dan komitmen jangka panjang yaitu untuk menyampaikan firman yang sebenar-benarnya, semurni-murninya, sejelas-jelasnya dan seluas-luasnya bagi kemuliaan Tuhan.

Oleh karena itu, melalui surat ini, kami ingin mengajak Anda untuk turut berpartisipasi mendukung pelayanan NMQT.

Ada 3 (tiga) cara yang dapat Anda lakukan untuk mendukung pelayanan ini. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengirimkan tanggapan Anda terhadap NMQT ke letters.berean@gmail.com tentang apa yang Anda pelajari, yang membantu, menyemangati atau yang mengubahkan Anda secara pribadi.

2. Meng-informasi-kan kepada teman-teman, sahabat atau keluarga Anda tentang NMQT atau tentang pesan-pesan atau pelajaran-pelajaran nya yang ber-manfaat bagi Anda.

3. Men-support NMQT secara finansial melalui nomor rekening:
BCA 288 300 5031
a/ n Yayasan Gema Kristus Damai Indonesia.

Sebagai informasi bagi Anda, buku NMQT kini sedang dalam proses pengerjaan. Kami berharap dapat menyelesaikannya dalam waktu dekat dan menyusulnya dengan edisi-edisi selanjutnya kemudian secara kontinu di masa yang akan datang.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih, percayalah, bahwa kami tidak bertujuan untuk meraup keuntungan materi sebesar-besarnya melalui pelayanan ini melainkan perluasan dan pelebaran jangkauan yang lebih jauh dan besar sehingga dapat menyampaikan pesan firman-Nya. Dan itu semua hanya demi kemuliaan-Nya semata-mata.

Demikian surat ini, atas perhatian dan kerjasamanya (sekali lagi) kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Dari Saudara dan Partner Anda di dalam Kristus,



Naek






KEBENARAN TENTANG BAIT SUCI (Part 2)

Bacaan: Yohanes 2:19-20

Jawab Yesus kepada mereka: ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya:”Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.


Sebelum membahas tentang Bait Suci yang kotor dan berantakan di zaman Yesus, mari pelajari secara ringkas tentang Bait Suci di Yerusalem tersebut.

Di sana, di Yerusalem, ada dua Bait Suci yang berdiri berturut-turut yakni sebagai berikut:
• Bait Suci Salomo yang dibangun sekitar abad ke-10 SM.
• Bait Suci Kedua dibangun setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM. (selesai pada 12 Maret 515 SM.).

Kemudian dilanjutkan dengan perluasan dan renovasi seluruh Bukit Bait Suci oleh Raja Herodes sekitar tahun 19 SM. Tetapi, sejak dihancurkannya Bait Suci tersebut pada tahun 70 M oleh pasukan-pasukan Romawi, baik agama Yahudi maupun agama Kristen terbagi menjadi 2 (dua) golongan besar yaitu mereka yang ingin membangun kembali Bait Suci seperti sebelumnya dan yang kedua adalah mereka yang tidak menuntut pembangunannya kembali, dengan alasan atau pengertian bahwa gedung-gedung gereja sekarang adalah Bait Suci. Demikian pula sejumlah besar orang Kristen menyatakan bahwa Bait Suci adalah orangnya bukan gedungnya (band. 1 Kor 3:16).

Tanpa berargumentasi lebih jauh tentang pendapat mana yang benar atau yang mana yang salah, saya ingin mengajak Anda memperhatikan orang-orang yang mempunyai Bait Suci tetapi berhati serakah, licik dan munafik. Mereka adalah orang-orang Yahudi termasuk pengurus Bait Suci dan para imam di Yerusalem pada zaman Yesus. Anda mungkin bertanya, apakah salah mereka dan salahkah mereka yang ber-jual-beli di sana? Bukankah yang mereka perjual belikan adalah demi kepentingan persembahan? Mulai dari penukaran uang sampai menjual aneka korban seperti: merpati, domba, dan lain-lain.

Tetapi isunya tampaknya tidak sesederhana itu karena lebih dari berjualan, ternyata mereka menaikkan harganya berlipat ganda dan mewajibkan pendatang-pendatang untuk membelinya di sana. Sehingga, bukan soal jual beli-nya tetapi pemerasan yang mereka lakukan sangat amat menekan. Akibatnya, banyak orang-orang yang miskin dan yang tidak mampu mengalami kesukaran besar menjalankan ibadah mereka. Selain itu, jual beli mereka pun bukan lagi di area bebas berjualan tetapi tampaknya sudah memasuki ke dalam-dalamnya dari Bait Suci tersebut.

Tidak heran mengapa Yesus marah dan membersihkan Bait Suci itu. Ia tidak bernegosiasi atau mengadakan dialog dengan pengurus atau para imam di Bait Suci. Karena kekudusan Bait Allah adalah mutlak. Dan sangat mengejutkan karena setelah tindakan tersebut, Yesus menyatakan pernyataan penting yang dicatat oleh penulis-penulis Injil bahwa Bait Allah adalah tubuh-Nya yang akan bangkit pada hari ketiga. Kemudian dikonfirmasi lagi oleh rasul Paulus di surat-nya yang ditujukan kepada Jemaat Korintus. Tubuhmu adalah Bait Allah atau Bait Roh Kudus, demikian ia menyatakannya.

Jika harus membangun kembali Bait Suci yang sama di Yerusalem, maka orang-orang Kristen akan mengalami banyak kendala. Pertama, mereka setidaknya mempunyai semacam kewajiban baru mengunjungi Bait Suci di Yerusalem. Di tambah lagi, jika membawa korban persembahan ke kota itu adalah kewajiban, maka banyak orang Kristen yang tidak dapat memenuhinya. Demikian pula orang-orang Kristen di abad pertama, karena penganiayaan, mereka terpaksa tersebar ke berbagai daerah atau wilayah dan mengadakan pertemuan ibadah mereka di rumah-rumah. Bait Allah yang awalnya tempat berkumpul, sepertinya bukan milik mereka lagi tetapi orang Yahudi yang beragama Yahudi. Walau sebenarnya ada juga agama Yahudi saat ini yang tidak menuntut pemulihan Bait Suci. Mereka disebut sebagai Yudaisme Reformasi. Dan sebaliknya ada juga orang-orang Kristen yang masih menginginkan pembangunan tersebut seperti dari kaum dispensasionalis dan juga restorasionis Mormon (OSZA).

Sebagai orang Kristen, tidak ada salahnya menginginkan Bait Suci dibangun kembali dengan megah dan indah seperti dulu. Tetapi yang paling praktis dan yang tampaknya paling relevan dilakukan saat ini oleh orang Kristen adalah menjaga Bait Suci atau Bait Roh Kudusnya yaitu diri sendiri seperti yang dinyatakan oleh rasul Paulus. Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara menjaga hati. Menjaganya dari dosa seperti pikiran jahat atau pikiran kotor, negatifisme, iri hati, dengki, kepahitan, dendam, amarah, egoisme, dan lain-lain (band. Mrk 7:19-20). Karena Tuhan sangat serius dengan kebersihannya. Bukan saja di PB oleh Yesus tetapi juga di PL, Tuhan membersihkannya dari imam Eli yang lemah dan kompromi bersama dengan kedua anaknya yang jahat yaitu Hofni dan Pinehas.


Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Bait_Allah; Alkitab TB - LAI; PASH Yohanes - DR. William Barclay - BPK Gunung Mulia.

Minggu, 03 Mei 2009

Bedah Buku SUSTAINABLE CHURCH GROWTH

DUA SANHENDRIN


Bacaan: Yohanes 3:4-9

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.…Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"…Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"

Dari empat injil yang ada, hanya Yohanes yang mencatat tentang Nikodemus. Sepertinya melalui kisah pria tersebut ada hal penting atau khusus yang akan disampaikan rasul Yohanes.

Ia mencatat tentang kedatangannya menemui Yesus di malam hari. Mungkin waktu larut malam ketika tidak ada orang yang melihat atau memperhatikannya.

Kunjungannya seorang diri tampaknya bukan sebagai intelijen agama atau Sanhendrin atau orang Farisi. Tetapi lebih persis seperti pribadi yang bergejolak hatinya karena penasaran dan ingin tahu lebih jauh. Ia cukup menghormati Yesus. Tampak dari bagaimana ia menyebut-Nya dengan kata “Rabi”.

Pertanyaannya, apakah pertemuan Nikodemus dan Yohanes berlangsung empat mata atau dihadiri oleh murid-murid Yesus juga? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Jika bukan empat mata berarti Yohanes hadir di pertemuan Yesus dan Nikodemus. Jika tidak, berarti bahwa dari Nikodemus atau Yesus saja lah, Yohanes mendapatkan informasi-informasi tersebut. Dan mungkin pula bahwa kisah itu diterima Yohanes setelah mantan Farisi yang penasaran itu bertobat dan menjadi murid-Nya.

Yohanes mencatat pertanyaan-pertanyaan Nikodemus. Kebingungan-kebi ngungannya, ketidaktahuan dan ketidakmengertiannya terhadap jawaban atau pernyataan-pernyataan Yesus (band. Yoh 3:1-21). Ia pun mencatat tahap demi tahap perubahan hati Nikodemus. Dari orang yang diam-diam datang menemui Yesus hingga membela Dia di hadapan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi (band. Yoh 7:47-51). Selanjutnya, ia pun datang saat mayat Yesus diturunkan dari salib dan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu sebanyak lima puluh kati beratnya.

Lalu, mengapa Yohanes mencatat tentang dia? Mungkin, Yohanes ingin menunjukkan bahwa kehadiran Yesus begitu menggugah. Hingga, bukan saja orang awam, tetapi juga para imam, orang Farisi dan Sanhendrin berguncang hati dibuat-Nya. Namun demikian, catatan Yohanes tentang Nikodemus juga menunjukkan fakta baru bahwa di antara 6000 Farisi dan 70 Sanhendrin, hanya Nikodemus lah yang paling menonjol. Karena ia datang, menemuinya untuk berdiskusi empat mata, membelanya bahkan menaruh simpati terhadap-Nya. Sedang yang lain? Sepertinya mempunyai karakter dan pikiran yang mirip atau hampir sama satu dengan yang lain.

Anda mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak mengangkat pria hebat itu menjadi salah seorang calon rasulnya? Tetapi justru malah menjawab dengan statement yang tampaknya tidak mudah dimengerti oleh Nikodemus? “Engkau harus dilahirkan kembali?”, kata-Nya. Secara sederhana, dapat dimengerti bahwa orang-orang Farisi seperti Nikodemus hidup dan terkondisi dengan legalisme. Ia dibesarkan dengan aturan-aturan dan perincian-perincian yang kaku. Mereka menerbitkannya, mensahkannya dan menerapkannya sehebat-hebatnya.

Bagi orang-orang Farisi termasuk Nikodemus, gambaran Mesias tentunya adalah pribadi yang legalis seperti mereka. Bahkan mungkin lebih atau jauh lebih legalis dari mereka. Bukan seperti Yesus. Sehingga, jika ia mau mengikut Yesus itu berarti bahwa ia harus meninggalkan legalismenya dan mulai dari titik nol atau dapat di-istilahkan seperti lahir kembali. Artinya, ia mulai dengan Kristus, bertumbuh dan dewasa di dalam Dia. Bukan legalisme-legalisme yang dibuat manusia termasuk mereka sendiri.

Tetapi, mengapa dan bagaimana kisah hidup Nikodemus selanjutnya tidak tertulis di Alkitab. Entahkah dia menjadi pengikut Kristus atau tetap menjadi orang Farisi dan Sanhendrin, tidak disebutkan di sana. Berbeda halnya dengan seorang Sanhendrin yang lain yang bernama Paulus, ia mengalami lahir baru, memulai dari titik nol, menganggap ke-Farisian, ke-Sanhendrin-an, dan legalisme-legalismenya sebagai sampah dan kerugian supaya ia memperoleh Kristus (band. Filipi 3:8).

Jadi, jika seseorang ingin menjadi murid-Nya, itu berarti memulai dari Dia, berjalan bersama dengan-Nya dan berakhir di Sorga juga bersama dengan-Nya.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba untuk senantiasa berjalan bersama dengan-Mu dan berakhir pula di Sorga bersama dengan Engkau. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.


Kamis, 30 April 2009

LEGALISME ATAU FAKTA ALLAH?


Bacaan: Yohanes 1:19-28

Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: ”Siapakah engkau?”…Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: ”Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”

Yohanes Pembaptis menarik perhatian banyak orang. Bukan hanya orang awam tetapi juga imam-imam, orang Lewi dan orang Farisi. Meski sesungguhnya ia tidak sedang berupaya menciptakan sensasi demi kepentingan dirinya sendiri.

Anda mungkin bertanya apa yang melatarbelakangi para imam atau orang Farisi tersebut sehingga mendatangi dan bertanya ini itu kepada Yohanes Pembaptis.

Penting diketahui sebelumnya bahwa ada terdapat 4 (empat) fakta penting yang mengundang tanya para imam atau orang Farisi yang mana adalah sebagai berikut:
1. Yohanes Pembaptis lahir dengan cara yang unik yaitu dari pasangan mandul Zakharia dan Elizabeth. Sebelum kelahirannya, ayah Yohanes Pembaptis yaitu Zakharia menjadi bisu persis setelah mendapat tugas di Bait Suci. Artinya, putra Zakharia adalah pria istimewa dari Tuhan. Pertanyaannya, siapakah dia?

2. Biasanya putra seorang imam juga adalah calon imam yang bertugas seperti ayahnya di Bait Allah. Tetapi, Yohanes Pembaptis tidak menjadi imam di Bait Allah melainkan menjadi pengkhotbah baru di padang gurun.

3. Penampilan Yohanes juga sangat unik dan berbeda. Ia tidak mengenakan jubah seperti imam pada umumnya tetapi pakaian yang terbuat dari bulu unta.

4. Putra Zakharia yang istimewa itu membaptis banyak orang dari berbagai kelompok atau golongan hingga ke seluruh daerah Yordan.

Dari fakta-fakta tersebut, maka para imam dan orang Farisi mempunyai 2 (dua) pertanyaan utama yaitu siapakah dia dan apa dasar atau sebagai apa ia membaptis orang-orang?

Karena bagi agama Yahudi pada zaman itu hanya ada tiga jenis petinggi agama yang umum atau lazim di tengah masyarakat mereka. Pertama, yaitu imam dari keturunan Lewi yang bertugas di Bait Suci. Kedua, yaitu ahli Taurat dan orang Farisi sebagai ahli kitab PL dan Pentateukh. Mereka menuangkan hasil interpretasi berupa penjelasan dan aturan-aturan ke dalam kitab-kitab baru bernama Mishnah dan Talmud*). Dan yang ketiga adalah Sanhendrin, yang bertugas seperti polisi yang menginvestigasi ajaran atau pengajar sesat serta memberantasnya. Di kitab Kisah Para Rasul disebutkan sejumlah ajaran sesat yang terdaftar di catatan Gamaliel. Juga, orang-orang Kristen yang diusahakan kemusnahannya oleh Paulus yang pada masa itu masih menjabat sebagai seorang Sanhendrin.

Menjawab pertanyaan para imam dan orang-orang Farisi, Yohanes Pembaptis mempunyai dasar yang sangat kuat. Dengan mengutip Kitab Yesaya, ia menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Para imam dan orang Farisi menghadapi tantangan baru yaitu antara berpegang teguh kepada legalisme dan tradisi agamawi atau fakta bahwa Allah sedang memenuhi janji-Nya melalui Yohanes Pembaptis. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah karena menurut pengakuan Yohanes Pembaptis ia hanya orang yang berseru dan mempersiapkan jalan. Sedang spot light-nya adalah Yesus, Tuhan yang datang melawat umat-Nya di dunia.

Tentu saja pernyataan-pernyataan semacam ini sangat menggemparkan. Orang-orang diperhadapkan pada tanda tanya, apakah ini omong kosong, bercanda, atau 100% benar. Dan kisah-kisah selanjutnya tentang Yesus yang disertai berbagai bukti, kuasa, mujizat, hikmat, dan banyak hal lain lagi semakin mengerucut dan mengkristal. Sehingga, para imam dan orang-orang Farisi hanya punya 2 (dua) pilihan. Percaya atau tidak percaya? Menerima atau memusnahkan Kristus dan pengikut-pengikut-Nya?

Dan Anda tahu pada akhirnya bahwa para imam, orang Farisi, ahli Taurat tahu bahwa Yesus tak dapat dimusnahkan bahkan ia bangkit dari mati. Tetapi entah mengapa mereka masih tetap saja menentangnya dan menyebar isu palsu bahkan membayar orang-orang untuk mengatakan bahwa mayat Yesus dicuri oleh murid-murid-Nya.

Kesimpulannya adalah:
1. Penampilan bukanlah ukuran kerohanian. Meski Yohanes Pembaptis mengenakan jubah dari bulu unta yang berbeda dari yang lain, tidak berarti bahwa ia bukan orang yang berkenan atau yang bukan diutus oleh Allah.

2. Jika tidak menjaga hatinya, petinggi-petinggi agama pun dapat menjadi pendusta. Atau, pendusta-pendusta pun dapat berjubah petinggi agama.

3. Tuhan menghendaki pertobatan, perubahan hati, dan pertumbuhan rohani dari umat-Nya. Bukan legalisme.

4. Allah pasti menggenapi nubuatnya. Bersiap sedialah!

*) Mishnah adalah kitab yang berisi tentang penjabaran hukum-hukum dan aturan-aturan hasil rumusan atau interpretasi orang-orang Farisi yang telah disahkan. Talmud adalah kitab yang menjelaskan kitab Mishnah. Tentang Sabat saja, kitab Mishnah menghabiskan 24 bab dan kitab Talmud Babylonia menghabiskan 312 halaman folio. (hal 206 PASH Yohanes oleh DR. William Barclay, BPK. Gunung Mulia)

KEBENARAN TENTANG BAIT SUCI


Bacaan: Yohanes 4:23

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Rasul Yohanes menulis banyak hal yang tidak ditulis oleh Matius, Markus dan Lukas. Hal itu tidak berarti bahwa Injil Yohanes lebih baik ketimbang injil yang lain. Tetapi, fakta ini dapat dijadikan pertanda bahwa Injil Yohanes memang diterbitkan setelah ketiga injil yang lain. Rasul Yohanes tampaknya mencermati apa yang belum dituliskan oleh rekan-rekan kerjanya. Selain itu ada kebenaran-kebenaran yang ditekankan rasul Yohanes sebagai point penting dari penggenapan atau penyempurnaan Perjanjian Lama. Salah satu di antaranya adalah tentang Bait Allah.

Sebelum membahas lebih jauh tentang Bait Allah, saya mengajak Anda untuk mempelajari secara singkat dan sederhana tentang latar belakang Bait Allah di Yerusalem dan di Gerizim. Di dua tempat yang berbeda terdapat Bait Allah yang berbeda pula hingga di zaman Yesus. Hal tersebut dikarenakan permusuhan antara bangsa Israel dan bangsa Samaria yang masih terus berlanjut dan berkepanjangan. Ratusan tahun lamanya mereka telah berpisah dan saling tidak suka satu sama lain.

Sejak dulu, jauh sebelum permusuhan timbul, Kerajaan Israel Utara dan Selatan telah ditaklukkan oleh bangsa lain. Akibatnya, Bait Allah pun hancur dan musnah. Sejumlah besar penduduk dibawa ke tanah penjajah atau sebalinya bangsa jajahan lain dibuang ke wilayah Israel. Di sana orang-orang dijadikan pekerja yang dimanfaatkan tenaganya demi kepentingan bangsa penjajah seperti Assyria atau Babylonia.

Orang Yahudi dari Kerajaan Israel Utara telah kawin campur dengan bangsa jajahan yaitu bangsa-bangsa lain yang ditaklukkan Assyria dan dipindahkan ke wilayah Samaria. Sehingga mereka tidak diakui atau diterima lagi sebagai orang Yahudi asli. Sedang orang-orang Yahudi dari Kerajaan Israel Selatan masih mempertahankan ke-Yahudi-annya. Hingga suatu waktu, atas izin dan bantuan raja Persia, akhirnya salah seorang dari bangsa Israel Selatan yaitu Nehemia pergi ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Di waktu yang bersamaan, Ezra rekan sebangsa Nehemia membangun Bait Allah.

Di masa pembangunan tersebut, orang-orang Samaria mengulurkan tangan menawarkan diri untuk membantu pembangunan kembali Tembok Yerusalem dan Bait Allah. Mungkin karena rasa kebangsaan dan cinta kepada leluhur, mereka ingin melakukannya. Tetapi sangat menyedihkan karena mereka tidak diterima atau di-izinkan dan dianggap sebagai orang asing atau orang non-Yahudi. Bertolak dari peristiwa tersebut, orang-orang Samaria pun akhirnya membangun Bait Suci yang lain dan yang baru yaitu di Gerizim.

Kembali ke zaman Yesus, orang-orang Yahudi yang ingin pergi ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Suci paling cepat dan pintas apabila melewati wilayah Samaria. Tidak jarang mereka digoda untuk beribadah di Gerizim saja.

Tampaknya, Yesus mencermati permasalahan ini. Sehingga bertolak dari permasalahan tersebut, Ia menyatakan satu kebenaran sekaligus penggenapan terhadap Perjanjian Lama bahwa Bait Suci adalah manusia-nya bukan gedungnya. Dengan demikian, manusia dapat menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Di mana saja dan kapan saja. Kebenaran ini pun tidak sedang menyatakan bahwa beribadah di gedung yang megah adalah salah.

Atas dasar ini pula, orang-orang Kristen di masa kini termasuk Anda dan saya semestinya jangan merendahkan atau memandang remeh orang-orang Kristen yang beribadah di gedung perkantoran, ruko atau tempat-tempat yang tidak disebut sebagai ‘gedung gereja’. Karena yang paling penting dan mendasar adalah orangnya bukan gedungnya. Hatinya bukan yang lain. Dan, kebenaran ini juga berarti bahwa orang Kristen semestinya jangan bersikap baik, suci atau benar hanya di gedung gereja saja tetapi juga di tempat-tempat yang lain. Termasuk ketika sendiri bahkan ketika punya kesempatan besar untuk berbuat dosa. Karena sesungguhnya, di setiap waktu dan di setiap tempat dalam hidupnya, semestinya setiap orang Kristen senantiasa mempunyai sikap hati yang menyembah Allah.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba untuk senantiasa bersikap hati menyembah Engkau di setiap tempat dan di setiap waktu. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Selasa, 28 April 2009

RENDAH DIRI ATAU NGERTI PERAN?


Bacaan: Yohanes 3:26-30

3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."
3:27 Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.
3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.
3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.
3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil

Di masa mudanya, rasul Yohanes pernah melakukan kesalahan. Ia begitu berambisi mendapatkan posisi di sebelah kiri atau kanan Yesus. Sudah tentu, bukanlah ambisi yang ingin maju dan bertumbuh yang menjadi kesalahan murid yang dikasihi Yesus tersebut, tetapi, motifnya. Ia ingin menjadi orang penting, terpandang, atau sesuatu seperti penguasa di zamannya tanpa mengerti tentang kepemimpinan dan kepelayanan menurut Yesus. Itu juga sebabnya mengapa ia dan saudaranya Yakobus mengajukan diri melalui ibu mereka. Dan mungkin pula mereka pun tahu bahwa proposal yang mereka ajukan adalah jenis proposal coba-coba. Kali-kali aja diterima. Kalau nggak ya nggak apa-apa. Mungkin pikir mereka begitu.

Tetapi, setelah sekian lama menjadi murid-Nya, rasul Yohanes mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang jabatan atau posisi. Terbukti dengan bagaimana ia mengingat kata-kata Yohanes Pembaptis dengan sangat baik. Sesuatu yang mungkin sangat menggugah dan berkesan di hatinya.

…"Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga (Yohanes 3:27).

Rasul Yohanes mengerti bahwa posisi, jabatan atau peran adalah karunia atau anugerah dari Tuhan bukan karena, bukan dari atau oleh diri sendiri. Jika bukan Tuhan yang mengaruniakan atau menganugerahkan, maka tidak seorang pun yang dapat mempunyai atau memilikinya.

Mengenai kata-kata Yohanes Pembaptis, itu bukanlah berasal dari diri yang minder tetapi dari diri yang mengerti perannya di hadapan Tuhan. Putra Zakharia tersebut bukanlah seorang yang rendah diri. Sebaliknya, ia adalah seorang yang percaya diri. Sebagai pria keturunan Lewi, Yohanes Pembaptis tampil di depan publik, dikenal dan terkenal. Kemampuan public speaking nya pun sangat tinggi. Suaranya lantang. Bukan rendah atau pelan. Dan, ia disebut sebagai orang yang berseru-seru di padang gurun.

Yohanes Pembaptis sangat mengerti peran-nya yaitu bahwa ia adalah sahabat mempelai yaitu Yesus*). Di acara pernikahan, ia seperti seorang best man dari mempelai pria, yang membantu, mengurus, memastikan, melengkapi, dan menyempurnakan acara, demi kepentingan atau kebaikan sahabatnya yaitu si mempelai.

Fokus seorang best man bukanlah dirinya tetapi sahabatnya yaitu mempelai. Ia sangat bersukacita dan bergembira terhadap mempelai yaitu sahabatnya sampai-sampai tidak pernah memikirkan tentang tingkatan posisi, jabatan, untung-rugi, antar ia dan mempelai tersebut. Sukacitanya adalah acara yang berjalan dengan lancar dan sukses, dan mempelai pria bertemu dengan mempelai wanita.

Orang-orang Kristen di masa kini perlu belajar dari Yohanes Pembaptis untuk mengerti perannya masing-masing. Bukan mengharapkan peran yang besar-besar saja, yang dilihat atau disaksikan banyak orang, sehingga mendapat pujian, hormat dan popularitas. Karena sesungguhnya, memang ada peran yang kecil dan besar, tetapi keduanya adalah sama di hadapan Tuhan, tergantung bagaimana seseorang menerima dan menjalankannya (band. Mat 25:14-46).

Seperti halnya rasul Yohanes, ia pun sudah tahu perannya sehingga tidak pernah lagi mengajukan proposal ekslusif itu apalagi melalui ibunya.

Atau, sebaliknya, jika memang Tuhan mengaruniakan Anda peran yang besar, mengapa tetap di peran yang kecil seperti waktu Gideon bersembunyi di tempat pemerasan anggur?

Jadi, salah satu tugas orang Kristen, mungkin termasuk Anda dan saya, adalah mengenali peran nya dan menjadi efektif dan optimal bagi Tuhan di sana.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba mengenali peran hamba dan menjadi efektif dan optimal bagi Engkau di sana. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

*)Orang Yahudi mengerti bahwa yang dimaksud dengan mempelai pria adalah Tuhan, dan mempelai wanita adalah bangsa Israel. Sehingga dengan demikian, perpindahan agama seperti penyembahan berhala disebut perzinahan spiritual.