Minggu, 30 November 2008

MENGAPA "SELF RIGHTEOUS" ?

Senin, 1 Desember 2008

Bacaan: Roma 2:1-11

2:1 Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.
2:2 Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian.
2:3 Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?
2:4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
2:5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.
2:6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,
2:7 yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,
2:8 tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.
2:9 Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani,
2:10 tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani.
2:11 Sebab Allah tidak memandang bulu.

Mudah bagi orang-orang Kristen di Roma menjadi self-righteous karena mereka tinggal di lingkungan orang-orang yang tidak percaya, yang menyembah berhala, dewa-dewa dan mempunyai moralitas yang rendah atau buruk. Biasanya “self righteous” timbul di dalam diri seseorang karena ia menganggap dirinya telah melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atau yang benar di hadapan Tuhan. Sehingga dengan demikian ia merasakan kepercayaan diri yang sangat tinggi di dalam hatinya bahwa ia sangat disukai dan dikasihi Allah. Padahal Allah telah mengasihi dirinya ketika ia masih berdosa. Lagipula soal benar atau tidak dihadapan Allah bukan saja soal perbuatan baik yang kita lakukan tetapi juga soal perbuatan baik yang tidak kita lakukan (band. Yak 4:17).

Kebenaran ini dapat diperjelas dengan mempelajari perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi menyebutkan betapa baiknya dirinya dan betapa baiknya perbuatan-perbuatan yang ia lakukan. Ia berkata bahwa ia tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai yang ada didekatnya. Ia berpuasa dua kali seminggu, dan memberi perpuluhan. Sedang kontrasnya digambarkan oleh pemungut cukai yang tidak berani menengadah ke langit, memukul dirinya dan memohon belas kasihan Allah karena ia sadar akan dirinya di hadapan Tuhan yaitu orang yang berdosa dan tidak layak di hadapan-Nya.

Menurut Efesus 2:8-10, pekerjaan-pekerjaan baik yang seseorang lakukan berasal dari kasih karunia Allah yang bekerja di dalam diri orang itu. Bukan sebaliknya, ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik demi mendapatkan kasih karunia Allah. Artinya, pengertian yang benar tentang Allah dan tentang diri seseorang yang ia peroleh dari Alkitab akan menumbuhkan iman dan kepercayaannya sehingga membuat ia sadar tentang siapa dirinya dan tentang keberadaannya di hadapan Allah. Selanjutnya ia bertobat dan mendapat pengampunan dan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya.

Dengan kata lain, perbuatan baik tidak terpisah atau berdiri sendiri tetapi dihasilkan. Seperti diucapkan Yohanes Pembaptis “Bertobatlah dan hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan itu.” Di Kisah Para Rasul 26:20, Paulus berkata, “…orang –orang harus bertobat serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Jadi jelas bahwa perbuatan, tindakan atau pekerjaan-pekerjaan yang baik berasal dari pertobatan, dan pertobatan berasal dari kesadaran dan pengertian yang benar akan firman yang berasal dari Allah.

Dalam perumpamaan Yesus yang lain yaitu tentang benih, Ia menggambarkan bagaimana firman ditabur di hati orang. Ada benih yang mati, yang tidak tertanam dengan baik, ada yang tertanam tetapi tidak terpelihara dengan baik, yang terhimpit, terganggu pertumbuhannya, dan mati pada akhirnya. Tetapi, ada yang tertanam dengan baik, tumbuh subur dan menghasilkan buah yang banyak.

Dengan demikian orang-orang Kristen sepatutnya jangan hidup sebagai orang yang “self righteous” seperti orang Farisi tetapi sadar dan bertobat seperti pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus. Dan Yesus menggunakan contoh orang Farisi sebagai tanda bahwa posisi, jabatan atau citra yang baik atau yang populer di mata masyarakat bukanlah suatu jaminan bahwa seseorang itu benar atau berkenan di hadapan Allah.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa mengerti kebenaran Engkau, rendah hati, sadar dan setia di hadapan-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

TIDAK MEMANDANG BULU

Minggu, 30 November 2008

Bacaan: Roma 2:1-11

2:1 Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.
2:2 Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian.
2:3 Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?
2:4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
2:5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.
2:6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,
2:7 yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,
2:8 tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.
2:9 Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani,
2:10 tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani.
2:11 Sebab Allah tidak memandang bulu.

Surat Paulus kepada Jemaat Roma ditujukan kepada orang Kristen berbangsa Yahudi dan non-Yahudi di Roma. Mereka tidak mengenal Paulus sebelumnya karena Paulus bukan pendiri Jemaat itu. Besar kemungkinan bahwa Jemaat itu didirikan oleh orang-orang Yahudi yang berasal dari Roma yang menjadi Kristen di Yerusalem pada Hari Pentakosta. Seiring waktu berjalan, jemaat Roma bertumbuh, demikian pula jemaat-jemaat non Yahudi yang lain, dan Paulus adalah rasulnya.

Sebagai rasul non Yahudi Paulus ingin mengunjungi Jemaat Roma untuk menyampaikan pengajaran-pengajaran yang diwahyukan Allah kepadanya melalui Roh Kudus dan Kitab Suci. Dan pengajaran Paulus tidak hanya berisi kecaman terhadap orang-orang berdosa seperti bangsa Roma yang mayoritas adalah penyembah berhala, orang-orang yang percaya kepada dewa-dewa dan kepada kaisar, tetapi, juga kepada anggota jemaat yang tidak bertobat meskipun mereka adalah keturunan Abraham atau bangsa Yahudi.

Bacalah sekali lagi ayat 3 s/d 9 Roma pasal 2. Paulus mengatakan bahwa Allah menghendaki pertobatan setiap orang tanpa kecuali apakah orang itu adalah bangsa Yahudi, bangsa Yunani, atau bangsa non-Yahudi. Demikian pula orang-orang bertobat akan mendapatkan upah berupa kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera bukan saja bagi orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sedangkan orang yang tidak bertobat dan berbuat jahat akan ditimpa penderitaan dan kesesakan, bukan saja orang Yunani tetapi juga orang Yahudi.

Paulus mengantisipasi sikap hati orang Kristen yang self righteous yang hanya melihat kesalahan orang lain, penyembah berhala dan penyembah dewa-dewa sedangkan mereka sendiri tidak bertobat dari dosa-dosanya. Memang sangat mungkin bagi seorang Kristen yang tinggal di Roma menganggap dirinya lebih baik daripada para penyembah berhala, dewa-dewa dan kaisar di sana. Apalagi bangsa Roma juga mempunyai banyak budak yang yang dimanfaatkan untuk bekerja paksa demi membangun bangunan-bangunan dan fasilitas umum, jalan, jalur transportasi, saluran dan lain-lain seperti Amphi Theater, Arena Maximus, Apolo Temple, Istana Julius Caesar, dan lain-lain.

Kesimpulannya, apa pun kebangsaan seseorang, apakah ia bangsa Yahudi atau non-Yahudi, ia harus bertobat supaya ia berkenan kepada Allah dan memperoleh janji-janji-Nya. Jika tidak, maka orang itu akan tidak selamat dan binasa. Tidak peduli apa dan siapakah orang tersebut. Sebab Allah tidak memandang bulu.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa hidup dalam pertobatan sehingga hamba berkenan kepada Engkau dan memperoleh janji-janji-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Sabtu, 29 November 2008

KONSEKUENSI

Sabtu, 29 November 2008

Bacaan: Roma 1:24-32

1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.
1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.
1:29 penuh rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.
1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua.
1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.
1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Ketidakpercayaan terhadap Allah bukanlah tanpa konsekuensi. Menurut Roma 1:24-32, ketidakpercayaan terhadap Allah berakibat: pergaulan bebas, lesbian, homoseksual, kesesatan, pikiran-pikiran yang terkutuk, melakukan apa yang tidak pantas, kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan, menjadi pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan, bebal, berbahaya dan berdampak buruk terhadap lingkungan.

Secara umum, manusia menentang dosa-dosa tersebut karena dinilai merugikan orang lain. Contohnya, orang yang lalim, jahat, membunuh, menipu, mencuri, korupsi, atau memfitnah orang lain dapat dihukum, dikenakan denda atau masuk penjara. Dengan kata lain, manusia pada umumnya tidak menginginkan kerugian yang ditimbulkan tetapi menginginkan dosanya bahkan menyukainya. Contoh yang lain, yaitu tentang revolusi seks. Banyak orang menentang “aborsi” tetapi tidak “percabulan di luar nikah”, bukan pornografi, bukan majalah, video atau media yang porno, bukan pikiran atau ide-ide cabul, bukan obrolon jorok yang nyerempet cabul. Sekali lagi, manusia tidak menginginkan konsekuensi dari dosa tetapi dosanya. Suatu keinginan yang tidak mungkin dicapai karena dosa mempunyai konsekuensi yang dapat mengakibatkan hidup yang kacau dan hancur.

Perceraian dapat terjadi sebagai konsekuensi dari perzinahan. Hubungan yang tidak harmonis dapat terjadi sebagai konsekuensi dari keserakahan, dengki, tipu muslihat, congkak, sombong, dan lain-lain. Hubungan seks di luar nikah, ketergantungan obat-obatan dapat terjadi sebagai konsekuensi dari tidak taat kepada orang tua, kurang ajar, atau, konsekuensi terhadap orang tua yang tidak peduli terhadap anak-anaknya. Pembunuhan dapat terjadi sebagai konsekuensi dari dengki, perselisihan, benci, dendam, serakah, penipuan, pengumpatan, atau pemfitnahan.

Dosa adalah akibat dari ketidakpercayaan kepada Allah. Dan Allah adalah alasan manusia untuk tidak melakukan dosa. Mengapa? Karena Allah tidak menghendaki dosa dan dosa bukanlah kehendak Allah. Manusia yang mengalami kesulitan ekonomi tidak perlu mencuri, merampok, serakah, atau dengki tetapi percaya kepada Allah yang dapat memenuhi kebutuhannya. Manusia tidak perlu mencari kesenangan dari percabulan, perzinahan, atau hubungan seks yang tidak wajar, tetapi percaya kepada Allah yang memberikan damai sejahtera dan kebahagiaan yang sejati. Singkatnya, manusia butuh percaya kepada Tuhan dan bergantung kepada-Nya. Kebergantungan kepada dosa mendatangkan konsekuensi yang buruk, kehidupan yang kacau dan hancur, dan pada akhirnya tidak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah tetapi neraka.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa percaya dan bergantung kepada Engkau bukan kepada dosa dan kesenangan duniawi. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Kamis, 27 November 2008

THE TRUTH ABOUT TRINITY

Jumat, 28 November 2008

Bacaan: Fil 2:6-11

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib,
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku:”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Kekristenan sering ditentang, diejek dan ditertawakan. Sejak dulu. Bukan saja di zaman modern akhir-akhir ini. Bukan saja umat Kristen tetapi juga rasul-rasul, bahkan Yesus sendiri. Mereka diejek dan ditertawakan karena percaya kepada Allah yang mempunyai tiga pribadi tetapi juga percaya bahwa Allah adalah satu. Dan Allah yang mempunyai tiga pribadi tetapi satu itu, entah bagaimana caranya, salah satunya turun ke dunia, menjadi manusia dan mati di kayu salib. Bagaimana mungkin? Masakan Allah mati? Begitulah biasanya pertanyaan yang mengandung ejekan yang menyudutkan itu dilontarkan. Paulus sendiri pernah diejek dan ditertawakan di ruang presentasi Aeropagus di Athena karena memberitakan kebangkitan Anak Allah yaitu Yesus Kristus.

Tidak sedikit umat Kristen berbalik dari imannya. Ada yang tidak percaya lagi kepada Allah yang tidak masuk akal menurutnya. Ada pula yang abstain, yang tidak berani bersikap atau mengakui dirinya sebagai Kristen. Kekristenan menjadi agama. Suatu kepercayaan yang dianut untuk melengkapi status sosial di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang Kristen yang seolah diam bukan saja karena tidak dapat menjelaskannya dengan jelas tetapi juga karena mereka sendiri merasakan serangan ketidakpercayaan itu begitu kuat. Dan mereka sendiri meragukan ke-Tritunggalan Allah. Singkatnya, bagaimana mungkin mereka meng-encounter serangan para penentang dan pengejeknya sedangkan mereka sendiri ragu dan tidak percaya.

Manusia pada umumnya seringkali terkondisi untuk menyimpulkan bahwa apa yang sukar atau sulit diterima oleh rasio adalah irasional. Apa yang bukan personal disebut dengan impersonal. Permasalahannya, apa yang sedang dinilai atau disimpulkan manusia bukanlah apa yang setara atau inferior dari pada mereka. Ketika menilai atau menyimpulkan tentang Tuhan manusia bukanlah melihat ke bawah tetapi ke atas. Sesuatu yang tidak dapat mereka jangkau. Tidak dapat mereka capai dan lihat semuanya. Jangankan menilai atau menyimpulkan tentang Tuhan, menghitung bintang di langit saja manusia tidak sanggup. Jangankan melihat Tuhan, melihat bintang di ujung langit terjauh manusia belum dapat. Mereka mengira-ngira dengan menyebut satuan jarak dengan kecepatan cahaya. Jelas sekali bahwa manusia sangat amat inferior dibanding Tuhan sehingga tidak dapat menilai dan menyimpulkannya kecuali jika Allah menyatakan diri-Nya. Itupun bukan dengan rasio semata tetapi dengan iman. Karena Allah bukanlah irasional tetapi super rasional. Allah bukanlah impersonal tetapi super personal.

Orang Kristen tidak perlu malu karena ejekan atau tertawaan orang-orang yang tidak percaya kepada Allah Tri Tunggal. Tidak perlu pula mencoba menyederhanakan dengan mengatakan bahwa Allah memang “tiga” bukan “tiga tetapi satu” atau hanya satu yaitu Allah saja, Yesus bukan Allah tetapi ciptaan Allah dan Roh Kudus juga bukan Allah tetapi energi atau kekuatan Allah. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Kesimpulan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab.

Memang sejauh ini orang-orang Kristen hanya dapat menggambarkan ke-Tri Tunggal-an Allah melalui ilustrasi. Entahkah itu dengan ilustrasi tentang “air, embun dan es” atau “batang, ranting dan daun”, dan lain semacamnya. Tetapi tidak berarti bahwa kekristenan adalah agama yang dibuat-buat. Jika demikian maka pencipta agama Kristen adalah pencipta agama yang paling bodoh karena menawarkan Allah Tri Tunggal yang tidak mudah diterima oleh banyak orang. Seperti yang disimpulkan oleh C S Lewis dalam bukunya Mere Christianity berikut ini:

Jika Kekristenan adalah sesuatu yang kita buat-buat, tentu saja kita bisa menjadikannya lebih mudah. Tetapi tidak demikian. Kita tidak bisa menyaingi kesederhanaan dari orang-orang yang menciptakan agama. Bagaimana mungkin? Kita sedang berurusan dengan Fakta. Tentu saja siapapun bisa menjadi sederhana jika ia tidak perlu merisaukan fakta apapun. (C. S Lewis, Mere Christianity)

Kekristenan bukan saja dapat menerima fakta atau tidak bertentangan dengannya. Tetapi kekristenan adalah fakta. Adapun hal-hal yang belum dapat disebut sebagai fakta bukan karena ia tidak eksis atau tidak ada tetapi karena manusia tidak dapat melihat atau menjangkaunya.

Seperti halnya tentang kebangkitan Yesus, fakta dari Allah menghantam apa yang disebut sebagai rasio, sehingga membuat panik dan bingung para petinggi agama Yahudi. Mereka tidak dapat mengalahkan fakta-Nya tetapi berlari, menghindar, dan menjauhi-Nya dengan cara menyebarkan berita palsu. Benarkah kebangkitan orang mati adalah hal yang mustahil atau tidak rasional? Ya, bagi manusia yang berdosa tetapi tidak bagi Allah yang menjelma menjadi manusia yang tidak berdosa, demi menyelamatkan manusia.

Kesimpulannya, Allah bukanlah irasional tetapi super rasional. Allah Tri Tunggal bukanlah impersonal tetapi super personal. Ia bukan tidak factual tetapi keterbatasan manusia-lah yang tidak dapat melihat dan menjangkau diri-Nya. Percayalah kepada Allah yang sama seperti yang diberitakan atau yang dinyatakan oleh-Nya. It is The Truth About Trinity.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa percaya kepada Allah yang super rasional, yang super personal, yang bukan tidak factual tetapi yang melampaui diri hamba soal fakta. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.


Rabu, 26 November 2008

CHRISTMAS DAY


BUY NOW!

CD CHRISTMAS DAY at Special Promotional Price


@ Rp. 20.000,-/ piece


or

BUY 5 GET 1 FREE


Further info or Order, please contact:

BEREAN PUBLICATION HOUSE
( Phone: 62 21 3272 6785 or E-mail: naek@gkdi.org )

THE TRUTH ABOUT CHRISTMAS

Kamis, 27 November 2008

Bacaan: Fil 2:6-11

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib,
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku:”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pada umumnya, perayaan Natal tidak berbeda dari tahun ke tahun. Pohon Natal dengan lampu-lampu kerlap-kerlip ditambah aksesoris berwarna-warni menghiasi ruang dan jalan. Kado-kado hadiah Natal, boneka, kaos kaki, Santa Claus, makanan-minuman yang lebih mewah dari biasanya, pakaian yang baru, orang-orang yang asyik ngobrol sampai larut malam, makan, minum, tertawa, mabuk, berpesta, menikmati berbagai acara, hiburan, jalan-jalan, dan lain sebagainya. Hampir semua tempat, baik di desa, di kota, maupun di tiap-tiap negara di dunia diwarnai gemerlap Natal yang sama. Hampir tak ada bedanya dari tahun ke tahun. Musik dan lagu-lagu yang sama. Warna hijau, merah dan putih yang dominan. Drama tentang bayi Yesus yang lahir di palungan. Khotbah-khotbah tentang kelahiran Yesus. Sekali lagi, sama, tidak berbeda.

Banyak hal positif dari cara orang merayakan Natal. Orang-orang bergembira, bersuka ria, berkumpul dengan keluarga, teman atau rekan sekerja, berbagi hadiah dan lain sebagainya. Tetapi juga tidak sedikit yang dangkal pengertiannya, yang duniawi, yang malah berbuat dosa di hari yang dianggap sebagai hari kesenangan tersebut. Pesta pora, mabuk-mabukan, materialisme, konsumerisme, dan egoisme sering kali mewarnai perayaan ini. Di sisi lain, ada pula yang menentang keras perayaan Natal dengan mempersoalkan Santa Claus, tanggal perayaan, asal usul perayaan Natal, latar belakangnya, dan lain-lain.

Itulah realitas perayaan Natal di dunia sekarang ini. Pertanyaannya, bagaimanakah seorang Kristen semestinya menyikapi hal ini? Cobalah memulainya dengan membaca Fil 2:6-11, pelajari dan renungkanlah. Ayat 6-7 memberitahukan kita tentang inkarnasi Allah. Ia datang ke dunia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia. Kata “rupa” di dalam bahasa Inggris disebut dengan “form” yang artinya bentuk. Tetapi di dalam bahasa Yunani terdapat dua kata yang berbeda yang mengartikan “bentuk”. Yang pertama, mengartikan bentuk yang tidak dapat diubah, yang esensial, unchanging character, internal. Yang kedua mengartikan bentuk yang dapat diubah, yang eksternal, atau yang biasa disebut dengan “fashion”. Singkatnya, meskipun Allah mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia, Ia, di dalam diri-Nya, yang esensial, internal, yang tidak berubah, yang tetap adalah Allah. Dengan kata yang lain, Yesus Kristus adalah fully man dan fully God.

Tidak heran ke-Allah-an-Nya sangat nyata dan jelas. Ia sangat berhikmat, sangat berkuasa, dan sempurna. Ia menyembuhkan berbagai penyakit, meredakan angin ribut, berjalan di atas air, membangkitkan orang mati, bahkan Ia sendiri bangkit dari mati. Dan Yesus sendiri mengatakannya bahwa Ia telah ada sebelum Abraham. Ia telah memiliki kemuliaan sebelum dunia ada dan Ia lebih berhikmat dari Salomo (band. Yohanes 8:58; 17:5; Matius 12:42).

Jika banyak manusia mungkin menyalahgunakan privilege di dalam hidupnya sehingga menjadi egois, materialis, konsumeris atau narsis, tetapi Yesus tidak. Ia tidak menggunakan privilege-Nya untuk menjadi seperti itu. Melainkan Ia merendahkan diri-Nya, menjadi seorang hamba, bukan ber-pura-pura atau berlagak seperti hamba, tetapi benar-benar menjadi seorang hamba, melayani, membasuh kaki murid-murid-Nya, ditolak, direndahkan, dihina, diejek, dicaci-maki, dipukul, dicambuk, dimahkotai duri, dan disalibkan.

Ayat 9-11 dari Filipi pasal 2 memberitahukan bahwa Yesus ditinggikan dan dimuliakan pada akhirnya. Suatu pelajaran, suatu teladan dan suatu kebenaran dari Yesus bahwa jika seseorang merendahkan dirinya dihadapan Tuhan maka Ia akan meninggikan orang itu (band. Yak 4:10).

Kesimpulannya, jadilah rendah hati. Rendahkanlah diri Anda. Sadarlah siapa Anda dihadapan-Nya. Orang yang hina dan berdosa dan bertobatlah, maka Ia akan meninggikan Anda. Bukan dengan cara Anda tetapi dengan cara Dia.

Rayakanlah Natal sebagai momen untuk mengasihi orang lain dengan kasih Tuhan. Dan beritakanlah bahwa Allah telah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib, dan kemudian bangkit pada hari yang ketiga, supaya orang-orang yang percaya dan bertobat dari dosa-dosanya akan diselamatkan. It is The Truth About Christmas.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa rendah hati di hadapan Engkau. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Selasa, 25 November 2008

BIG BANG ATAU BIG GOD?

Rabu, 26 November 2008

Bacaan: Roma 1:18-23

1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian- Nya, dapat nampak kepada pikiran dan karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Ada 3 (tiga) cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Pertama, melalui ciptaan-Nya. Kedua, melalui para nabi atau tulisan para nabi. Ketiga, melalui Yesus Kristus.

Dari ciptaan-Nya, manusia dapat tahu dan mengerti bahwa Allah adalah Allah Yang Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Tahu dan Maha Dahsyat. Dari para nabi, manusia mendengar dan mengetahui kehendak atau keinginan Allah, janji-janji-Nya, apa yang berkenan dan yang tidak berkenan kepada-Nya. Dan dari Yesus Kristus, manusia mendapat kunjungan Allah. Manusia dapat melihat Allah di dalam daging. Ia berinkarnasi menjadi manusia tanpa dosa atau tanpa ternodai olehnya.

Jika melalui ciptaan-Nya, Ia seolah berbisik, melalui para nabi, Ia berbicara, tetapi melalui Yesus Kristus, Ia berteriak. Berteriak di Bait Allah. Di atas bukit. Berteriak kepada para petinggi agama Yahudi. Kepada orang-orang yang tidak percaya dan kepada orang-orang tidak bertobat. Ia berteriak di atas kayu salib. Di bukit Golgota. Ia berteriak “Eli Eli Lama Sabakhtani”. Karena Ia sangat mengasihi Anda dan saya.

Jika melalui ciptaan-Nya Ia seolah tampak jauh, melalui para nabi Ia tampak lebih dekat, tetapi melalui Yesus Kristus, Ia hadir bersama-sama dengan kita, dekat dengan kita, di tengah-tengah kita. Ia berada di antara kita dan di dalam kita. Ia menampakkan diri-Nya secara utuh, lengkap dan sempurna di dalam daging yaitu Yesus Kristus.

Pada ayat 20 Roma pasal 1 disebutkan bahwa karya atau ciptaan-Nya saja cukup untuk membungkamkan manusia sehingga tidak dapat berdalih bahwa Ia ada. Dengan kata lain, atheisme adalah suatu isme yang tidak mempunyai dasar atau alasan yang kuat.

Atheisme percaya bahwa Allah tidak ada tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa langit, bumi dan segala isinya ada. Mereka meluncurkan teori “Big Bang” tetapi tidak dapat menjawab siapa pelaku atau yang berada di balik ledakan “Big Bang”. Jika atheisme didasari atas logika dan rasio maka teori “Big Bang” adalah teori yang tidak logis atau irasional. Karena bagaimana mungkin ledakan “Big Bang” dapat terjadi tanpa “Big God”.

Albert Einstein pernah berkata:”Tentu saja ada kekuatan masif di balik penciptaan alam semesta.” Dengan kata lain, meskipun Albert Einstein tidak menyebut Tuhan sebagai pencipta alam semesta, setidaknya ia lebih rasional daripada orang-orang atheis.

Jadi bukan soal apakah Allah ada atau tidak ada, bukan soal dapat berdalih atau tidak dapat berdalih, tetapi soal apakah manusia mencari Allah dengan segenap hati atau tidak. Karena Allah telah menyatakan diri-Nya melalui ciptaan-Nya, melalui para nabi dan Kitab Suci dan melalui Yesus Kristus. Jika seseorang tidak mencari Tuhan, maka sangat mungkin bahwa orang tersebut tidak menginginkan Tuhan di dalam hidupnya, atau mungkin ia telah menganggap dirinya sebagai tuhan.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa percaya, patuh dan tunduk kepada Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.