Jumat, 3 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 9:24-25
9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
Sepertinya Paulus tidak sedang mengambil sisi kompetisi dari ilustrasi tentang pertandingan tetapi sisi kesungguhan atau semangat pesertanya dalam memenangkan pertandingan demi mendapatkan hadiah. Selain itu ia pun menggunakan ilustrasi tersebut untuk menggambarkan sasaran atau target peserta yaitu mendapatkan mahkota yang abadi yang disediakan Allah bagi orang-orang Kristen.
Bukan saja di zaman Paulus, di zaman sekarang pun setiap orang yang mengikuti pertandingan mempersiapkan diri, melatih diri, memperhatikan nutrisi, istirahat, teknik, skill, kecepatan, ketahanan, kekuatan, konsentrasi, fleksibilitas dan lain-lain.
Artinya, setiap orang Kristen semestinya tidak memandang kekristenan sebagai sesuatu yang enteng, santai atau seadanya. Sebaliknya, setiap orang Kristen semestinya tekun belajar, melatih diri, fokus, intense, melengkapi diri, dan menjadi lebih dan lebih rohani dari waktu ke waktu. Jika tidak demikian, maka kekristenan seseorang patut dipertanyakan.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjadi seorang Kristen yang sungguh-sungguh, tekun, giat dan rajin melatih diri secara rohani. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Minggu, 12 Oktober 2008
AMBISI ROHANI
Kamis, 2 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 9:20-23
9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Paulus seringkali menyesuaikan dirinya di tengah orang lain tanpa melakukan dosa atau menjadi pendosa. Hal itu ia lakukan semata-mata demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang.
Di zaman sekarang, prinsip atau cara seperti ini menjadi ilmu pengetahuan, mata pelajaran atau strategi di bidang psikologi, bisnis, marketing, komunikasi, dan lain-lain. Karena, prinsip atau cara tersebut sangat efektif dalam mengkomunikasikan pesan, mendapat perhatian atau pengaruh dari orang lain. Bedanya, Paulus melakukan hal itu bukan semata-mata sebagai teknik atau metode mempengaruhi orang lain, tetapi, untuk menyelamatkan mereka, untuk sesuatu yang ilahi atau kekal sifatnya, dan karena didorong oleh kasih Allah yang ada di dalam dirinya. Ia sangat mengasihi Allah dan sangat mengasihi sesama manusia.
Seperti yang ia impikan, Paulus memang telah mendapat bagian di dalam Injil. Ia menjadi penulis 13 surat yang merupakan bagian terbesar di dalam Alkitab Perjanjian Baru, menjadi rasul dan pendiri jemaat-jemaat di zaman Perjanjian Baru, dan tentunya ia pun mendapat tempat di sorga bersama dengan Allah.
Melalui ayat ini terkesan jelas ambisi rohani Paulus. Sesuatu yang dapat dipetik sebagai hikmah atau pelajaran bagi orang Kristen, pendeta, atau pekerja full time gereja, yaitu, bahwa impian atau sasaran orang Kristen semestinya bersifat rohani bukan duniawi.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan ambisi yang rohani di dalam diri hamba senantiasa. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:20-23
9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Paulus seringkali menyesuaikan dirinya di tengah orang lain tanpa melakukan dosa atau menjadi pendosa. Hal itu ia lakukan semata-mata demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang.
Di zaman sekarang, prinsip atau cara seperti ini menjadi ilmu pengetahuan, mata pelajaran atau strategi di bidang psikologi, bisnis, marketing, komunikasi, dan lain-lain. Karena, prinsip atau cara tersebut sangat efektif dalam mengkomunikasikan pesan, mendapat perhatian atau pengaruh dari orang lain. Bedanya, Paulus melakukan hal itu bukan semata-mata sebagai teknik atau metode mempengaruhi orang lain, tetapi, untuk menyelamatkan mereka, untuk sesuatu yang ilahi atau kekal sifatnya, dan karena didorong oleh kasih Allah yang ada di dalam dirinya. Ia sangat mengasihi Allah dan sangat mengasihi sesama manusia.
Seperti yang ia impikan, Paulus memang telah mendapat bagian di dalam Injil. Ia menjadi penulis 13 surat yang merupakan bagian terbesar di dalam Alkitab Perjanjian Baru, menjadi rasul dan pendiri jemaat-jemaat di zaman Perjanjian Baru, dan tentunya ia pun mendapat tempat di sorga bersama dengan Allah.
Melalui ayat ini terkesan jelas ambisi rohani Paulus. Sesuatu yang dapat dipetik sebagai hikmah atau pelajaran bagi orang Kristen, pendeta, atau pekerja full time gereja, yaitu, bahwa impian atau sasaran orang Kristen semestinya bersifat rohani bukan duniawi.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan ambisi yang rohani di dalam diri hamba senantiasa. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
CITRA ATAU JIWA
Rabu, 1 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 9:19
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Paulus ingin memenangkan sebanyak mungkin orang, meskipun ia harus menjadi hamba dari orang lain. Dengan kata lain, bagi Paulus, memenangkan orang bagi Kristus lebih berharga daripada jabatan, status, reputasi atau citra dirinya di mata orang lain. Bukanlah sekedar kata-kata ketika Paulus mengatakan bahwa ia adalah pengikut Yesus, dan Kristus diam di dalam dirinya. Karena sikap dan tindakan Paulus persis seperti Yesus, yang merendahkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:6-8).
Sikap atau tindakan Paulus tersebut merupakan suatu pengorbanan secara mental. Orang Kristen semestinya tidak perlu merasa malu, sedih, kecewa, sakit hati atau tersinggung apabila ia direndahkan atau diremehkan orang lain. Atau, mereka pun tidak perlu mencari-cari cara untuk mengangkat citra diri di mata orang lain. Karena bukanlah diri sendiri yang akan menjadi sentral, atau fokus utama penginjilan tetapi Kristus dan keselamatan manusia.
Di zaman modern tidak sedikit orang Kristen yang lebih mementingkan citra diri lebih daripada memenangkan orang bagi Kristus. Apalagi dengan berkembangnya teknologi komunikasi, manusia dapat dengan mudah melakukan pencitraan diri melalui televisi, surat kabar, radio, internet, outdoor ad, billboard, website, blog, dan lain-lain.
Jadi jika citra diri telah menjadi fokus utama seorang Kristen, maka sudah saatnya ia kembali ke jalan yang benar, yaitu mengikuti teladan rasul Paulus dan Yesus Kristus.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menjadi rendah hati sehingga dapat memenangkan orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:19
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Paulus ingin memenangkan sebanyak mungkin orang, meskipun ia harus menjadi hamba dari orang lain. Dengan kata lain, bagi Paulus, memenangkan orang bagi Kristus lebih berharga daripada jabatan, status, reputasi atau citra dirinya di mata orang lain. Bukanlah sekedar kata-kata ketika Paulus mengatakan bahwa ia adalah pengikut Yesus, dan Kristus diam di dalam dirinya. Karena sikap dan tindakan Paulus persis seperti Yesus, yang merendahkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:6-8).
Sikap atau tindakan Paulus tersebut merupakan suatu pengorbanan secara mental. Orang Kristen semestinya tidak perlu merasa malu, sedih, kecewa, sakit hati atau tersinggung apabila ia direndahkan atau diremehkan orang lain. Atau, mereka pun tidak perlu mencari-cari cara untuk mengangkat citra diri di mata orang lain. Karena bukanlah diri sendiri yang akan menjadi sentral, atau fokus utama penginjilan tetapi Kristus dan keselamatan manusia.
Di zaman modern tidak sedikit orang Kristen yang lebih mementingkan citra diri lebih daripada memenangkan orang bagi Kristus. Apalagi dengan berkembangnya teknologi komunikasi, manusia dapat dengan mudah melakukan pencitraan diri melalui televisi, surat kabar, radio, internet, outdoor ad, billboard, website, blog, dan lain-lain.
Jadi jika citra diri telah menjadi fokus utama seorang Kristen, maka sudah saatnya ia kembali ke jalan yang benar, yaitu mengikuti teladan rasul Paulus dan Yesus Kristus.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menjadi rendah hati sehingga dapat memenangkan orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
UPAH PEMBERITA INJIL
Selasa, 30 September 2008
Bacaan: I Kor 9:17-18
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Memberitakan Injil dan menjadi pemberita-Nya merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi Paulus. Sehingga meskipun tanpa upah atau tanpa mempergunakan haknya sebagai pemberita Injil, hal itu tidak mengurangi rasa penghargaan, rasa syukur dan bangga di dalam diri Paulus.
Mengapa demikian? Karena Paulus merasakan betapa beruntungnya dirinya. Dari seorang penganiaya Jemaat, mendapat pengampunan dosa dan keselamatan bahkan dipilih menjadi rasul Kristus.
Rasa syukur atau bahagia seperti Paulus tentunya dapat juga dirasakan oleh setiap orang yang bertobat dan menerima pengampunan dosa dari Allah. Dengan demikian mereka pun dapat memandang pemberitaan Injil sebagai sesuatu yang sangat berharga walau tanpa mempergunakan hak-hak pemberita Injil seperti mendapat pembiayaan hidup, transportasi, jamuan makan-minum, dan lain sebagainya dari orang lain.
Para pemberita Injil di zaman modern yang tidak/ belum mempergunakan hak-haknya sebagai pemberita Injil semestinya tidak perlu sedih atau kecewa. Sebaliknya, para pemberita Injil yang mempergunakan atau menuntut hak-haknya secara berlebihan tentunya perlu mengintrospeksi diri dan bertobat jika telah menjadi serakah atau kuatir akan penghidupannya. Demikian pula para pekerja full-time, pekerja part-time atau pendeta awam semestinya tetap menjaga rasa penghargaan dan rasa bangga atas pekerjaan atau pelayanan Allah walau tanpa mendapat kemudahan atau sambutan ketika ingin mempergunakan hak-haknya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan rasa penghargaan, rasa syukur, beruntung, dan rasa bangga yang daripada Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:17-18
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Memberitakan Injil dan menjadi pemberita-Nya merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi Paulus. Sehingga meskipun tanpa upah atau tanpa mempergunakan haknya sebagai pemberita Injil, hal itu tidak mengurangi rasa penghargaan, rasa syukur dan bangga di dalam diri Paulus.
Mengapa demikian? Karena Paulus merasakan betapa beruntungnya dirinya. Dari seorang penganiaya Jemaat, mendapat pengampunan dosa dan keselamatan bahkan dipilih menjadi rasul Kristus.
Rasa syukur atau bahagia seperti Paulus tentunya dapat juga dirasakan oleh setiap orang yang bertobat dan menerima pengampunan dosa dari Allah. Dengan demikian mereka pun dapat memandang pemberitaan Injil sebagai sesuatu yang sangat berharga walau tanpa mempergunakan hak-hak pemberita Injil seperti mendapat pembiayaan hidup, transportasi, jamuan makan-minum, dan lain sebagainya dari orang lain.
Para pemberita Injil di zaman modern yang tidak/ belum mempergunakan hak-haknya sebagai pemberita Injil semestinya tidak perlu sedih atau kecewa. Sebaliknya, para pemberita Injil yang mempergunakan atau menuntut hak-haknya secara berlebihan tentunya perlu mengintrospeksi diri dan bertobat jika telah menjadi serakah atau kuatir akan penghidupannya. Demikian pula para pekerja full-time, pekerja part-time atau pendeta awam semestinya tetap menjaga rasa penghargaan dan rasa bangga atas pekerjaan atau pelayanan Allah walau tanpa mendapat kemudahan atau sambutan ketika ingin mempergunakan hak-haknya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan rasa penghargaan, rasa syukur, beruntung, dan rasa bangga yang daripada Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
ANTARA HAK DAN KEHARUSAN
Senin, 29 September 2008
Bacaan: I Kor 9:15-16
9:15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Ruang lingkup pembicaraan Paulus tersebut adalah mengenai hak rasul dan pemberitaan Injil. Sehingga dapat dengan mudah dimengerti bahwa ia sedang mengatakan bahwa menjadi alat dan pilihan Allah adalah suatu kemegahan. Dan, pemberitaan Injil adalah keharusan bagi dirinya. Oleh karena itu ia bahkan tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak-nya. Dan tidak sedang mengupayakannya dengan cara menulis surat kepada Jemaat Korintus.
Paulus memandang pemberitaan Injil adalah keharusan bagi dirinya karena:
1. Ia telah dipanggil dan dipilih Allah menjadi alat-Nya (band. Kis 9:3-9).
2. Ia telah mengerti dan mengenal Allah dan kehendak-Nya yaitu agar semua orang diselamatkan. (band. Tim 1: 4).
3. Ia telah menemukan kebenaran Kitab Suci yang sesungguh-Nya (band. Fil 3:7-9).
4. Ia tahu bahwa tidak ada hal yang paling penting dan paling berarti daripada pemberitaan Injil (band. Fil 1: 21).
5. Ia merasa berhutang kepada orang lain yang belum/ tidak mengerti Kitab Suci dan kebenaran Allah. (band. Rom 1:14-15).
Orang-orang Kristen semestinya mempunyai perspektif yang sama dengan Paulus tentang pemberitaan Injil dan hak-haknya. Memperoleh apa yang menjadi haknya bukanlah menjadi keharusan yang melebihi keharusan memberitakan Injil.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan keyakinan yang dalam akan pemberitaan Injil dan hak para pemberita Injil sehingga hamba tetap memberitakannya meski tidak mendapat kesempatan atau kebebasan besar memperoleh hak-hak hamba. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:15-16
9:15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Ruang lingkup pembicaraan Paulus tersebut adalah mengenai hak rasul dan pemberitaan Injil. Sehingga dapat dengan mudah dimengerti bahwa ia sedang mengatakan bahwa menjadi alat dan pilihan Allah adalah suatu kemegahan. Dan, pemberitaan Injil adalah keharusan bagi dirinya. Oleh karena itu ia bahkan tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak-nya. Dan tidak sedang mengupayakannya dengan cara menulis surat kepada Jemaat Korintus.
Paulus memandang pemberitaan Injil adalah keharusan bagi dirinya karena:
1. Ia telah dipanggil dan dipilih Allah menjadi alat-Nya (band. Kis 9:3-9).
2. Ia telah mengerti dan mengenal Allah dan kehendak-Nya yaitu agar semua orang diselamatkan. (band. Tim 1: 4).
3. Ia telah menemukan kebenaran Kitab Suci yang sesungguh-Nya (band. Fil 3:7-9).
4. Ia tahu bahwa tidak ada hal yang paling penting dan paling berarti daripada pemberitaan Injil (band. Fil 1: 21).
5. Ia merasa berhutang kepada orang lain yang belum/ tidak mengerti Kitab Suci dan kebenaran Allah. (band. Rom 1:14-15).
Orang-orang Kristen semestinya mempunyai perspektif yang sama dengan Paulus tentang pemberitaan Injil dan hak-haknya. Memperoleh apa yang menjadi haknya bukanlah menjadi keharusan yang melebihi keharusan memberitakan Injil.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan keyakinan yang dalam akan pemberitaan Injil dan hak para pemberita Injil sehingga hamba tetap memberitakannya meski tidak mendapat kesempatan atau kebebasan besar memperoleh hak-hak hamba. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
RASUL BAGI NON-YAHUDI
Minggu, 28 September 2008
Bacaan: I Kor 9:11-13
9:11 Jadi jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu,
9:12 Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami lebih mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.
Paulus, Barnabas dan rekan sekerja mereka adalah orang-orang yang memulai jemaat Korintus. Dapat diketahui melalui perkataannya bahwa ia adalah penanam (I Kor 3:6a), seorang ahli bangunan yang cakap (I Kor 3:10); dan rasul bagi bangsa non-Yahudi.
Sebagai rasul bagi bangsa non-Yahudi, mereka menghadapi tantangan khusus yang tidak dihadapi oleh rasul bangsa Yahudi seperti: Petrus, Yohanes, Yakobus, dan lain-lain.
Orang-orang Yahudi telah membaca dan tahu tentang Perjanjian Lama. Sehingga ditinjau dari culture gap, religion atau language gap, rasul Yahudi tidak mempunyai jarak yang terlalu besar atau jauh terhadap bangsa mereka sendiri, yaitu bangsa Yahudi. Sedangkan Paulus dan Barnabas menghadapi tantangan berupa budaya, agama dan bahasa yang sangat berbeda dengan orang-orang non-Yahudi. Mereka bahkan dikritik, ditolak bahkan dianiaya oleh bangsa-bangsa non-Yahudi.
Melalui fakta ini dapat ditemukan bahwa Paulus, seorang rasul bagi bangsa non-Yahudi, yang tidak diajar, dibimbing atau dididik secara langsung seperti rasul-rasul bagi bangsa Yahudi tetap dapat melakukan perkara-perkara besar dan luar biasa. Dan lebih dari itu, Paulus membiayai atau memenuhi sendiri kebutuhannya sehari-hari seperti: makan, minum, dan lain-lain, dengan cara bekerja sebagai tukang kemah. Semua itu ia lakukan semata-mata demi Injil Kristus dapat diberitakan tanpa prasangka buruk atau negatif yang mungkin mengira bahwa ia semata-mata menginginkan hasil duniawi untuk kepentingan diri sendiri.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa melakukan hal extraordinary bagi Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:11-13
9:11 Jadi jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu,
9:12 Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami lebih mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.
Paulus, Barnabas dan rekan sekerja mereka adalah orang-orang yang memulai jemaat Korintus. Dapat diketahui melalui perkataannya bahwa ia adalah penanam (I Kor 3:6a), seorang ahli bangunan yang cakap (I Kor 3:10); dan rasul bagi bangsa non-Yahudi.
Sebagai rasul bagi bangsa non-Yahudi, mereka menghadapi tantangan khusus yang tidak dihadapi oleh rasul bangsa Yahudi seperti: Petrus, Yohanes, Yakobus, dan lain-lain.
Orang-orang Yahudi telah membaca dan tahu tentang Perjanjian Lama. Sehingga ditinjau dari culture gap, religion atau language gap, rasul Yahudi tidak mempunyai jarak yang terlalu besar atau jauh terhadap bangsa mereka sendiri, yaitu bangsa Yahudi. Sedangkan Paulus dan Barnabas menghadapi tantangan berupa budaya, agama dan bahasa yang sangat berbeda dengan orang-orang non-Yahudi. Mereka bahkan dikritik, ditolak bahkan dianiaya oleh bangsa-bangsa non-Yahudi.
Melalui fakta ini dapat ditemukan bahwa Paulus, seorang rasul bagi bangsa non-Yahudi, yang tidak diajar, dibimbing atau dididik secara langsung seperti rasul-rasul bagi bangsa Yahudi tetap dapat melakukan perkara-perkara besar dan luar biasa. Dan lebih dari itu, Paulus membiayai atau memenuhi sendiri kebutuhannya sehari-hari seperti: makan, minum, dan lain-lain, dengan cara bekerja sebagai tukang kemah. Semua itu ia lakukan semata-mata demi Injil Kristus dapat diberitakan tanpa prasangka buruk atau negatif yang mungkin mengira bahwa ia semata-mata menginginkan hasil duniawi untuk kepentingan diri sendiri.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa melakukan hal extraordinary bagi Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
GEREJA DAN UANG
Sabtu, 27 September 2008
Bacaan: I Kor 9:7-10
9:7 Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?
9:8 Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian?
9:9 Sebab dalam hukum Musa ada tertulis:”Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” Lembukah yang Allah perhatikan?
9:10 Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.
Karyawan swasta pada umumnya mendapatkan gaji, komisi, atau bonus dari perusahaan di mana ia bekerja. Pegawai negeri mendapatkan penghasilan dari pemerintah atau negara. Pengusaha mengupayakan pendapatan melalui hasil usaha. Bagaimana dengan pendeta atau pekerja full time gereja? Dari mana atau bagaimanakah mereka memperoleh gaji atau uang?
Anda tahu jawabannya. Di zaman modern, pertanyaan ini lebih mudah untuk dijawab, tetapi tidak pada zaman Paulus.
Di zaman Paulus, gereja baru saja dimulai. Cara, metode, pengelolaan, atau pengorganisasian gereja masih sangat sederhana. Alkitab mencatat tentang awal mula pembagian pelayanan firman dan non-firman. Pembagian tersebut dilatarbelakangi dengan konflik yang terjadi karena kebutuhan sandang-pangan yang tidak terpenuhi bagi anggota-anggota tertentu di dalam jemaat (band. Kis 6:1-6). Sehingga dipilihlah 7 (tujuh) orang untuk mengurus atau menangani hal-hal semacam itu.
Orang-orang Kristen di zaman modern semestinya tidak critical atau negative terhadap pendeta atau pekerja full time yang mendapatkan gaji atau uang dari gereja. Demikian pula dengan pendeta atau pekerja full time semestinya jangan merasa bersalah, risih, atau rendah diri karena penghasilan yang ia peroleh dari gereja. Atau, pada ekstrim yang lain, pendeta atau pekerja full time gereja juga tidak semestinya menjadi serakah atau materialistis dengan cara menggunakan uang dari gereja. Intinya, gereja perlu pengelolaan keuangan yang baik dan benar dengan mempertimbangkan tujuan gereja, tujuan pelayanan dan yang terutama yaitu tujuan Allah.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan keyakinan yang dalam tentang gereja dan uang sehingga hamba dapat turut mengelola hal tersebut dengan benar di hadapan Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:7-10
9:7 Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?
9:8 Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian?
9:9 Sebab dalam hukum Musa ada tertulis:”Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” Lembukah yang Allah perhatikan?
9:10 Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.
Karyawan swasta pada umumnya mendapatkan gaji, komisi, atau bonus dari perusahaan di mana ia bekerja. Pegawai negeri mendapatkan penghasilan dari pemerintah atau negara. Pengusaha mengupayakan pendapatan melalui hasil usaha. Bagaimana dengan pendeta atau pekerja full time gereja? Dari mana atau bagaimanakah mereka memperoleh gaji atau uang?
Anda tahu jawabannya. Di zaman modern, pertanyaan ini lebih mudah untuk dijawab, tetapi tidak pada zaman Paulus.
Di zaman Paulus, gereja baru saja dimulai. Cara, metode, pengelolaan, atau pengorganisasian gereja masih sangat sederhana. Alkitab mencatat tentang awal mula pembagian pelayanan firman dan non-firman. Pembagian tersebut dilatarbelakangi dengan konflik yang terjadi karena kebutuhan sandang-pangan yang tidak terpenuhi bagi anggota-anggota tertentu di dalam jemaat (band. Kis 6:1-6). Sehingga dipilihlah 7 (tujuh) orang untuk mengurus atau menangani hal-hal semacam itu.
Orang-orang Kristen di zaman modern semestinya tidak critical atau negative terhadap pendeta atau pekerja full time yang mendapatkan gaji atau uang dari gereja. Demikian pula dengan pendeta atau pekerja full time semestinya jangan merasa bersalah, risih, atau rendah diri karena penghasilan yang ia peroleh dari gereja. Atau, pada ekstrim yang lain, pendeta atau pekerja full time gereja juga tidak semestinya menjadi serakah atau materialistis dengan cara menggunakan uang dari gereja. Intinya, gereja perlu pengelolaan keuangan yang baik dan benar dengan mempertimbangkan tujuan gereja, tujuan pelayanan dan yang terutama yaitu tujuan Allah.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan keyakinan yang dalam tentang gereja dan uang sehingga hamba dapat turut mengelola hal tersebut dengan benar di hadapan Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)