Rabu, 13 Januari 2010

DVD Seminar Kristiani - Dr. John Oakes PhD


DVD Seminar Kristiani Dr. John Oakes PhD
Jumat s/d Minggu, 8 - 10 Januari 2010

@Rp. 50.000,- per satu set isi 4 DVD
(harga tidak termasuk ongkos kirim)

Info dan pemesanan hub. Berean Corner Bookstore & Gifts

Rencana dan Tujuan Tuhan

Bacaan: Matius 4:12-17

4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
4:13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,
4:14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
4:15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --
4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
4:17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"


Yesus menyingkir dari Nazaret ke Galilea setelah mendengar bahwa Yohanes ditangkap oleh raja Herodes. Sekilas mungkin tampak seolah Yesus melakukannya karena didorong oleh perasaan takut terhadap raja tersebut – jangan-jangan Ia juga akan mengalami hal yang sama seperti Yohanes Pembaptis. Tetapi tidak demikian artinya jika kita memperhatikan ayat 14 sampai 16. Di sana disebutkan bahwa Yesus melakukannya untuk menggenapi firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya (lih. Yes 8:23-9:1).

Yesus tidak merasa takut terhadap raja Herodes dan tidak dihantui perasaan kalau-kalau Ia akan mengalami hal yang sama seperti Yohanes Pembaptis yang ditangkap, dipenjarakan dan dipenggal kepalanya. Yesus tahu kapan dan bagaimana Ia akan mati. Di Matius pasal 26 ayat 45, Yesus berkata:”…Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.” Dengan kata lain, waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap Ia tidak berpikir bahwa Ia juga akan mengalami hal yang sama pada waktu itu. Yesus tahu dengan jelas saat-saat kematianNya dan sesuai dengan nubuat-nubuat di Perjanjian Lama Ia akan mati dengan cara disalibkan bukan dipenjara dan dipenggal kepalanya seperti Yohanes Pembaptis.

Mengapa kepindahan Yesus ke Galilea tampaknya sangat spesial bahkan dinubuatkan oleh nabi Yesaya? Karena di sana orang-orang yang bukan Yahudi juga akan melihat, menyaksikan dan mendengar Yesus. Galilea meskipun sesungguhnya merupakan daerah atau wilayah bangsa Israel tetapi ia justru dikenal sebagai Galilee of the Gentiles - tempat orang-orang non-Yahudi bukan orang-orang Yahudi. Kota tersebut biasanya dilalui oleh bangsa-bangsa lain ketika masuk atau keluar dari Israel. Dengan kata lain, nabi Yesaya seolah mengatakan bahwa orang-orang non-Yahudi akan mendapat kesempatan yang istimewa dari Yesus. Ia akan membawa keselamatan juga kepada mereka.

Ayat 16 mengatakan:”bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Artinya adalah bahwa bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan akan melihat Dia dan kebenaranNya. Siapakah mereka itu? Mereka adalah bangsa-bangsa non-Yahudi yang ada di sekitar Galilea yang percaya kepada politheisme, panteisme, animisme, mistisisme, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Mereka yang dahulu juga gelap secara moralitas dan rohani akan mengalami perubahan atau transformasi hidup karena Tuhan.

Di ayat 13 disebutkan bahwa Yesus diam di Kapernaum. Di sana Ia memanggil hampir separuh dari rasul-rasul-Nya yaitu Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes dan Matius.

Kesimpulannya, setiap langkah atau tindakan yang dilakukan oleh Yesus bukanlah merupakan insiden atau kebetulan, bukan tanpa agenda atau rencana. Ia mempunyai alasan, maksud dan tujuan yang jelas. Demikian juga terhadap kita, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan yang baik bagi kita. Roma pasal 8 ayat 28 berkata:”…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”



Copyright (c) 2010 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Selasa, 12 Januari 2010

Pencobaan di Padang Gurun

Bacaan: Matius 4:1-10

4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Mengapa Yesus berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam? Selama di dunia Yesus tidak hidup sesuai dengan kehendakNya sendiri. Matius pasal 4 ayat 1 menyebutkan bahwa Yesus dibawa oleh Roh. Di Ibrani pasal 5 ayat 8 disebutkan bahwa Yesus yang meskipun adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat kepada Bapa. Yohanes pasal 5 ayat 19 mengatakan bahwa Yesus tidak mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri tetapi dari Bapa. Ia mengerjakan apa yang dikerjakan oleh Bapa. Dengan kata lain, Yesus ada di padang gurun, berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, dan dicobai oleh Iblis adalah sesuai dengan kehendak Bapa.

Di kitab Ayub digambarkan bahwa pencobaan terhadap Ayub adalah sesuai izin dan kehendak Tuhan. Pertanyaannya, apakah maksud dan tujuan Tuhan? Apakah Ia menginginkan atau menghendaki hal yang buruk terjadi kepada kita? Tentu saja tidak. Di dalam pencobaan, maksud dan tujuan Tuhan berbeda dengan maksud dan tujuan Iblis. Melalui pencobaan, Tuhan bermaksud membangun, sedangkan Iblis bermaksud untuk menjatuhkan. Melalui pencobaan, Tuhan bertujuan untuk menumbuhkan iman dan kerohanian kita, tetapi Iblis bertujuan menimbulkan keraguan terhadap Tuhan dan menentang Dia. Melalui pencobaan Tuhan bermaksud baik, tetapi Iblis bermaksud buruk atau jahat.

Pencobaan di padang gurun tidak disaksikan oleh siapapun kecuali Yesus dan Iblis. Matius pasal 4 ayat 1 sampai 10 adalah contoh pencobaan yang dilakukan oleh Iblis terhadap manusia. Kita dapat mempelajarinya dari sana. Dari Yesus kita dapat mempelajari bagaimana cara yang benar menghadapi pencobaan-pencobaan di dalam hidup kita. Dia adalah contoh dan teladan kita termasuk di dalam hal menghadapi pencobaan. Seperti yang disebutkan oleh Ibrani pasal 4 ayat 15, Imam Besar yang kita punya yaitu Yesus, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Yesus dicobai tiga kali oleh Iblis di padang gurun. Yang pertama, Ia dicobai untuk memerintahkan batu-batu menjadi roti, yang kedua, Ia dicobai untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah, dan yang ketiga dicobai untuk menyembah Iblis. Ketiga pencobaan tersebut pada dasarnya mempunyai kesamaan dalam tujuannya. Iblis mencobai Yesus supaya Ia meragukan Bapa di dalam hal penyediaanNya, di dalam hal penyertaan dan perlindunganNya, dan supaya Ia meragukan Bapa di dalam hal berkat dan kemuliaan dari atau olehNya. Dari manakah kita dapat mengetahui hal tersebut? Jawabannya adalah dari jawaban Yesus terhadap Iblis. Yesus tidak pernah tidak menyebut atau tidak melibatkan Bapa di dalam jawabanNya terhadap Iblis. Ia selalu mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci sehingga kita pun dapat mengikuti contoh atau teladan yang diberikan oleh Yesus. Dan hal tersebut juga menunjukkan bahwa tulisan-tulisan di Kitab Suci adalah otoritatif dan penuh kuasa. Dengan kata lain, Yesus bukannya menjadi ragu terhadap Bapa tetapi justru mengalahkan dan mengusir Iblis dengan menyebut Bapa dan firmanNya sebagai kekuatan dan sandaranNya. Yesus menjawab bahwa manusia juga hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Ia berkata kepada Iblis:”Jangan mencobai Tuhan Allahmu!” dan yang terakhir yaitu yang ketiga, Ia mengusir Iblis dan berkata kepadanya:”Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”

Kesimpulannya, mari lewati pencobaan dengan baik. Jangan pernah meragukan Tuhan di dalam hal penyediaanNya, penyertaan dan perlindunganNya. Jangan ragukan Dia di dalam hal berkat dan kemuliaan yang dijanjikanNya. Kesenangan dari dosa yang dijanjikan oleh iblis adalah bersifat sementara dan mengandung konsekuensi yang berat dan hukuman yang kekal, tetapi, janji Tuhan adalah benar. Di dalam Dia kita memiliki kebahagiaan, sukacita dan damai sejahtera yang sejati.



Copyright © 2010 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Kamis, 07 Januari 2010

Yohanes Pembaptis – Baptisan

Bacaan: Matius 3:5-17

Apa yang dilakukan Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea adalah berkhotbah dan memberitakan bahwa Raja dan Kerajaan Sorga yang dijanjikan itu akan segera datang dan membaptis banyak orang.

Berapa banyakkah orang yang mendengarkan Yohanes Pembaptis, yang bertobat dan memberikan diri mereka dibaptis? Sangat banyak sekali. Matius pasal 3 ayat 5 mengatakan:”…datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.” Dengan kata lain, Yohanes Pembaptis dan pemberitaannya diterima oleh masyarakat luas pada masa itu. Kecuali orang-orang tertentu seperti orang-orang Saduki dan orang-orang Farisi, tidak ada orang yang lain yang disebutkan – ditolaknya untuk dibaptis. Bahkan, pemungut-pemungut cukai dan prajurit-prajurit pun menyerahkan diri untuk dibaptis olehnya (band. Luk 3:10-14).

Dari manakah asal usul atau latar belakang pembaptisan Yohanes? Besar kemungkinan berasal dari Imamat 15 ayat 13 yaitu pembasuhan dan pentahiran dengan air. Pembaptisan juga dikenal di Perjanjian Lama sebagai penerimaan orang-orang non Yahudi ke dalam Yudaisme atau agama Yahudi.

Seperti apakah praktik baptisan itu? Kata “baptis” berasal dari bahasa Yunani yaitu “baptizo” yang berarti dicelupkan atau direndam. Selain dari arti katanya, ayat-ayat di kitab PB juga menunjukkan bahwa praktik pembaptisan adalah dilakukan dengan cara mencelupkan seluruh badan atau tubuh dari orang yang dibaptis. Markus pasal 1 ayat 10 menyebutkan bahwa Yesus keluar dari air, Kisah Para Rasul pasal 8 ayat 38 menyebutkan bahwa Filipus dan sida-sida dari Etiopia turun ke dalam air dan keluar dari air. Tidak ada indikasi bahwa pembaptisan dilakukan dengan cara yang lain seperti pemercikan.

Ditambah lagi dengan pernyataan-pernyataan di PB yang menyebutkan bahwa pembaptisan adalah partisipasi dalam kematian dan penguburan dan kebangkitan Yesus yang jelas menggambarkan pencelupan badan atau tubuh ke dalam air (band. Roma 6:3-4). Kolose 2 ayat 12 menyebutkan demikian:”karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.”

Siapakah atau seperti apakah orang-orang yang dapat menerima baptisan? Orang-orang yang bertobat. Yohanes Pembaptis tidak membaptis orang-orang yang tidak bertobat. Ia menekankan pentingnya pertobatan yang nyata dan sungguh-sungguh sebelum menerima pembaptisan (band. Mat 3:8).

Bagaimana dengan pembaptisan Yohanes terhadap Yesus? Itu berbeda dan tidak sama dengan baptisan Yohanes terhadap orang-orang yang lain. Alkitab jelas menyebutkan bahwa Yohanes Pembaptis semula menolak membaptis Yesus karena Ia tidak berdosa bahkan Ia sendiri berkata kepada Yesus bahwa dirinya-lah yang perlu dibaptis oleh Yesus (band. Mat 3:14). Pembaptisan Yohanes terhadap Yesus adalah tanda bahwa Ia bukan saja rela datang ke dunia tetapi Ia juga rela ada di antara orang-orang berdosa, di tengah-tengah mereka bahkan masuk ke dalam hitungan orang berdosa meskipun Ia tidak berdosa (band. Yoh 8:46; Ibr 4:15; 1 Pet 2:22; 1 Yoh 3:5). Ia akan mengorbankan diriNya dan mati bagi manusia yang berdosa.

Yohanes Pembaptis menyatakan:”Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa daripadaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” (band. Mat 3:11). Apakah arti pernyataan Yohanes Pembaptis tersebut? Yohanes Pembaptis adalah seorang yang mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Seperti yang Ia sebutkan bahwa baptisan yang dilakukan olehnya adalah tanda pertobatan. Kisah Para Rasul pasal 19 ayat 3 sampai 5 menyebutkan bahwa rasul Paulus membaptis lagi orang-orang yang telah menerima baptisan Yohanes dalam nama Tuhan Yesus. Lukas juga menyebut baptisan yang diketahui oleh Apolos dengan ungkapan “tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes” yang menandakan bahwa ada baptisan lagi yang harus diketahui dan diterima olehnya yaitu baptisan dalam nama Tuhan Yesus (band. Kis 18:25).

Kesimpulannya, baptisan harus diterima dengan sikap hati yang benar dan dengan cara yang benar pula. Pembaptisan yang dilakukan lebih dari satu kali adalah tidak salah atau dosa selama itu mempunyai dasar dan alasan yang benar dan alkitabiah.


Related links:
http://en.wikipedia.org/wiki/Baptism#Related_articles_and_subjects

Diskusi dan tanya jawab mengenai topik ini via e-mail kirim ke letters.berean@gmail.com

Copyright © 2009 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Senin, 04 Januari 2010

Yohanes Pembaptis – Apakah Arti “Bertobat”?

Bacaan: Matius 3:2

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Apakah arti dari kata “bertobat”? Dalam Perjanjian Baru, kata “bertobat” atau “pertobatan” disebut dengan kata Yunani μετάνοια (metanoia), yang berarti perubahan pikiran disertai dengan penyesalan dan perubahan perilaku, "perubahan pikiran dan hati", atau "perubahan kesadaran".

Pertobatan melibatkan 3 (tiga) elemen dasar di dalam diri manusia yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak atau keinginan. Orang-orang yang bertobat mengalami perubahan pikiran dari yang tidak tahu, tidak mengerti, atau tidak sadar akan dosa-dosanya menjadi tahu, mengerti, dan sadar akan dosa-dosanya. Mereka mengalami kesedihan atau penyesalan terhadap dosa-dosa mereka di hadapan Tuhan bukan kesedihan atau penyesalan karena akibat atau konsekuensi dosa-dosa tersebut (2 Kor 7). Orang-orang yang bertobat juga mempunyai kehendak atau keinginan untuk berubah dari pikiran, perbuatan, atau hidup mereka yang lama yang berdosa.

Menurut Kisah Para Rasul 26:20, pertobatan adalah berbalik dari dosa, meninggalkan dosa, datang kepada Tuhan dan membina hubungan yang harmonis dan dekat dengan Dia. Pengertian ini sesuai dengan kata pertobatan di dalam Alkitab Ibrani yang diwakili oleh dua kata kerja: שוב shuv (kembali) dan נחם nicham (merasakan kesedihan). Dengan kata lain, orang yang bertobat adalah orang yang merasakan kesedihan atau penyesalan terhadap dosa, berbalik dari dosa itu, meninggalkannya dan kembali kepada Tuhan. Pengertian ini jelas digambarkan oleh perumpamaan tentang anak yang hilang di Injil Lukas pasal 15 dimulai dari ayat 11. Ia sadar akan dosa-dosa dan kesalahannya bahwa ia tidak bersyukur, egois, sombong, serakah, dan penuh hawa nafsu. Ia sedih dan menyesali perbuatan and tingkah lakunya dan kemudian berbalik, meninggalkan kehidupannya yang berdosa dan kembali kepada ayahnya, membina hubungan yang harmonis dan dekat dengan ayahnya tersebut.

Apa hubungannya “bertobat” dan “Kerajaan Sorga sudah dekat”? Yohanes Pembaptis adalah seseorang yang mempersiapkan jalan bagi Raja yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tugas orang yang mempersiapkan jalan bagi seorang raja, yang pertama, adalah mengumumkan atau memberitakan kepada rakyat atau masyarakat bahwa raja akan datang dan yang kedua adalah untuk memastikan supaya tidak ada halangan, hambatan, atau rintangan di tengah perjalanan sehingga raja dapat datang atau tiba dengan tepat waktu di tempat tujuan. Hubungannya dengan bertobat adalah bahwa dengan cara demikian orang-orang akan siap menyambut atau menerima Raja yaitu Yesus dan KerajaanNya yang akan datang.

Apakah yang dimaksud dengan Kerajaan Sorga atau Kerajaan Yesus? Berdasarkan Injil Lukas pasal 17 ayat 21, Kerajaan Sorga atau kerajaan Yesus adalah invisible (tidak dapat dilihat). Yesus berkata bahwa sesungguhnya Kerajaan Sorga ada di antara murid-muridNya (band. Luk 17:21). Berdasarkan Yoh 18:36, Kerajaan Sorga atau Kerajaan Yesus bukan dari dunia dan tidak sama atau berbeda dengan dunia. Ia datang tanpa tanda-tanda lahiriah (band. Luk 17:20). Berdasarkan Wahyu 20:4, Kerajaan Sorga atau Kerajaan Yesus adalah visible selama seribu tahun setelah akhir zaman. Berikut ini adalah bunyi dari ayat tersebut:

Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.

Kesimpulannya, kita harus berbalik dari dosa-dosa kita, meninggalkan dosa-dosa tersebut, datang kepada Dia dan membina hubungan yang harmonis dan dekat denganNya supaya kita berkenan di hadapanNya – menjadi warga kerajaanNya dan memerintah bersama-sama dengan Dia.


Related link:
http://en.wikipedia.org/wiki/Repentance



Copyright © 2010 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Minggu, 03 Januari 2010

Yohanes Pembaptis – Bertobatlah!

Bacaan: Matius 3:1-2

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Empat ratus tahun lamanya tidak ada nabi di Israel sejak Maleakhi sampai Yohanes Pembaptis. Siapakah tokoh atau pemimpin agama yang ada selama itu? Mereka adalah orang-orang Farisi, orang-orang Saduki dan orang-orang Esenes.

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai mereka:
Orang-orang Farisi
Orang-orang Farisi adalah salah satu kelompok agamawan Yahudi yang sangat disegani pada zaman Yohanes Pembaptis. Pekerjaan mereka adalah menginterpretasikan kitab-kitab PL, membuat peraturan-peraturan yang dituangkan ke dalam kitab Talmud, dan mereka juga masih berpegang teguh kepada tradisi nenek moyang yang disampaikan secara verbal turun temurun.

Orang Farisi cenderung bersifat legalis, ritualis, dan tidak kompromis terhadap penjajah Romawi pada masa itu.

Orang-orang Saduki
Orang-orang Saduki adalah kelompok agamawan Yahudi yang dapat dikatakan ‘menguasai’ Bait Suci. Mereka-lah yang mengadakan penjualan hewan-hewan korban persembahan di Bait Suci dan yang mengadakan penukaran uang demi meraup keuntungan yang besar.

Tidak seperti orang Farisi, orang Saduki menolak penerjemahan kitab PL versi Farisi dan lebih percaya kepada 5 kitab Taurat (Pentateukh) ketimbang kitab-kitab nabi-nabi yang lain yang ada di PL.

Orang-orang Saduki tidak percaya kepada kebangkitan atau kehidupan setelah kematian. Mereka cenderung liberalis dan tentunya lebih kompromis dibandingkan dengan orang-orang Farisi.

Orang-orang Esenes
Orang-orang Esenes tidak disebutkan di dalam Alkitab tetapi keberadaan mereka diinformasikan oleh bukti sejarah dan arkeologi. Mereka dikenal sebagai penyalin naskah Alkitab yaitu naskah Qumran atau Dead Sea Scroll yang dikerjakan selama mengasingkan diri dalam koloni-koloni di tempat-tempat yang sunyi dan sepi di Israel.

Tidak seperti orang-orang Farisi dan Saduki, orang-orang Esenes cenderung mengasingkan diri jauh dari kehidupan masyarakat umum untuk bermeditasi dan beribadah kepada Tuhan.

Apakah kata Yohanes Pembaptis tentang orang-orang Farisi dan Saduki? Keduanya sama saja. Yohanes Pembaptis menyebut mereka sebagai keturunan ular beludak (band. Mat 3:7). Apakah artinya? Artinya, keduanya adalah sama seperti nenek moyang mereka yang juga adalah pendusta, licik, dan munafik.

Mengapa Yohanes Pembaptis menyebut mereka demikian? Karena sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh mau bertobat meskipun mereka tampaknya memberi diri dibaptis. Mereka menganggap bahwa menjadi keturunan Abraham berarti mendapat jaminan keselamatan dan hak istimewa dari Tuhan meksi tanpa pertobatan.

Mengapa mereka mau memberi dibaptis? Mungkin karena sudah sangat banyak orang yang dibaptis sehingga mereka merasa perlu dibaptis untuk tetap dapat memegang kendali keagamaan (band. Mat 3:5). Mungkin juga karena mereka berpikir bahwa Yohanes Pembaptis cukup meyakinkan untuk dapat dipercaya sebagai seorang nabi.

Bagaimana kita mengetahui bahwa sikap orang-orang Farisi dan Saduki pada masa itu tidak benar?
Lukas pasal 3 ayat 10 sampai 14 mencatat kontrasnya yaitu sikap yang benar dari orang yang sungguh-sungguh mau bertobat dan dibaptis. Baca dan perhatikanlah ayat-ayat berikut ini:

3:10 Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
3:11 Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"
3:13 Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."
3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.

Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 38 juga menunjukkan hal yang sama yakni sebagai berikut:

2:37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"
2:38 Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus

Kesimpulannya, setiap orang harus bertobat tanpa kecuali. Tuhan tidak peduli siapakah nenek moyang kita, apakah pekerjaan kita, golongan kita, jabatan atau posisi kita di tengah masyarakat, apakah kita petinggi agama atau bukan, kita harus bertobat.



Copyright © 2010 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Sabtu, 02 Januari 2010

Yohanes Pembaptis – Orang yang Terhebat

Bacaan: Matius 3

S
eperti apa orang yang hebat menurut manusia? Secara umum, orang yang hebat menurut manusia, yang pertama, adalah jika orang itu dilahirkan dari keluarga atau keturunan yang dinilai hebat pula. Yang kedua adalah jika orang itu mempunyai kekayaan yang besar atau banyak. Yang ketiga adalah jika orang itu mempunyai pendidikan yang sangat tinggi.

Tuhan berbeda dalam hal menilai orang yang hebat. Pertanyaannya, seperti apakah orang yang hebat menurut Dia? Orang yang terhebat menurut Tuhan adalah seperti Yohanes Pembaptis. Mengapa?
1. Yohanes Pembaptis menuruti firman Tuhan dan setia dari awal hingga akhir hidupnya.
2. Yohanes Pembaptis senantiasa penuh dengan Roh Kudus (band. Luk 1:15).
3. Yohanes Pembaptis menguasai diri dan rela hidup sederhana – jauh dari kesenangan dunia (band. Luk 1:15).
4. Yohanes Pembaptis sangat rendah hati. Ia menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan (band. Yoh 3:30).
5. Yohanes Pembaptis menyampaikan firman Tuhan dengan berani, langsung, dan tanpa rintangan.

Di Matius 11:11 disebutkan ”…Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” Apakah arti dari ayat tersebut?

Artinya adalah:
1. Kita mungkin tidak lebih besar dalam hal karakter dibanding Yohanes Pembaptis tetapi dalam hal privileges dan kesempatan.
2. Kita lebih besar karena memiliki semua resources tentang Raja dan Kerajaan Sorga yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis. Ia adalah orang yang mempersiapkan jalan bagi Raja dan KerajaanNya sedangkan kita hidup setelahnya.
3. Kita memiliki semua realitas yang dinantikan oleh Yohanes Pembaptis.
4. Kita memiliki semua berkat yang dinantikan oleh Yohanes Pembaptis.

Dari penjara Herodes, Yohanes Pembaptis pernah bertanya kepada Yesus melalui murid-muridnya: ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?". Kemudian Yesus menjawab: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."

Yohanes Pembaptis telah tiada sebelum melihat dan mengetahui segala sesuatu tentang Raja yaitu Yesus dan KerajaanNya yang akan datang. Kita disebut sebagai yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis karena resources, realitas, dan berkat yang datang setelahnya sehingga kita mempunyai privileges dan kesempatan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar.

Kesimpulannya, semestinya kita bersyukur akan segala sesuatu yang kita peroleh dari Tuhan yang melebihi dari Yohanes Pembaptis. Semestinya kita juga meneladani karakter Yohanes Pembaptis yang menuruti firman Tuhan dan setia dari awal sampai akhir hidupnya. Dan semestinya kita juga senantiasa penuh dengan Roh Kudus, menguasai diri dan rela hidup sederhana, rendah hati, dan berani menyampaikan firman Tuhan apa adanya tanpa rintangan. Jangan menjadi orang yang ogah-ogahan atau seadanya bagi Tuhan.



Copyright © 2010 by Naek @ NEVER MISSING QUIET TIME
http://www.nevermissingqt.blogspot.com/