Senin, 06 Juli 2009

HOT ISSUES DI DUNIA KRISTEN (Bagian 3)

Orang-orang Kristen yang membaca surat-surat Paulus dan surat Yakobus, biasanya, pada awalnya, seolah menemukan satu perbedaan besar dari antara keduanya. Sesuatu yang mengundang tanda tanya sehingga terdorong untuk mempelajarinya, mendiskusikannya, mendebatkannya bahkan mungkin memilih salah satunya yaitu Paulus atau Yakobus.

Memang, sepertinya Paulus dan Yakobus mengajarkan hal yang berbeda di dalam surat-suratnya. Paulus mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dengan iman dan kasih karunia dari TUHAN, itu bukan hasil kerja atau pun usaha manusia. Sedangkan di dalam suratnya, rasul Yakobus menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong, yang mati dan tidak dapat menyelamatkan seseorang.

Dua pengajaran atau ide ini tampaknya sangat berbeda. Paulus tidak menyebutkan kerja, usaha atau perbuatan sebagai salah satu komponen di dalam keselamatan, bahkan ia menyatakannya sebagai sesuatu yang tidak berpengaruh atau berdampak terhadap keselamatan. Sangat berbeda dengan Yakobus yang menyebutkan “perbuatan” dan menekankannya sebagai sesuatu yang tidak dapat diabaikan atau dieliminasi. Pertanyaannya, apakah kedua ide atau pengajaran ini bertentangan atau tidak atau justru saling mendukung dan melengkapi satu sama lain?

Jika kedua pengajaran atau ide ini saling bertentangan maka orang-orang Kristen akan mempertanyakan kuasa, kebenaran dan keberlakuan Alkitab di dalam kehidupan mereka. Tetapi jika keduanya justru saling melengkapi dan mendukung satu sama lain, maka semakin nyatalah kuasa dan kebenaran firman Allah yang tertulis di dalam Alkitab.

Dua pengertian ini dapat disalahartikan oleh orang-orang Kristen dan realitasnya memang terdapat orang-orang yang memilih salah satunya yaitu Paulus atau Yakobus. Biasanya terdapat ciri atau tanda yang sangat jelas dan ekstrim dalam diri masing-masing kelompok. Orang-orang Kristen yang salah mengerti tentang iman dan kasih karunia yang dimaksud oleh Paulus biasanya beranggapan bahwa mereka tidak harus melakukan apa-apa sebagai orang yang diselamatkan bahkan lebih ekstrim lagi, mereka dapat melakukan apa saja sesuka hatinya termasuk melakukan dosa-dosa tanpa pertobatan. Sedangkan orang-orang Kristen yang salah mengerti tentang “perbuatan” yang dimaksud oleh Yakobus dapat menjadi pribadi yang terlalu bangga dengan diri sendiri, sombong, bahkan mungkin memuliakan diri sendiri karena apa yang telah ia perbuat atau lakukan. Ia menyangka bahwa perbuatan-perbuatan baiknya sedang dihitung, dikalkulasi dan diakumulasi seperti seseorang yang sedang mengumpulkan dan menyimpan uang di dalam tabungan atau deposito.

Padahal sesungguhnya, Paulus dan Yakobus tidak sedang berdebat atau saling menentang satu sama lain. Paulus tidak sedang merespon atau menanggapi Yakobus, demikian juga, Yakobus tidak sedang menyanggah Paulus. Keduanya dialamatkan kepada dua audiens dan dua isu yang berbeda. Paulus kepada orang-orang Yahudi yang cenderung legalis dan mengabaikan iman dan kasih karunia. Yakobus kepada orang-orang Kristen yang meng-klaim dirinya punya iman tetapi tidak menunjukkan tanda atau bukti iman, malah sebaliknya mencerminkan kesan atau reputasi yang buruk sehingga menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Yang benar tentang keduanya adalah bahwa iman diperoleh melalui pendengaran terhadap firman Allah yaitu benih yang tidak fana yang ditaburkan di atas tanah yang baik yaitu hati yang terbuka. Selanjutnya, benih itu berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam diri seseorang yang tentunya akan tampak dan terbukti melalui perbuatan, sikap dan tingkah laku orang tersebut (band. Yesaya 55:11; Markus 4; Galatia 5; Roma 10; 1 Pet 1).

Paulus bicara tentang asal muasal keselamatan, Yakobus bicara tentang tanda atau bukti keselamatan. Orang-orang Kristen memang diselamatkan oleh iman dan kasih karunia, tetapi juga diselamatkan untuk taat, setia dan mengasihi Allah. Jadi, keduanya tidak bertentangan melainkan saling mendukung dan melengkapi satu sama lain.

Firman Allah sungguh luar biasa.



Copyright (c) 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Sabtu, 04 Juli 2009

HOT ISSUES DI DUNIA KRISTEN (Bagian 2)

Tidak sedikit orang Kristen yang sudah mengangkat isu “cloning” dan membahasnya, apakah upaya itu adalah dosa atau tidak. Seperti hal modern lainnya, Alkitab tidak bicara secara eksplisit tentang cloning tetapi mempunyai prinsip atau nilai yang dapat dijadikan dasar atau acuan.

Hal ini menurut saya justru semakin menunjukkan kedahsyatan Alkitab. Di satu sisi ia tidak membicarakan hal-hal tertentu secara eksplisit sehingga ia menjadi kitab yang sangat efisien. Di sisi lain, ia menyediakan ruang bagi manusia untuk menjadi kreatif tetapi juga secara moral punya tanggung jawab di hadapan Tuhan. Bayangkan jika ia harus membahas cloning secara detil dan spesifik, maka mungkin ketika pergi ke kebaktian Minggu, orang-orang Kristen tidak akan membawa satu Kitab tetapi satu mini library.

Melalui kasus ini, maka dapat kita mengerti bahwa tampaknya alkitab memperhatikan dan menyediakan dasar atau prinsip yang terkait dengan hati dan moral manusia lebih daripada yang bukan.

Seperti yang disebutkan di kitab Amsal bahwa hati adalah pusat kerohanian manusia. Di ayat yang lain alkitab menyatakan bahwa dosa berasal dari dalam hati. Dari sana timbul pikiran jahat, cabul, iri hati, kemarahan, dendam, kesombongan, hawa nafsu, dan lain-lain. Dengan kata lain, Tuhan ingin agar manusia menjaga hatinya sehingga dengan demikian akan berbuah di dalam tindakan-tindakannya. Karena tidak mungkin seseorang pada kondisi rohani yang ‘prima’, komitmen yang tinggi, dan semangat luar biasa, melakukan kejahatan atau kriminalitas di waktu yang sama.

Adapun biasanya kualitas rohani mengalami penurunan atau degradasi secara perlahan atau bertahap. Contohnya adalah Daud. Saat pasukannya pergi berperang, ia malah bermalas-malasan. Ia berpikir bahwa pasukannya pasti akan menang karena memang biasanya selalu menang. Tak lama setelah itu, Daud jatuh ke dalam dosa secara beruntun. Ia berzinah, licik, berpikiran jahat, berbohong, membunuh Uria suami Batsyeba.

Dalam kaitannya dengan cloning, orang-orang Kristen patut bertanya apakah alasan atau motif mereka ketika melakukan upaya canggih tersebut. Apakah ingin mengelola kehidupan dengan lebih baik dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan, atau semata-mata hanya ingin mencari popularitas dan kemuliaan bagi diri sendiri? Apakah cloning yang diupayakan tersebut meningkatkan kualitas jasmani atau justru merusak dan berbahaya bagi kehidupan? Jika orang-orang Kristen sudah dapat menjawabnya dalam scope atau konteks moral, mereka semestinya tidak perlu lagi memperdebatkan soal cloning, karena telah mengetahui apa dan bagaimana sikap, tindakan atau keputusan selanjutnya.

Faktanya, hingga saat ini cloning masih dalam tahap eksperimen dan itu pun baru dilakukan terhadap hewan bukan manusia. Upaya cloning sendiri belum menunjukkan hasil yang sempurna. Masih terdapat kekurangan di sana-sini dan akibatnya hewan hasil cloning tersebut pun tidak cukup kuat dan tahan lama. Itulah alasannya mengapa cloning belum dapat dilakukan terhadap manusia. Jika dilakukan, maka tentunya tindakan tersebut adalah dosa dengan cara menyia-nyiakan dan tidak bijaksana terhadap hidup yang dikaruniakan Allah.

Atas dasar fakta hasil cloning tadi, maka dapat dinyatakan bahwa membahas upaya tersebut saat ini sebenarnya masih sangat dini. Walau memang tidak ada salahnya untuk membahas hal tersebut apalagi jika banyak orang Kristen mulai mempertanyakannya.

Berikut ini adalah sejumlah nasihat atau prinsip yang berkaitan langsung atau pun tidak langsung terhadap upaya cloning:
1. Jadilah manager Tuhan yang baik (Mat 25)
2. Muliakanlah Tuhan (Rasul Paulus)
3. Tuhan adalah awal dan sumber kehidupan (Kejadian)
4. Tuhan menciptakan segala sesuatunya baik (Kejadian)
5. Tuhan tahu segala sesuatu dan mengontrol segala sesuatu (Ayub)

Artinya, manusia tidak semestinya terlalu bangga atau sombong dengan upaya-upaya canggih apapun karena tanpa Tuhan semuanya tidak akan ada dan tidak akan pernah ada.



Copyright (c) Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Kamis, 02 Juli 2009

HOT ISSUES DI DUNIA KRISTEN

Salah satu hot issues di dunia Kristen adalah ABORSI. Sejumlah golongan Kristen tertentu menganggap atau menilainya sebagai dosa. Sebagian lagi mengatakan "tidak" dengan alasan bahwa embrio atau janin belum dapat dikategorikan sebagai manusia karena ia belum dilahirkan. Di tambah lagi, ia tidak atau belum melakukan aktifitas seperti manusia melainkan hanya diam saja di sana di kandungan ibunya.

Kesimpulan semacam ini tentu akan mendapat serangan balik yang tidak kalah tajam mengingat bahwa kemanusiaan seseorang tidak tergantung kepada aktifitas atau kegiatannya. Karena orang-orang yang sedang mengalami koma juga tidak melakukan aktifitas apapun. Dapatkah kita sebut bahwa orang yang koma bukanlah manusia?

Secara medis, para dokter dan ahli sudah dapat mendeteksi detak jantung, kondisi dan kerja otak dari janin atau embrio ketika ia berada di dalam kandungan ibunya. Suatu tanda adanya kehidupan dan ciri-cirinya sebagai calon bayi atau manusia. Itulah sebabnya golongan Kristen tertentu menilai bahwa aborsi adalah tindakan pembunuhan. Dengan kata lain, perbedaan antara janin atau embrio yang ada di dalam kandungan dan bayi yang ada di luar kandungan hanyalah lokasinya.

Sebagian orang sangat mudah menyatakan bahwa aborsi adalah dosa dan tidak pantas atau tidak layak dilakukan. Tetapi ada saja orang yang justru menentang pendapat tersebut dan menilai bahwa aborsi boleh dilakukan dengan alasan-alasan tertentu. Contohnya, belum menginginkan bayi dari pernikahan, tidak menginginkan kehamilan dari hubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya, incest yang mengakibatkan kehamilan, dan lain-lain.

Dari dua pendapat yang berbeda ini saja, orang-orang Kristen dapat terbagi menjadi dua golongan besar, yang pertama adalah yang pro terhadap aborsi dan yang kedua adalah yang anti terhadap aborsi.

Pada umumnya aborsi dilatarbelakangi oleh tindakan atau perbuatan dosa. Bukan saat tindakan aborsi tersebut sedang direncanakan tetapi ketika seorang pria atau wanita sedang akan mengadakan percabulan atau perzinahan. Dalam konteks tersebut, kehamilan adalah dampak atau akibat, dan aborsi adalah tindakan susulan atau lanjutan dari sikap hati yang jahat dan berdosa.

Daripada ribut soal benar atau salah tindakan aborsi, adalah lebih mengena jika kita mencermati dan mengevaluasi pikiran, hati dan tindakan-tindakan kita di waktu-waktu sebelumnya. Apakah kita berpikir cabul? Apakah kita menginginkan percabulan atau perzinahan? Apakah kita menginginkan isteri atau suami orang lain? Apakah kita genit? Jika ya, maka tidaklah lebih penting untuk membahas tentang aborsi sebaliknya bertobatlah maka aborsi tidak akan pernah ada di kamus Anda. Inilah juga yang mungkin menjadi alasan mengapa orang-orang tertentu pro terhadap aborsi, karena mereka mungkin masih menginginkan seks di luar pernikahan yang kudus dan sah.

Alkitab memang tidak berbicara secara eksplisit tentang aborsi. Tidak berarti bahwa alkitab membiarkan atau pun mengizinkannya. Meski pun istilah tersebut tampaknya juga tidak ada di sana, tetapi, secara prinsip dan level moral, alkitab mengajarkan jauh lebih dari sekadar menjawab DO atau DONT.

Alkitab mengajarkan tentang bagaimana menjadi pengelola dan penanggung jawab yang baik di hadapan Allah. Ia memuji pengelola yang baik tetapi menegur pengelola yang buruk bahkan menyebutnya nya sebagai hamba yang jahat (band. Matius 25). Artinya, orang Kristen tidak hanya berdosa karena melakukan tindakan yang salah atau dosa tetapi juga menjadi berdosa karena tidak melakukan yang baik atau benar.

Dalam tindakan aborsi, orang Kristen sesungguhnya sudah berdosa ketika melakukannya sebagai akibat dari percabulan atau perzinahan. Bukan saja ia tidak menjadi pengelola yang baik tetapi juga menjadi perusak kehidupan dengan cara menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan biaya percuma, bahkan juga meresikokan kesehatan dan nyawa dengan sangat besar.

Mengenai bayi yang lahir dari pembatalan tindakan aborsi, sesungguhnya sudah jauh di luar kontrol manusia. Setiap bayi atau manusia tidak dapat mengontrol kapan dan di mana ia lahir, melalui rahim siapa, siapa ibunya, siapa ayahnya dan bagaimana ia lahir. Dengan kata lain, manusia tidak semestinya mendiskreditkan bayi yang lahir dari pembatalan tindakan aborsi sebagai anak haram atau sebutan apa saja yang serupa atau sejenis.


Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

RELATED PRODUCTS available at BEREAN CORNER:
Sex is not the problem (lust is) oleh Joshua Harris (Penerbit PIONIR JAYA)
Ada Apa dengan Pacaran & Seks oleh Pam Stenzel dan Crystal Kirgiss (Penerbit ANDI)


Selasa, 30 Juni 2009

Kepada Pembaca dan Partner NMQT

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih,

Melalui surat ini, kami ingin menyapa Anda untuk berterima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan Anda selama ini kepada NMQT - baik secara moral, spiritual maupun finansial. Berkat Anda semua, maka NMQT dapat tetap terus setia melayani sejak satu tahun yang lalu hingga saat ini.

Dan kami bertekad untuk tetap terus setia menyampaikan firman-Nya karena kami menyadari betapa NMQT dapat bermanfaat bagi kerohanian dan juga menyemangati banyak orang. Sebagaimana tanggapan-tanggapan positif yang telah kami terima dari dalam maupun dari luar negeri. Baik secara lisan maupun secara tertulis.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih
, kami menyakini bahwa firman Tuhan-lah yang telah menggugah Anda melalui NMQT bukan hal-hal lain yang ada di sana. Karena kami sendiri berupaya sedapat mungkin menyampaikan-Nya sesederhana dan sejelas mungkin. Sehingga, pesan firman Tuhan dapat disampaikan kepada siapa saja dengan sebenar-benarnya dan semurni-murninya.

Karena kami pun percaya bahwa firman Tuhan adalah yang utama, vital dan mutlak demi perubahan, pertobatan dan pertumbuhan kerohanian Kristen. Sedangkan yang lain selain itu hanyalah faktor pendukung atau faktor pelengkap saja.

Atas dasar tersebut, NMQT mempunyai visi dan komitmen jangka panjang yaitu untuk menyampaikan firman yang sebenar-benarnya, semurni-murninya, sejelas-jelasnya dan seluas-luasnya bagi kemuliaan Tuhan.

Oleh karena itu, melalui surat ini, kami ingin mengajak Anda untuk turut berpartisipasi mendukung pelayanan NMQT.

Ada 3 (tiga) cara yang dapat Anda lakukan untuk mendukung pelayanan ini. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengirimkan tanggapan Anda terhadap NMQT ke letters.berean@gmail.com tentang apa yang Anda pelajari, yang membantu, menyemangati atau yang mengubahkan Anda secara pribadi.

2. Meng-informasi-kan kepada teman-teman, sahabat atau keluarga Anda tentang NMQT atau tentang pesan-pesan atau pelajaran-pelajaran nya yang ber-manfaat bagi Anda.

3. Men-support NMQT secara finansial melalui nomor rekening:
BCA 288 300 5031
a/ n Yayasan Gema Kristus Damai Indonesia.

Sebagai informasi bagi Anda, buku NMQT kini sedang dalam proses pengerjaan. Kami berharap dapat menyelesaikannya dalam waktu dekat dan menyusulnya dengan edisi-edisi selanjutnya kemudian secara kontinu di masa yang akan datang.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih, percayalah, bahwa kami tidak bertujuan untuk meraup keuntungan materi sebesar-besarnya melalui pelayanan ini melainkan perluasan dan pelebaran jangkauan yang lebih jauh dan besar sehingga dapat menyampaikan pesan firman-Nya. Dan itu semua hanya demi kemuliaan-Nya semata-mata.

Demikian surat ini, atas perhatian dan kerjasamanya (sekali lagi) kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Dari Saudara dan Partner Anda di dalam Kristus,



Naek

SEKTE-SEKTE DI DUNIA KRISTEN (Bagian 4)

Amsal 3:5 menyatakan “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Jika Mormon menjadi salah karena tambahan kitab nya yang lain, Science of The Mind menjadi salah karena tidak membiarkan Alkitab berbicara. Kelompok tersebut tampaknya sudah mempunyai ide atau konsep relijius sebelum mengadakan pembacaan Alkitab. Dengan demikian, mereka menolak pengajaran Alkitab yang sesungguhnya. Sebaliknya, mengutip ayat-ayat yang disukai, yang cocok dan yang dapat mendukung ide atau pemikiran mereka saja.

Science of The Mind tidak mengerti dan percaya akan ilham Allah terhadap tulisan-tulisan Kitab Suci. Bahwa Allah-lah yang mengilhami, Roh Kudus yang mendorong, para rasul dan para nabi yang mengatakan dan menuliskannya. Allah menyentuh bibir Yesaya. Ia juga menjamah mulut nabi Yeremia. Suatu pertanda bahwa Allah serius dengan setiap kata. Ia bukan hanya memberikan ide atau konsep relijius tanpa kata-kata, karena jika demikian, maka setiap kata di Alkitab patut diabaikan. Sebagai gantinya, manusia dapat menyatakan sejumlah point yang dianggap penting saja. Setelahnya, tidak perlu pembacaan, pendalaman, atau penyelidikan Alkitab lebih lanjut. Sikap semacam ini sangat berbeda dengan sikap orang Berea yang teliti yang dinilai Alkitab sebagi orang-orang yang lebih baik hatinya (band. Kis 17:11).

Menurut penilaian saya, Science of The Mind adalah ‘pencuri’ nilai-nilai Alkitab. Mereka mengambil nilai-nilai tertentu demi kepentingan hidup di dunia. Sehingga dengan demikian mereka dapat mempunyai kehidupan yang sukses dan bahagia. Tidak perlu percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, apalagi percaya bahwa Ia adalah satu dari tiga pribadi Allah. Cukup percaya bahwa Yesus adalah guru yang hebat.

Science of the Mind sesungguhnya adalah ajaran yang sangat berbahaya meskipun tampaknya indah dan mempesona. Mengapa saya katakan demikian? Karena, ajaran tersebut mengeliminasi sikap “takut akan Tuhan”, demikian juga “takut akan penghakiman-Nya”. Science of the Mind mengabaikan tanda-tanda bahaya, alarm atau rambu-rambu yang semestinya diperhatikan dengan serius dan hati-hati. Akibatnya, orang-orang semacam itu menghadapi bahaya maut dengan sikap santai dan tidak mau tahu.

Secara ringkas, ada terdapat 6 (enam) hal penting yang mengalami degradasi, tereleminasi atau terabaikan oleh Science of the Mind:
1. Science of the Mind mengeliminasi “takut akan Tuhan”
2. Science of the Mind mengeliminasi pengharapan orang Kristen terhadap Surga.
3. Science of the Mind men-down grade posisi Yesus Kristus, dari Tuhan dan Juruselamat menjadi guru yang hebat.
4. Science of the Mind tidak percaya dengan adanya dosa dan iblis. Dengan demikian mereka men-down grade seruan pertobatan, peringatan (warning), nasihat-nasihat Alkitab yang lebih serius intensitasnya.
5. Science of the Mind merasionalisasi tulisan-tulisan Alkitab secara ekstrim.
6. Science of the Mind mengeliminasi cara atau kehendak Allah dengan “how to think”.

Dengan berpikir seperti Science of the Mind, sesungguhnya, seseorang secara sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, sedang menganggap atau menilai tokoh-tokoh Alkitab sebagai orang-orang yang bodoh. Bahwa para nabi, para rasul, orang-orang yang taat dan setia kepada Allah di zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sesungguhnya sia-sia saja menghadapi banyak tantangan, ancaman atau bahaya. Karena, menurut Science of the Mind eksistensi dosa, iblis, sorga, dan neraka itu tidak real atau tidak ada. Artinya, para nabi, para rasul, termasuk Kristus seolah-olah sedang menjalani ilusi, kebohongan atau kehidupan yang tidak nyata.

Sangat jelas bahwa Science of the Mind salah dalam kesimpulan-kesimpulannya. Karena, mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus adalah nyata. Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga adalah nyata. Orang-orang yang mendengarkan dan menyaksikan-Nya bergetar, kagum, terharu, berteriak, melompat, memuji, menyembah, takut, segan, hormat, bahkan tak dapat berkata-kata.

Satu pesan penting dari Alkitab bagi Science of the Mind atau terhadap orang-orang yang berpikir serupa adalah “takut akan Tuhan karena itu adalah permulaan pengetahuan”. Tanpa sikap tersebut, manusia tidak akan pernah tahu dan mengerti bahwa Tuhan yang punya kuasa dan otoritas sedang menyampaikan pesan yang sungguh dan serius, yang harus diperhatikan, didengarkan dengan hati-hati, dengan sikap yang hormat, takut dan gentar. Dengan demikian, seseorang akan patuh, tunduk, taat, dan setia kepada Tuhan, jauh dari rasionalisme yang sombong, menyepelekan, dan anggap enteng.


RELATED LINKS:
http://en.wikipedia.org/wiki/Religious_Science
http://www.religiousscience.org/ucrs_site/our_founder/first_religious.html
http://www.religiousscience.org/ucrs_site/philosophy/faq.html



Copyright (c) 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Senin, 29 Juni 2009

ANDAI AKU ADALAH TUHAN


Andai aku adalah Tuhan
Aku mau manusia takut kepadaku
Aku mau mereka tunduk dan patuh
Jangan sekali-kali mereka tidak hormat
Atau menganggapku remeh

Andai aku adalah Tuhan
Aku mau manusia mendengarkanku
Bukan sambil lalu atau sekedarnya
Aku mau mereka menganggapku penting
Mereka harus berhati-hati dan meneliti perkataanku

Andai aku adalah Tuhan
Aku mau melakukan apa saja yang kuinginkan
Jangan seorangpun mencoba setara mengimbangiku
Aku tak sudi di-interfensi, dihalang-halangi, apalagi dilarang
Jangan seorangpun mengkritisi aku, membantah apalagi menentangku

Andai aku adalah Tuhan
Aku mau menjadi paling berkuasa, mutlak dan absolut
Jangan seorangpun merendahkan atau meremehkanku

Andai aku adalah Tuhan
Aku mau manusia memuja muji diriku
Setidaknya mereka harus bangga terhadapku
Jika tidak…aku anggap mereka kurang ajar dan tak tau diri

Tetapi aneh…aku tak pernah berpikir untuk menjadi Juruselamat
Baru saja aku coba memikirkannya spontan aku merespon - “mana bisa?”
Mana bisa aku merendahkan diriku dan menjadi korban
Mana sudi aku ditolak dan tidak didengarkan
Mana rela aku dihina apalagi dianiaya

Dalam sejumlah hal aku mungkin persis seperti Tuhan
Tetapi tidak seperti Juruselamat
Aku tidak mengasihi …aku tidak rendahhati…
Aku egois….aku sombong…
Aku manusia berdosa
Yesus saja…Yesus saja yang sanggup menjadi Juruselamat

Hm…bukankah tampaknya lebih sulit menjadi Juruselamat ketimbang Tuhan?
Jika Yesus sanggup menjadi Juruselamat
Lantas…mengapa manusia sukar menerima-Nya sebagai Tuhan?
Hm…aku mengerti sekarang…
Tidak hanya manusia…iblis pun ingin menjadi Tuhan

Andai aku menjadi Tuhan,
maka mungkin aku menjadi mahluk paling berbahaya di dunia



Oleh Naek dalam perenungan akan Kristus

Minggu, 28 Juni 2009

SEKTE-SEKTE DI DUNIA KRISTEN (Bagian 3)

Bacaan: Galatia 1:8

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Di manakah letak kesalahan ajaran Mormon yang paling utama? Kesalahannya terletak pada kepercayaannya kepada kitab yang lain selain Alkitab. Jika pesan kitab Mormon adalah satu, sama dan tidak bertolak belakang dengan Alkitab, mungkin tidak akan menimbulkan masalah. Tetapi jika tidak, maka pesan Tuhan akan mengalami distorsi. Sebaliknya, akan terjadi pesan yang bertolak belakang, yang aneh bahkan membingungkan. Padahal, pesan Alkitab adalah satu, singkron, terpadu, dan tidak bertolak belakang. Tulisan-tulisan nya pun saling mendukung, melengkapi dan dapat memperjelas antara satu terhadap yang lain. Sedangkan kitab atau ajaran Mormon mengandung pesan yang lain yang berbeda dibandingkan dengan Alkitab. Itulah yang menyebabkan mengapa Mormon tidak dapat disebut sebagai ajaran Kristen yang benar dan sehat.

Ditinjau dari penulisnya, Joseph Smith bukanlah rasul atau nabi, atau pun rekan kerja yang menjadi saksi mata dari pekerjaan, pelayanan, kuasa, mujizat, dan pemberitaan firman di zaman para rasul. Ia bukan seperti Matius, Yohanes, Paulus, Yakobus, Petrus, atau murid Kristus yang lain seperti Markus, Lukas, atau yang lain di abad pertama yang mempunyai otoritas sebagai penulis Kitab Suci.

Ditinjau dari waktu penulisannya, tulisan Kitab Mormon yang diterbitkan oleh Joseph Smith ditulis setelah pesan Tuhan selesai dinyatakan dan dituliskan secara utuh, lengkap dan final (1 Kor 13:9-10).

Dari kesalahan-kesalahan ini, maka timbul rentetan kesalahan lainnya. Penganut Mormon percaya kepada Tuhan yang mengalami progress (gradually acquired) dalam diri atau pribadi-Nya. Kepercayaan ini jelas berbeda dengan tulisan-tulisan di dalam Alkitab. Alkitab menyebutkan di Kitab Ibrani bahwa Allah tidak berubah. Ia sama dari dulu, sekarang dan yang akan datang. Di samping itu, dengan bersikap demikian, berarti Mormon menjengkali Tuhan. Padahal, tulisan-tulisan Alkitab jelas menyatakan bahwa Tuhan tidak terjangkau oleh manusia. Ia tidak terselami. Hikmat-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya, kebijaksanaan-Nya, kualitas karakter atau pribadi-Nya. Bukan karena Ia sengaja menutup-nutupi-Nya tetapi karena keterbatasan manusia sehingga Ia harus berinisiatif menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Di kitab-kitab yang lain, keterbatasan manusia terhadap Tuhan digambarkan jelas melalui kisah tentang Ayub , Yunus, dan lain-lain.

Mormon percaya bahwa manusia adalah roh sebelum ia lahir (spirit beings) dan mempunyai tubuh. Ia juga mempunyai potensi mempunyai anak-anak roh (spirit children) setelah kehidupan di dunia nanti. Ajaran atau pernyataan ini jelas tidak ada di dalam Kitab Suci.

Kesalahan yang lain adalah tentang Yesus bahwa Ia dan iblis adalah sama-sama anak Tuhan dan saudara secara roh. Bedanya, keduanya mempunyai pikiran atau rencana yang tidak sama. Yesus dan Bapa mempunyai rencana yang sama yaitu menyelamatkan manusia, sedangkan iblis mempunyai rencana yang lain.

Demikian pula mengenai keselamatan, Mormon mengupayakan keselamatan dengan usaha, kerja, kekuatan dan kemampuan diri sendiri.

Mengenai penghakiman, Mormon pun menyatakan hal yang berbeda dengan Alkitab yaitu bahwa hukuman terhadap orang yang jahat bersifat sementara. Yesus akan menyediakan tiga level kerajaan pada akhirnya, bukan sorga atau pun neraka seperti yang dipercaya oleh orang-orang Kristen pada umumnya.

Jadi jelas bahwa meskipun Mormon menyatakan bahwa mereka percaya kepada Alkitab tetapi sesungguhnya ajaran-ajaran atau pesan-pesannya sangat berbeda dan bertolak belakang. Tampaknya, penganut Mormon lebih percaya kepada Kitab Mormon dan Joseph Smith lebih daripada Alkitab.

Padahal rasul Paulus pernah berkata demikian:

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Galatia 1:8)

Rasul Paulus menerima Injil dari Yesus Kristus bukan dari malaikat (band. Galatia 1:12).

Mungkin, Joseph Smith lupa atau tidak tahu tentang ayat ini sehingga ia lebih percaya kepada malaikat yang menyampaikan injil yang berbeda dari injil yang telah dipercayakan Tuhan kepada rasul-rasul (1 Tes 2:2-4). Tidak heran pula mengapa Joseph Smith tidak mengalami transformasi hidup dari kehidupan 'mistis' dan problema karakter dan kepribadiannya.


RELATED LINKS:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Church_of_Jesus_Christ_of_Latter-day_Saints
http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Mormon
http://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Smith