Rabu, 27 Mei 2009

BERBAHAGIALAH YANG LEMAH LEMBUT

Kemarahan bukanlah hal yang asing bagi setiap orang. Banyak orang berpendapat bahwa kemarahan adalah hal yang wajar. Apalagi ketika disakiti atau dirugikan oleh orang lain. Kemarahan dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja. Di jalan, saat orang menyalib kendaraan Anda dan mengagetkan Anda. Di rumah, saat Anda tengah mempersiapkan diri ke kantor, Anda tidak menemukan kunci mobil, sisir, atau kaos kaki di tempat yang biasa. Anda mencari ke sana kemari, tetapi Anda tidak menemukannya. Dalam pernikahan, Anda mungkin tidak mendapat respon seperti yang Anda inginkan. Anda mendapatkan sikap ketus atau bisu yang mengintimidasi. Kemarahan dapat dijelaskan melalui berbagai peristiwa dan keadaan. Oleh siapa saja dan kapan saja. Saya yakin, Anda mempunyai banyak cerita tentang kemarahan Anda atau kemarahan orang lain yang pernah Anda saksikan.

Patrick Morley, penulis buku MAN IN THE MIRROR mengkategorikan kemarahan dalam 3 (tiga) bentuk atau jenis. Pertama, kemarahan yang ditinjau dari frekwensi nya, sangat amat jarang terjadi, tetapi, ketika kemarahan itu terjadi, ia seperti ledakan bom yang eksplosif – besar, kuat dan tidak terkendali. Kedua, kemarahan yang ditinjau dari frekwensi nya sangat amat sering terjadi, tetapi, kekuatan atau intensitasnya relatif kecil. Banyak orang biasanya menyebutnya dengan istilah "cerewet". Kemarahan yang ketiga adalah kemarahan yang sangat amat jarang terjadi, karena ia tersimpan, tersembunyi dan terpendam sangat dalam di dalam diri seseorang. Kita biasanya menyebutnya jenis ini dengan istilah "dendam".

Timbul pertanyaan, salahkah jika seseorang marah, baik terhadap situasi atau terhadap orang lain? Bukankah kemarahan adalah hal yang wajar dan manusiawi? Atau sebaliknya, baik-kah atau benarkah jika seseorang tidak pernah marah? Dapatkah ia disebut sebagai orang yang normal atau manusiawi?

Alkitab berkata:"Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi (band. Mat 5:6)". Kata lemah lembut dalam bahasa Yunani disebut dengan "praus". Praus biasa digunakan untuk mengartikan atau menggambarkan tentang binatang liar yang telah menjadi jinak. Dengan kata lain, kata praus mengandung arti tentang potensi kekuatan yang terkendali atau terkontrol di dalam diri atau pribadi seseorang. Jadi, lemah lembut bukan berarti lemah, tidak berdaya, atau pengecut, melainkan kuat, handal dan tangguh tetapi penuh dengan penguasaan diri.

Sebagai contoh yang sempuna, perhatikanlah Yesus. Ia tidak kesal ketika orang-orang Farisi mengintimidasi-Nya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Ia tidak marah atau mendendam ketika Ia hendak dibunuh bahkan ketika Ia disalib, Ia berkata Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tetapi, apakah itu berarti bahwa Yesus tidak bisa marah? Tidak. Ingatkah Anda tentang peristiwa Bait Suci yang dibersihkan oleh Yesus? Apakah yang Yesus lakukan? Ia menjalin tali dan membuat cambuk. Ia membalikkan meja-meja, melepaskan hewan atau ternak yang diperjual belikan di Bait Suci. Ia mengusir dan membubarkan aktifitas pebisnis liar yang mengatasnamakan Tuhan dan korban persembahan.

Sebenarnya, apa yang sedang terjadi saat itu? TUHAN sedang direndahkan. Ia tidak dihormati tetapi disakiti dan dikecewakan. Dengan cara apa? Dengan cara menjual hewan korban dengan tarif yang tidak masuk akal termasuk kepada orang-orang yang miskin dan tidak sanggup membelinya. Orang yang hendak mempersembahkan korban dikenai tarif yang sangat amat mahal dan berlipat kali ganda. Belum lagi, tentang pendatang yang harus menukarkan uang untuk mempersembahkan korban. Mereka bukan mendapatkan kemudahan melainkan nilai tukar yang sangat menekan. Waktu itulah Yesus marah, tetapi selain itu tidak.

Anda mungkin telah mengerti sampai di sini. Yesus tidak marah ketika orang mengintimidasi-Nya, hendak membunuh-Nya, bahkan ketika orang menganiaya dan menyalibkan-Nya. Tetapi, Ia marah ketika imam-imam menjadi korup dan tidak menjadi perantara yang baik bagi umat-Nya. Ia marah ketika imam-imam mempersulit bahkan menghalang-halangi umat-Nya beribadah demi kepentingan dan keuntungan pribadi atau kelompok.

Jika Yesus saja tidak marah, mengapa sebagai pengikut-Nya kita seringkali tidak seperti Dia. Kita sering marah karena merasa kurang dihormati, kurang dihargai, kurang diperhatikan, kurang diperlakukan dengan baik, kurang dipedulikan, dan sebagainya. Kita sering marah karena hal-hal yang tidak sesuai harapan, karena hal-hal yang tidak memenuhi ekspektasi kita. Tetapi, pernahkah kita marah seperti Yesus, dengan alasan-alasan yang sama seperti Dia? Pernahkah kita marah karena hal yang kena-mengena terhadap TUHAN bukan karena diri sendiri, karena kepentingan TUHAN bukan karena ego, urusan, privasi atau kepentingan pribadi? Pernahkah? Jika tidak, di manakah kesamaan kita dengan Yesus? Apakah yang ada di dalam diri kita yang serupa dengan-Nya?

Kemarahan tidak membawa kebahagiaan. Ia membuat orang merasakan sesak di dada, tidak tenang dan susah tidur. Sebaliknya, orang-orang yang lemah lembut dan menguasai diri terbebas dari rasa sakit hati, kesal, dendam, atau tersinggung. Orang Kristen yang lemah lembut adalah orang yang jauh di dalam hati dan pikiran nya sadar dan mengerti bahwa ia hanyalah seorang yang berdosa. Sesungguhnya, ia tidak layak untuk dihormati, dihargai, diperlakukan dengan baik, adil, dipuji, disanjung, apalagi disembah. Melainkan, TUHAN saja. Ya, TUHAN saja yang layak, saya pun tidak.


Referensi: Wikipedia; PASH Matius oleh DR. William Barclay - Penerbit BPK Gunung Mulia; Audio Sermon Grace to You - Happy are the Poor in Spirit by Mac Arthur, John; Audio Sermon Berean Publication House - Seri Khotbah di Bukit oleh Pdt. Harliem Salim

Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/


Senin, 25 Mei 2009

MANUSKRIP ALKITAB

Kekristenan tidak terpisahkan dari kegiatan “baca-tulis”. Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Di Kitab Ulangan pasal 6, disebutkan bahwa Tuhan memberikan perintah kepada orang tua khususnya ayah untuk menyampaikan firman Tuhan kepada anak-anaknya. Ia harus membacakan dan menuliskannya di setiap tempat, setiap keadaan dan setiap waktu.

Tuhan sendiri menunjukkan perhatian yang besar terhadap “baca-tulis”. Ia menuliskan ulang 10 perintah yang sama pada 2 (dua) loh batu yang pernah dipecahkan oleh Musa (band. Kej 34:1). Hal serupa pernah terjadi ketika raja memusnahkan firman Tuhan yang ditulis oleh Yeremia dan Barukh. Tuhan menyuruh Yeremia menuliskannya kembali sama persis seperti semula bahkan ditambah dengan penekanan terhadap pesan yang semula dituliskan.

Yesus pun demikian. Ia selalu merujuk kepada Kitab Suci. Ketika dicobai oleh Iblis di padang gurun, Ia mengutip ayat-ayat Kitab Suci dengan menyebutkan “ada tertulis…”. Di jalan menuju Emaus, Yesus menjelaskan Kitab Suci secara komprehensif, detil, rinci, dan sistematis kepada murid-murid-Nya (band. Luk 24:27,32). Di Bait Suci, Ia membaca Kitab Yesaya dan menjelaskannya. Di Kitab Kisah Para Rasul, ia menjelaskan tentang Kerajaan Allah yang tentunya juga merujuk atau mengacu kepada ayat-ayat Kitab Suci. Ia juga mengucapkan ungkapan-ungkapan seperti “tidak kah kamu baca…” yang menandakan bahwa ia membaca Kitab Suci dengan intensif dan konsisten.

Murid-murid Yesus adalah bukti intensitas Yesus terhadap “baca-tulis”. Petrus yang dulunya adalah seorang nelayan mampu berkhotbah dengan mengutip ayat-ayat dari Kitab Yoel. Rasul-rasul yang lain pun demikian, dapat mengajar dan menjelaskan nubuat-nubuat dan ayat-ayat dari Perjanjian Lama.

Jadi, sangat jelas bahwa kegiatan “baca-tulis” adalah bersumber atau berasal dari Tuhan. Itulah cara Dia menjaga atau melindungi pesan yang Ia sampaikan kepada manusia. Suatu cara yang memungkinkan pesan-Nya tetap sustain hingga saat ini.

Secara historis, kita dapat ketahui bagaimana kegiatan “baca-tulis” kitab-kitab PB berlangsung. Dimulai dari rasul-rasul yang menuliskan surat-surat kepada Jemaat atau orang-orang Kristen. Kemudian, surat-surat tersebut dibacakan dari jemaat yang satu ke jemaat yang lain. Tetapi, sebelum mengirimkannya ke jemaat yang lain, surat-surat tersebut disalin ulang sama persis seperti aslinya, lalu di-forward ke jemaat-jemaat lain yang belum membacanya. Inilah sebabnya mengapa surat-surat tersebut masih tetap bertahan hingga saat ini bahkan jumlahnya pun bukan satu tetapi rangkap. Salinan surat-surat semacam inilah yang kemudian disebut dengan istilah Codex. Sebagai gambarannya di zaman ini, codex adalah sama seperti dokumen hasil photo copy terhadap dokumen asli yang berlipat ganda jumlahnya.

Hal serupa dilakukan oleh orang-orang Esene yaitu menyalin tulisan-tulisan Kitab Suci yang kita kenal sebagai naskah Dead Sea Scroll. Naskah-naskah tersebut tersimpan rapi dan utuh di dalam perpustakaan mereka sehingga kita pun dapat membaca, mengerti dan memperoleh manfaatnya hingga saat ini.

Selain orang-orang tersebut, ada pula orang-orang Berea yang dinilai Alkitab sebagai orang-orang punya hati yang lebih baik. Mereka menerima firman dengan segala kerelaan hati dan menyelidiki Kitab Suci setiap hari. Kegiatan tersebut mereka lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pesan yang murni dan jelas dari Tuhan. Dengan demikian, orang-orang seperti itu akan terhindar dari pesan yang palsu, yang tidak jelas atau rancu.

Tetapi, realitanya di masa kini, tidak sedikit orang-orang Kristen yang negatif atau apatis terhadap kegiatan “baca-tulis”. Ada yang mengidentikkan orang yang giat atau tekun membaca Alkitab sebagai “orang Farisi” modern. Padahal kesalahan orang Farisi di masa lalu bukan terletak kepada kegiatan “baca-tulis” nya tetapi kepada mis-interpretasi-nya. Ada pula ungkapan offensive yang mengatakan “yang penting kan melakukan…” Padahal, tindakan “melakukan” tidak dapat diterapkan tanpa mengerti apa dan bagaimana melakukan firman-Nya.

Tanpa mengabaikan tentang betapa pentingnya “melakukan” firman Tuhan, orang Kristen pun perlu menyadari betapa penting nya juga upaya memperoleh pesan yang tepat dan jelas. Karena, pesan yang tidak tepat dan tidak jelas tentu saja menghasilkan tindakan yang salah juga. Jadi apakah gunanya melakukan pesan yang salah?

Secara pribadi, saya berpendapat pentingnya penggalian firman yang sustainable atau yang berkelanjutan. Artinya, kita perlu melanjutkan penggalian firman yang ditulis oleh para rasul, yang kemudian dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, yang tulus dan setia menjaga kemurnian firman, bapa-bapa gereja, dan teolog-teolog yang sejati. Mereka telah mengambil peran yaitu menerjemahkan Codex menjadi kanon, hingga akhirnya menjadi Alkitab. Tinggal kita hari ini yang semestinya juga turut mengambil peran yaitu melanjutkannya. Caranya? Menjaga pesan yang murni, sampaikan, ajarkan, khotbahkan, lakukan dan teruskan kepada generasi selanjutnya.

Minggu, 24 Mei 2009

PENERJEMAHAN ALKITAB

Salahkah menerjemahkan Alkitab? Seperti itulah kira-kira pertanyaan yang tersimpan di hati banyak orang ketika menyaksikan penganiayaan terhadap penerjemah-penerjemah pertama seperti: Tyndale atau Wycliffe.

Di masa hidup mereka tidaklah mudah menerjemahkan Alkitab dari bahasa aslinya yaitu Ibrani, Yunani atau Aram ke dalam bahasa Inggris. Mengapa? Karena pada masa itu Alkitab dipandang suci secara ekstrim sehingga membacanya pun, orang-orang awam sangat kurang mendapat kesempatan. Alkitab tersimpan dan tersembunyi di ruang-ruang pribadi kaum imam saja. Sedang orang awam jauh dari pesan yang sebenarnya.

Anda mungkin bertanya, mengapa situasi semacam itu dapat terjadi? Alkitab sendiri menjawabnya dengan langsung, jelas dan tidak berbelit-belit. Di 2 Tim 3:16-17 disebutkan bahwa Alkitab adalah cara atau rancangan Allah untuk mengoreksi manusia. Dengan kata-kata lain, melalui pengertian dan pengenalan akan Alkitab, maka kesalahan dan dosa-dosa manusia pun akan dinyatakan. Semua kesalahan tanpa kecuali akan keluar dan terbongkar dari tempat persembunyiannya termasuk dosa dan kesalahan-kesalahan imam-imam yang korup di zaman Tyndale dan Wycliffe.

Mari kembali ke pertanyaan semula, salahkah upaya penerjemah-penerjemah tadi? Sebelum menjawabnya dengan “ya” atau “tidak”, penting bagi kita untuk mengerti sedikit banyak tentang “komunikasi”. Di dalam komunikasi ada terdapat 4 (empat) unsur yang paling besar atau paling utama. Unsur-unsur tersebut adalah: pesan, media atau alat, komunikator dan komunikan. Dari ke-empat unsur tersebut, bahasa dapat dikategorikan sebagai media atau alat bukan pesan. Jadi, dalam hubungannya dengan penerjemahan, bahasa yang berbeda bukanlah masalah selama pesannya tidak diubah secara sengaja atau pun tidak sengaja.

Bahasa-bahasa di dunia sangat beragam jenisnya karena bangsa-bangsa di dunia pun demikian. Jika bahasa Alkitab hanya menggunakan bahasa Ibrani, Yunani atau Aram saja, maka semakin sedikit lah orang yang mengerti atau memahami Alkitab dari waktu ke waktu. Sebaliknya, upaya penerjemahan Alkitab telah menunjukkan hasil yang nyata dan lebih baik. Orang-orang dari berbagai bangsa dapat mendengarkan pesan Tuhan dengan bahasa mereka sendiri. Hal serupa pernah terjadi di Yerusalem pada hari Pentakosta, yaitu ketika para rasul berbicara kepada orang banyak dengan berbagai bahasa dari bangsa-bangsa di dunia. Suatu pertanda atau petunjuk bahwa Allah ingin menyampaikan pesan-Nya yang sama kepada semua bangsa dengan semua bahasa.

Timbul pertanyaan, bagaimana dengan penerjemahan yang berbeda atau kurang tepat? Secara pribadi, saya menganggapnya sebagai tantangan bukan permasalahan. Mengapa? Karena tantangan adalah bagian dari proses belajar yang Tuhan janjikan. Ia berkata di Mat 6:33: ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya…”. Di Yer 29:13 disebutkan: ”...kamu akan menemukan Aku jika kamu mencari Aku dengan segenap hati.” Studi atau belajar-mengajar Alkitab adalah proses yang di-izinkan dan disediakan oleh Tuhan bagi orang-orang Kristen. Orang-orang yang malas, yang apatis, yang tidak peduli atau yang menganggap remeh terhadap belajar-mengajar Alkitab dengan sendirinya terseleksi dari janji-janji Tuhan.

Lagipula, pesan-pesan penting atau utama dari Alkitab tidak lah berubah. Ia tidak akan pernah berubah. Jika terdapat kata atau penerjemahan yang kurang tepat, seseorang dapat membandingkannya dengan ayat yang lain, perikop atau kisah yang lain di Alkitab. Atau, orang tersebut dapat pula membandingkannya dengan penerjemahan yang lain. Contohnya di dalam bahasa Inggris ada King James Version, New King James Version, New International Version, New American Standard Bible, dan lain-lain. Dengan demikian, maka ia dapat memperoleh pesan yang lebih jelas, utuh dan kuat. Jadi, penerjemahan bukannya menghasilkan permasalahan melainkan kekayaan yang melimpah terhadap Firman Tuhan.

Bagaimana dengan orang buta atau orang bisu? Tuhan pun mengaruniakan bahasa-bahasa yang khusus bagi mereka yaitu bahasa non verbal. Selain itu ada juga tulisan atau huruf braile bagi orang yang buta.

Jika Tuhan pernah mengacaukan manusia di zaman Nimrod dengan mengaruniakan bahasa-bahasa yang berbeda bagi mereka, tetapi kini, Tuhan telah menyatukan manusia ke dalam Kerajaan-Nya dengan pesan yang sama. Mungkinkah ini adalah suatu nubuat? Bukan, ini adalah kuasa Tuhan.



Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/John_Wycliffe
http://en.wikipedia.org/wiki/William_Tyndale


Rabu, 20 Mei 2009

SURAT-SURAT UMUM

Kitab Perjanjian Baru dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu:
1. Kitab-Kitab Injil
2. Surat-surat Paulus
3. Nubuat (Wahyu)
4. Surat-surat lainnya (General Epistles)

General Epistles terdiri dari surat 1 & 2 Petrus, Yakobus, Yudas, 1-3 Yohanes, dan Ibrani. Untuk dapat mengerti dengan baik surat-surat tersebut, kita perlu mempelajari latar belakang yang ada di sana. Salah satunya adalah dengan merujuk ke Kitab Kisah Para Rasul. Di sana kita temukan bahwa para rasul pernah mengadakan kesepakatan bahwa mereka membagi wilayah penginjilan mereka. Rasul Paulus dan Barnabas kepada orang-orang non Yahudi sedangkan rasul-rasul lainnya kepada orang-orang Yahudi teristimewa yang ada di Yerusalem.

Meskipun kesepakatan tersebut tidak mengartikan bahwa mereka tidak dapat menolong orang-orang yang berbeda atau lain dari yang telah disepakati. Contohnya, Petrus tetap saja menolong Kornelius. Ia masuk ke dalam rumah perwira pasukan Romawi itu walau tindakan tersebut sesungguhnya najis atau dilarang bagi bangsa Yahudi. Yohanes pun di masa tuanya mengalamatkan injil yang ditulisnya kepada orang Yunani. Petrus pun di akhir masa hidupnya ada di Roma dan mati disalibkan secara terbalik di sana.

Kesepakatan tersebut tampaknya lebih kepada kebijaksanaan yang tidak sedemikian mengikat. Tujuannya adalah agar mereka dapat lebih mandiri secara sehat dan dapat berkonsentrasi terhadap daerah atau wilayah yang sedang tangani. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia pun demikian? Di satu sisi kita mengerjakan sesuatu secara sendiri, di sisi lain kita bekerjasama atau bergantung satu sama lain. Seorang pakar hubungan manusia yang bernama Stephen R. Covey menyebut pemikiran ini dengan istilah “interdependent”. Ya, para rasul tampaknya sudah menerapkannya dan mengerti dalam tindakannya.

Melalui informasi-informasi tersebut, pertama-tama dapatlah kita mengerti kepada siapa surat-surat tersebut ditujukan. Secara umum adalah kepada orang-orang Kristen pada masa itu dan juga masa kini. Memang, pada surat-surat General Epistles, disebutkan nama atau kelompok murid-murid Kristus pada abad pertama sebagai alamat atau penerima surat. Contohnya di Yakobus, disebutkan “kepada kedua belas suku di perantauan. Di surat 1 Petrus: “kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Atau, di 2 Yohanes disebutkan “kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya…”

Jika demikian, dapat timbul pertanyaan, apa hubungannya surat-surat tersebut dengan kita yaitu orang-orang Kristen di masa kini. Bukankah surat-surat itu nyata jelas ditujukan kepada orang atau kelompok yang disebutkan namanya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut lebih jauh, mari baca dan perhatikan ayat berikut ini yaitu Kisah Para Rasul 2:39:

“…Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”

Artinya, janji Tuhan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Demikian pula pesan-Nya adalah pesan yang transenden, worldwide dan berkelanjutan.

Hanya saja, sebagai orang Kristen yang hidup di masa kini kita perlu juga mempelajari latar belakang kultur atau budaya, bahasa, pemikiran, kebiasaan, geografi, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian kita dapat memperoleh pesan yang jelas yaitu dengan cara mengintegrasikan hal-hal tersebut tadi. Karena jika tidak demikian, kita mungkin kurang mendapat pesan yang jelas bahkan salah interpretasi.

Tetapi, janganlah risau atau putus asa mendengar penjelasan ini karena sesungguhnya Alkitab bukanlah terlalu sulit untuk dipahami. Walau memang realitanya ada hal-hal tertentu yang cukup menantang kita untuk berpikir keras dan mempelajarinya dengan lebih serius atau lebih sungguh. Bahkan mungkin mendoakannya, meminta pimpinan Tuhan sehingga kita dapat mengertinya.

Selain itu, ada pula hal-hal yang memang tidak dinyatakan oleh Tuhan kepada kita, mungkin karena hal tersebut ada di atas rasio kita atau mungkin saja karena kebijakan ilahi-Nya.

Kabar baiknya, ditinjau dari isi, surat-surat General Epistles adalah surat-surat yang singkron satu sama lain. Tidak ada isi atau pesan yang bertentangan satu sama lain. Baik itu di antara surat-surat General Epistles sendiri, maupun terhadap surat-surat lain di PB dan di PL. Sebagai contoh, di Kitab Ibrani tertulis tentang arti dari iman, tetapi di kitab Yakobus dituliskan tentang iman yang benar yang menghasilkan perbuatan yang benar pula. Keduanya menulis tentang iman tetapi tidak bertentangan melainkan saling melengkapi dan mendukung satu terhadap yang lain.

Hal yang paling penting adalah bahwa baik prinsip, nilai maupun setiap kata dari Alkitab khususnya General Epistles adalah murni, benar dan berasal dari Allah. Surat-surat tersebut menjadi bagian yang terpadu dengan surat-surat yang lain di Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Sehingga dengan demikian, pesan Alkitab pun semakin kuat dan jelas saja bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Demikianlah cara Tuhan kita menyampaikan pesan-pesan-Nya. Indah dan brilliant, bukan?


Senin, 18 Mei 2009

MISKIN DI HADAPAN ALLAH (Bagian 2)

Bacaan: Mat 5:3

5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga

Memang, pada zaman Yesus, orang-orang sangat tertekan dan terhimpit secara ekonomi. Di samping itu, secara politis pun, bangsa Yahudi sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Sekelompok orang yang disebut orang Zelot di sana masih terus berusaha keras mempertahankan tanah airnya, mengusir penjajah demi merebut kemerdekaan. Bayang-bayang tentang kesejahteraan ekonomi, pemerintahan atau kerajaan yang baru terpatri dalam hati dan pikiran mereka. Tetapi, sekali lagi, khotbah Yesus bukanlah tentang hal-hal tersebut. Bukan karena Yesus cuek atau tidak peduli dengan situasi kondisi yang sedang mereka alami. Malah sebaliknya, Yesus sangat amat peduli. Bedanya, bagi Yesus, persoalan spiritual atau rohani pada masa itu tidak kalah mendesaknya dibandingkan persoalan-persoalan yang lain.

Selain krisis ekonomi dan politik, orang-orang di zaman Yesus juga mengalami krisis kerohanian. Pesan Tuhan tertutup kabut legalisme. Tidak ada pertobatan tetapi upacara-upacara, peraturan-peraturan, aktifitas-aktifitas relijius. Tanpa gairah, tanpa hubungan, tanpa kejujuran dan tanpa kerendahan hati.

Tokoh-tokoh agama seperti orang-orang Farisi tidak bicara soal hati. Mereka terus menerus berpikir dan berbicara soal peraturan demi peraturan baru, mensahkan yang baru dan menerbitkan yang baru. Semakin lama semakin sukar dan berat saja peraturan-peraturan tersebut. Dengan begitu mereka menilai atau beranggapan bahwa adalah merupakan suatu achievement jika orang-orang dapat atau sanggup menerapkan dan mengikutinya. Hal yang sama dengan aksi berbeda dilakukan oleh orang Esene. Dengan semakin jauh, terpencil, tersembunyi dan terpisah dari dunia, mereka mungkin beranggapan bahwa semakin banyak dan besar pula achievement yang mereka peroleh atau dapatkan. Tanpa membahas tentang orang Zelot, orang Romawi, dan orang awam Yahudi yang mungkin sudah bosan, eneg dan tidak peduli dengan agama. Tidak jauh berbeda dengan orang Saduki yang hidup “hari ini” dan untuk “hari ini”, karena mereka tidak percaya akan kebangkitan dan hari “esok”.

Situasi kondisi tersebut sepertinya dicermati Yesus dengan kebiasaannya yang selalu mengasosiasikan pesan-pesan yang ingin Ia sampaikan melalui keadaan terkini manusia. Apa yang sedang dialami, yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh manusia seringkali digunakan-Nya untuk menyampaikan pesan-pesan yang benar, tepat dan tidak kadaluwarsa. Makanya, Ia menyerukan: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Dengan kata-kata yang lain Yesus menyerukan, “Hey, jangan mengandalkan legalisme Anda, kekuatan fisik Anda, politik atau ekonomi Anda, pikiran Anda atau kepercayaan diri Anda! Jangan bergantung dan bersandar kepada itu semua! Tetapi, andalkanlah Tuhan, bergantunglah dan bersandarlah hanya kepada Nya saja!”

Selain mengasosiasikan sesuatu, Yesus seringkali juga memperjelas pesan-Nya dengan mengkontraskan apa yang benar dengan yang salah atau yang paling buruk. Untuk lebih jelas lagi, perhatikanlah kontras-kontras yang terdapat di Injil Lukas berikut ini:

Luk 18:10-14 adalah tentang orang Farisi yang kaya di hadapan Allah dan pemungut cukai yang miskin di hadapan Allah.
18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Luk 18:18-25 semakin memperjelas lagi yaitu ketika Yesus menjawab pemuda yang sangat bergantung, mengandalkan atau menyandarkan diri kepada kekuatan ekonomi-nya yaitu harta benda.
18:18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
18:19 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.
18:20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu."
18:21 Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
18:23 Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.
18:24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.
18:25 Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Maka semakin jelaslah pesan Yesus yaitu sebagai berikut:
Bergantunglah dan bersandarlah kepada Tuhan saja. Andalkanlah Dia bukan yang lain, maka Anda dijamin pasti 100% akan bahagia dan kebahagiaan Anda tidak dapat diambil, dicuri atau hilang lenyap. Statement ini bukan janji tetapi ilahi sifatnya, benar, sejati, kekal, dan tidak terbantahkan. Jika demikian, maka Andalah yang empunya Kerajaan Sorga. Anda adalah warga-Nya.




Referensi: Wikipedia; PASH Matius oleh DR. William Barclay - Penerbit BPK Gunung Mulia; Audio Sermon Grace to You - Happy are the Poor in Spirit by Mac Arthur, John; Audio Sermon Berean Publication House - Seri Khotbah di Bukit oleh Pdt. Harliem Salim

Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/


Minggu, 17 Mei 2009

MISKIN DI HADAPAN ALLAH

Bacaan: Matius 5:3

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Khotbah di Bukit ditulis oleh Matius dengan menggunakan bahasa Yunani. Kata “miskin” di sana di sebut dengan “ptokhos” yang berarti sangat amat miskin, mutlak, tidak mempunyai apa pun juga, bangkrut atau minus. Miskin yang dimaksud dengan “ptokhos” berbeda dengan “penes” yang juga berarti miskin tetapi masih mempunyai sesuatu. Seperti janda miskin yang mempunyai 2 keping uang untuk dipersembahkan di Bait Allah bukanlah “ptokhos”. Orang miskin yang masih mempunyai income atau penghasilan bukan “ptokhos” tetapi “penes”.

Secara verbal, Khotbah di Bukit di zaman-Nya disampaikan dengan menggunakan bahasa Aram. Bahasa tersebut adalah bahasa Ibrani yang mengalami perkembangan atau dapat kita sebut sebagai turunannya. Menurut bahasa Aram, kata “miskin” disebut dengan 'ani atau “ebion”. Kata tersebut lebih menekankan tentang kebergantungan atau ketergantungan kepada Tuhan karena tidak mempunyai apa-apa. Orang yang disebut 'ani atau “ebion” menganggap dirinya tidak mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan. Baginya, ia tidak mempunyai tempat bergantung atau bersandar selain Tuhan.

Jadi, dari bahasa Yunani dan bahasa Aram, dapatlah diambil kesimpulan tentang “miskin” yang dimaksud oleh Yesus. Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang sangat amat miskin, mutlak, tidak mempunyai apapun juga, bangkrut atau minus di hadapan Allah. Dengan demikian, ia tidak mempunyai apa-apa untuk diandalkan, tidak mempunyai sesuatu sebagai tempat bersandar atau bergantung selain daripada Tuhan saja.

Membaca penjelasan ini, Anda mungkin spontan membayangkan tentang orang yang miskin secara ekonomi atau financial. Padahal sesungguhnya “miskin” yang dimaksud oleh Yesus adalah miskin secara rohani. Di NIV Bible (New International Version), “miskin di hadapan Allah” disebut dengan “poor in spirit”. Sesuatu yang menunjukkan atau menandakan bahwa “miskin” yang dimaksud adalah spiritual-nya bukan yang lain. Khotbah Yesus di Bukit bukanlah economical, financial atau political sifatnya tetapi murni spiritual.

Jika demikian, apa indikasi dari orang yang “miskin” atau “tidak miskin” di hadapan Allah? Banyak gambaran yang dapat menjelaskan hal tersebut. Salah satunya adalah jika seseorang menganggap dirinya cukup baik di hadapan Tuhan. Atau, menganggap dirinya cukup layak untuk masuk sorga. Mengapa? Karena orang yang berpikir bahwa ia adalah orang yang cukup baik di hadapan Tuhan berarti ia bukan “miskin”, melainkan ia masih punya sesuatu yang dapat diandalkan atau dibanggakan di hadapan Tuhan. Mungkin itu adalah perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan, atau, achievement-achievement agamawi atau relijius yang telah ia capai seperti: menghadiri kebaktian, terlibat di pelayanan, berdoa, membaca alkitab, menginjil, dan lain-lain.

Timbul pertanyaan, jika demikian halnya, apakah berarti bahwa kita tidak usah atau tidak perlu berbuat baik dan melakukan tindakan atau aktifitas rohani? Tentu saja tidak. Tetapi, perbedaan yang besar ada pada motif dasarnya. Orang yang miskin di hadapan Allah berbuat baik dan melakukan tindakan atau aktifitas rohaninya karena sadar siapa dirinya di hadapan Tuhan bukan apa yang ia lakukan. Bahwa ia miskin dan butuh bergantung dan bersandar kepada-Nya.

Orang yang miskin di hadapan Allah menyadari siapa diri-nya, makanya ia melakukan apa yang benar dan berkenan kepada-Nya. Sebaliknya orang yang melakukan tindakan atau aktifitas relijius tanpa menyadari bahwa ia “miskin” di hadapan Allah, ia tidak berkenan kepada-Nya. Mereka biasanya, secara sadar atau tidak, menghitung perbuatan-perbuatan, tindakan dan aktifitas keagamaan, kemudian membawanya ke hadapan Tuhan dan menganggap diri cukup baik atau cukup layak untuk masuk Surga.

Sekali lagi, motif dasar di dalam diri seseorang sangat menentukan dan mempengaruhi keseluruhannya. Oleh sebab itu, jadilah miskin di hadapan Allah, karena orang yang demikianlah yang empunya Kerajaan Surga!



Referensi: Wikipedia; PASH Matius oleh DR. William Barclay - Penerbit BPK Gunung Mulia; Audio Sermon Grace to You - Happy are the Poor in Spirit by Mac Arthur, John; Audio Sermon Berean Publication House - Seri Khotbah di Bukit oleh Pdt. Harliem Salim

Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/



Kamis, 14 Mei 2009

6 TAHAP KESEMBUHAN ROHANI

Bacaan: Yohanes 9:6-7

9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek

Kisah orang buta sejak lahir di Yohanes pasal 9 dapat dijadikan ilustrasi tentang proses kesembuhan rohani.

Mari perhatikan lebih lanjut 6 (enam) tahap berikut ini:
1. Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menyembuhkan si buta.
Tindakan tersebut mengilustrasikan bahwa kesembuhan berasal dari Tuhan. Tanpa Dia, tidak ada yang dapat.

Kebenaran ini juga ditunjukkan atau dikonfirmasikan oleh dua ayat berikut yaitu bahwa Allah adalah mutlak dan satu-satunya sumber dari segala sumber kesembuhan rohani. Ia adalah sumber kebenaran dan kebaikan yang sejati, termasuk: pengampunan dosa, keselamatan, dan perubahan hidup.

Efesus 2
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

Yohanes 15
15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

2. Yesus menawarkan solusi kesembuhan dengan menginstrukskan atau menasihatkan si buta untuk pergi membasuh, menyeka dan menyingkirkan lumpur di matanya.
Tindakan ini mengilustrasikan tentang Tuhan yang menawarkan solusi dengan cara menyampaikan perintah atau nasihat berupa pesan-pesan kepada manusia. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui para nabi, Kitab Suci dan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus (band. Ibr 1:1-3).

3. Si buta mengikuti nasihat, petunjuk atau instruksi yang diberikan oleh Yesus.
Ini menggambarkan tentang seseorang yang patuh terhadap nasihat, petunjuk atau perintah Tuhan, sehingga ia disembuhkan. Selain itu, ini pun mengartikan bahwa ada bagian atau porsi manusia dalam proses penerimaan kesembuhan rohani. Meskipun memang kesembuhan berasal dari Tuhan, tetapi manusia bukan berarti pasif saja, diam dan tidak melakukan apa-apa selama proses tersebut. Sebaliknya, manusia perlu me-respon, mengambil keputusan untuk bertobat dan meninggalkan dosa-dosanya.

4. Si buta sembuh kemudian mendapat berbagai respon dari orang-orang di sekelilingnya. Ada respon yang positif, ada pula respon yang negatif.
Seorang yang telah bertobat mengalami perubahan-perubahan nyata. Orang-orang di sekelilingnya secara otomatis dapat melihat atau merasakan perubahan tersebut. Contohnya, orang yang kasar menjadi gentle dan penuh penguasaan diri, orang yang cabul menjadi sopan dan tidak ngeres, orang yang suka bohong atau licik menjadi jujur dan terbuka, dan lain-lain.

Perubahan-perubahan besar atau total pasti segera mendapat tanggapan teristimewa dari orang-orang yang biasa berinteraksi dengan orang yang telah bertobat tersebut.

5. Si buta menjawab dengan mengakui kesembuhannya adalah berasal dari dan karena Yesus.
Dalam kesaksiannya, orang Kristen atau orang yang telah bertobat patut mengakui bahwa kesembuhannya adalah berasal dari dan karena TUHAN. Bukan karena kehebatan, kemampuan atau keistimewaan dirinya semata-mata.

6. Si buta teguh dan setia dengan iman dan keyakinannya meskipun mendapatkan tekanan atau intimidasi dari orang lain yaitu orang-orang Farisi.

Orang Kristen atau orang yang bertobat tidak selalu diterima, disetujui atau disukai oleh orang lain. Ada orang tertentu, di tempat tertentu atau masa tertentu, di mana mereka mendapatkan tekanan, intimidasi bahkan penganiayaan. Tetapi, ia harus tetap teguh dan setia. Karena, tidak ada yang lebih kuat dan berkuasa selain daripada TUHAN saja. Ia berkuasa atas langit dan bumi. Sorga dan neraka. Hidup dan mati. Sedang sekuat-kuat dan sehebat-hebatnya manusia, paling lama 120 tahun saja hidupnya.

Setelah itu, setiap orang, yang percaya atau tidak percaya, yang patuh atau tidak patuh, yang garang atau yang bengis, yang baik atau yang jahat, yang benar atau yang tidak benar, akan bertekuk lutut di hadapan TUHAN.

Seperti Fil 2:10 katakan:

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

Bedanya, ada yang bertekuk lutut dengan sikap hati menyembah, tetapi ada pula yang terpaksa menekukkan lututnya karena tidak berdaya di hadapan DIA pada akhir zaman.