Rabu, 13 Mei 2009

BUTA ATAU MELIHAT?

Bacaan: Yohanes 9:39-41

9:39 Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."
9:40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?"
9:41 Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.

Rasul Yohanes mempunyai gaya tulisan yang khas. Ia biasanya menggunakan kata-kata tertentu untuk mengasosiasikan sesuatu. Contohnya, ia menggunakan kata "gelap" untuk menggambarkan moralitas yang buruk, dan menggunakan kata "terang" untuk menggambarkan apa yang ilahi, yang berasal dari Tuhan, atau pun firman-Nya.

Di pasal 9, ia menggunakan kata buta dan melihat secara jasmani sebagai asosiasi dari “buta” dan “melihat secara rohani.” Di sana, Yohanes bercerita tentang orang yang buta sejak lahir. Ia disembuhkan oleh Yesus dengan cara mengoleskan matanya dengan tanah yang dicampur dengan ludah, kemudian menyuruhnya pergi ke kolam Siloam untuk menyekanya.

Seketika itu orang buta itu pun dapat melihat dengan sempurna. Tidak lama kemudian, desas-desus kesembuhan orang itu pun terdengar dan diketahui banyak orang. Sampai-sampai sejumlah orang Farisi mendatangi dia. Mereka merasa keberatan dan tidak suka dengan mujizat yang terjadi. Karena, fokus atau perhatian mereka bukanlah soal “buta yang kini dapat melihat”, tetapi, “mengapa Yesus menyembuhkannya pada hari Sabat?”.

Kebencian dan kesombongan orang-orang Farisi telah membutakan mereka. Jauh sebelumnya, di pasal 8 dan pasal-pasal sebelumnya telah tercatat bahwa orang-orang Farisi tidak menyukai Yesus. Mereka benci terhadap Dia dan menganggap-Nya sebagai penyesat dan pembawa ajaran baru, yang lain dari yang mereka ajarkan.

Anda mungkin bertanya mengapa dan bagaimana ceritanya orang-orang Farisi benci terhadap Yesus? Peraturan-peraturan yang diterbitkan orang-orang Farisi sangat amat banyak jumlahnya dan itu pun semakin banyak saja dari waktu ke waktu, karena orang-orang Farisi secara kontinu terus-menerus menambahkannya. Tugas atau pekerjaan mereka sehari-hari adalah mendiskusikan Kitab Taurat untuk kemudian menerbitkan peraturan-peraturan yang baru dan terbaru lagi.

Dapat dimengerti bahwa Yesus tidak memenuhi harapan atau keinginan mereka karena Ia tidak mengikuti peraturan-peraturan yang mereka terbitkan. Jadi, terang saja Yesus dipandang menentang, mengancam bahkan membahayakan posisi atau ajaran mereka.

Orang-orang Farisi tidak peduli dan menutup mata terhadap mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Demikian pula seterusnya hingga akhirnya yaitu ketika Yesus bangkit dari mati pun, mereka tetap menolak atau tidak menerima kenyataan tersebut.

Meski orang buta itu telah dapat melihat, orang-orang Farisi terus bertanya berulang kali. Entah mengapa dan apa tujuannya, mereka bertanya dan bertanya lagi. Kepada orang buta itu, kepada orang tuanya dan kembali lagi kepada dia. Tetapi, sepertinya pertanyaan-pertanyaan mereka bukan bertujuan untuk memastikan kebenaran bahwa mujizat itu telah terjadi. Sebaliknya, mereka hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengarkan yaitu bahwa orang buta itu tidak benar-benar sembuh, atau Yesus tidak menyembuhkannya, atau Yesus salah dan patut dihukum, atau Yesus tidak berasal dari Allah. Jadi, percuma saja mereka bertanya, karena mereka pun tidak menginginkan jawaban yang sebenarnya.

Secara sederhana, orang buta itu menjawab bahwa tadinya ia buta sejak lahir dan kini dapat melihat karena Yesus. Sekali lagi, suatu jawaban yang sangat sederhana.

Bukankah demikian juga di dalam kebutaan rohani? Setelah Tuhan menyembuhkan mata hati atau mata rohani kita, tidak ada penjelasan yang dapat menandinginya. Tidak ada yang lebih meyakinkan selain bahwa dulu kita buta sekarang kita telah melihat. Perubahan hidup jauh lebih jelas dibanding penjelasan-penjelasan yang lain. Pengalaman bersama Tuhan atau hubungan yang dekat dengan-Nya seringkali tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Seperti halnya orang buta tadi, kita hanya perlu membersihkan mata hati kita dari dosa yaitu “bertobat”. Dengan demikian kita dapat melihat Dia dan kebenaran-Nya.

Yakinlah, bahwa memang banyak hal yang dapat kita jelaskan tentang Tuhan, tentang Kitab Suci, dan tentang kekristenan, tetapi tampaknya jauh lebih banyak yang tidak dapat kita jelaskan dengan kata-kata. Ini tidak berarti bahwa orang Kristen cenderung tidak logis atau irasional. Tetapi, sebagai manusia yang juga berpikir logis, semestinya kita menyadari bahwa kita berada di dalam keterbatasan waktu, pikiran dan kemampuan untuk menjelaskan semuanya dari semuanya dalam tahun-tahun hidup kita.

Jadi, alangkah bijaksananya jika kita menerima iman dan penyataan yang dianugerahkan Tuhan saja, sehingga kita mengalami perubahan hidup yang diawali dengan pertobatan yaitu membersihkan mata hati kita, maka kita pun dapat melihat. Ya, penglihatan yang melompat menyeberangi jurang penjelasan-penjelasan.


Di-inspirasi oleh Sdr. Suyanto Salim pada acara PDG Harapan Indah Bekasi, Rabu, 13 Mei 2009.

Selasa, 12 Mei 2009

BERBAHAGIALAH... (Bagian 1)

Bacaan: Matius 5:1-3

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
5:2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Ditinjau dari audiens-nya, Khotbah Yesus di Bukit dihadiri banyak orang dari beragam golongan atau kelompok. Bagaimana kita dapat mengetahui hal tersebut? Sebelum khotbah-Nya di Bukit, Yohanes Pembaptis sudah mengarahkan pandangan public kepada Yesus. Dengan demikian, audiens Yohanes yaitu para pengikutnya termasuk orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, tentara-tentara Romawi, dan lain-lainnya, yang biasa mendengarkan khotbahnya pun tentu saja mulai melihat dan mengamat-amati Yesus. Di tambah lagi, Yesus sudah mengajar dan menyembuhkan banyak orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari sana dapat disimpulkan bahwa iringan orang banyak semakin besar dan kontinu mengikuti Dia. Dari golongan terendah hingga tertinggi. Dari golongan pemerintah, penguasa hingga petinggi agama. Juga injil Lukas mencatat bahwa sebelum khotbah-Nya di Bukit, Yesus pun sudah memilih dan mengangkat ke-12 murid-Nya. Jadi, Khotbah Yesus di Bukit dapat digambarkan seperti event yang besar.

Khotbah di Bukit bukanlah khotbah biasa. Mengapa? Karena menurut injil Matius, Yesus menyampaikan khotbah tersebut diawali dengan naik ke atas bukit lalu duduk di sana. Sesuai tradisi Yahudi, seorang rabi yang mengajar dengan duduk adalah lebih formal dan khusus dibanding ketika Ia berdiri dan mengajar. Maka dapat dimengerti bahwa Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit secara khusus dan bersifat formal.

Khotbah tersebut juga merupakan kombinasi mengajar dan berkhotbah. Anda mungkin bertanya apa bedanya? Bedanya adalah: mengajar itu menjadikan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Sedangkan, berkhotbah adalah menjadikan yang tidak sadar menjadi sadar, yang acuh tak acuh menjadi fokus atau konsentrasi, dan yang tidak peduli menjadi peduli. Mengajar biasanya menjelaskan sedang berkhotbah biasanya menggugah atau menginspirasi. Dan, Khotbah di Bukit adalah kombinasi dari keduanya.

Ditinjau dari waktu khotbah-Nya, Yesus tidak menyampaikan Khotbah di Bukit seluruhnya pada satu kesempatan. Tindakan menyampaikan khotbah-Nya ditulis dengan bahasa Yunani dalam bentuk imperfek yang berarti bahwa khotbah tersebut disampaikan berseri, berulang-ulang. Khotbah Yesus di Bukit pun adalah khotbah yang bersifat teratur dan progresif. Di mulai dari “miskin di hadapan Allah” hingga “dianiaya oleh sebab kebenaran”.

Secara historis, banyak orang di zaman Yesus yang mendambakan kebahagiaan. Bangsa Israel ada dibawah penjajahan bangsa Romawi pada masa itu. Mereka tertekan dan terhimpit baik secara ekonomi maupun politik. Teristimewa orang-orang Zelot, mereka lebih dari mendambakan kemerdekaan, mereka bersikeras, bergerilya melawan penjajah Roma. Orang-orang Romawi berpikir bahwa kebahagiaan sudah mereka raih dengan “menang perang”, menjajah, dan memperluas wilayah kekuasaan. Orang-orang Farisi berpikir mereka akan bahagia dengan legalisme. Orang-orang Saduki berpikir bahwa kebahagiaan adalah menikmati kekinian atau hari ini sebab besok atau di hari depan tidak ada kebangkitan. Orang-orang Esene berpikir, kebahagiaan adalah memisahkan diri dari dunia. Jadi, apakah sesungguhnya kebahagiaan itu?

Matius menulis kata bahagia dengan bahasa Yunani yaitu “makarios” yang berarti kebahagiaan ilahi. Bangsa Yunani biasanya menggunakan kata ini untuk para dewa. Jadi, makarios adalah kebahagiaan yang tidak terpengaruh oleh situasi kondisi dari luar. Ia tidak dapat dicuri, diambil, dimusnahkan atau dilenyapkan oleh orang atau apa pun yang lain di luar diri seseorang. Kebahagiaan yang dimaksud Yesus bersifat sejati, guaranteed, benar dan bersifat kekal. Bukan seperti anggapan-anggapan orang pada waktu itu termasuk juga banyak orang pada zaman ini.

Salah satu cara atau syarat mendapatkan kebahagiaan adalah dengan menjadi “miskin di hadapan” Allah. Suatu statement yang mengguncang dan mengagetkan orang banyak pada zaman itu. Karena Yesus tidak menyatakan bahwa kebahagiaan terdapat dalam “legalisme” beragama. Kebahagiaan juga bukan “modernisme atau kekinian”. Kebahagiaan pun tidak dapat diperoleh dengan cara “memisahkan diri dari dunia”. Kebahagiaan juga bukan soal “menang-kalah” melawan orang atau bangsa lain. Tetapi, kebahagiaan ada di dalam diri setiap orang yang "miskin di hadapan Allah".

Pertanyaannya, apa arti “miskin di hadapan” Allah?


...(bersambung)


Referensi: Wikipedia; PASH Matius oleh DR. William Barclay - Penerbit BPK Gunung Mulia; Audio Sermon Grace to You - Happy are the Poor in Spirit by Mac Arthur, John; Audio Sermon Berean Publication House - Seri Khotbah di Bukit oleh Pdt. Harliem Salim

Copyright © 2009 by Naek http://www.nevermissingqt.blogspot.com/

Minggu, 10 Mei 2009

5 GRUP BESAR DI ZAMAN YESUS

Sebelum mempelajari Perjanjian Baru lebih jauh, ada baiknya bagi kita tahu sedikit banyak tentang kelompok-kelompok besar yang ada di zaman Yesus. Mereka adalah orang Farisi, orang Saduki, orang Esene, orang Romawi dan orang Zelot. Dengan demikian kita akan semakin jelas melihat atau mengerti setiap perkataan atau kisah yang ada di sana.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang mereka, mari pelajari satu per satu dari kelompok-kelompok tersebut:
Orang Farisi
Kata Farisi berasal dari bahasa Ibrani פרושים p'rushim, dari perush, yang berarti penjelasan. Jadi kata Farisi berarti "orang yang menjelaskan" (לפרש, "lefareish - menjelaskan")... Kaum Farisi,…belakangan merupakan sebuah aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci Kedua (536 SM–70 M).

Kelompok ini biasanya juga disebut bersamaan dengan Ahli Taurat yaitu: “Orang Farisi dan Ahli Taurat”. Keduanya mempunyai aktifitas serupa yang berkaitan dengan Kitab-Kitab Perjanjian Lama khususnya 5 Kitab Pertama atau Pentateukh yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.

Orang-orang Farisi mempunyai rutinitas mempelajari Kitab-Kitab tersebut, mengintepretasikannya, mendiskusikan, menuliskan, dan mensahkan hasil-hasilnya dalam bentuk aturan atau peraturan. Semua itu dituangkan dalam bentuk tulisan yang disebut sebagai Kitab Mishnah. Kitab Mishnah sendiri mempunyai penjelasan lagi yaitu Kitab Talmud. Dari waktu ke waktu, kitab Mishnah dan Kitab Talmud berisi banyak sekali tulisan termasuk aturan atau peraturan-peraturan di dalamnya. Sebagai gambaran, tentang hari Sabat saja, di Mishnah terdapat 24 Bab dan di Talmud Babylonia terdapat 312 halaman folio.

Orang Saduki
Orang-orang Saduki berasal dari pengikut imam Zadok yang hidup di masa pembangunan Bait Suci pertama yang didirikan oleh raja Salomo.

Secara moral, kelompok imam ini tampak lebih buruk dibanding orang Farisi dan orang Esenes. Mereka adalah seperti kelompok imam yang korup, yang walaupun berasal dari keturunan Lewi, tetapi keyakinan mereka telah banyak dipengaruhi oleh sinkritisme, filsafat, dan politik.. Mereka menolak atau menentang interpretasi orang-orang Farisi terhadap kitab-kitab Musa dan hukum Taurat. Orang-orang Saduki pun sangat dikenal sebagai kelompok orang yang tidak percaya terhadap kebangkitan.

Sejarahwan Yahudi abad pertama yang bernama Josephus menyatakan tentang moralitas orang-orang Saduki sebagai berikut:

the Sadducees...take away fate entirely, and suppose that God is not concerned in our doing or not doing what is evil; and they say, that to act what is good, or what is evil, is at men's own choice, and that the one or the other belongs so to every one, that they may act as they please. They also take away the belief of the immortal duration of the soul, and the punishments and rewards in Hades...The Sadducees one towards another is in some degree wild, and their conversation with those that are of their own party is as barbarous as if they were strangers to them.[2]

Orang Esene
Orang-orang Esene adalah kelompok relijius Yahudi yang berkembang sejak abad ke-2 SM hingga abad ke-1 M. Kelompok ini berupaya keras memisahkan diri dari gemerlap dunia dan pengaruhnya. Mereka secara kelompok atau komunal, hidup di berbagai tempat terpencil demi menjalankan keyakinan dan ibadahnya kepada Tuhan. Salah satu karya atau upaya kerja keras mereka adalah Dead Sea Scrolls yaitu Naskah Laut Mati yang menurut anggapan para ahli adalah merupakan perpustakaan orang-orang Esene. Secara jumlah, mereka lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki.

Orang Romawi
Bangsa Romawi terkenal dengan pasukan perangnya yang kuat. Dengan itu mereka dapat mengalahkan bangsa-bangsa dan menjajahnya termasuk bangsa Israel atau Yahudi. Secara jasmani, mereka mempunyai karakteristik yang kuat, keras, mengalahkan, menguasai dan menjajah.

Orang Zelot
Kelompok Zelot merupakan suatu gerakan politik Yahudi di abad pertama yang berupaya keras menentang penjajah Roma secara fisik atau dengan kekerasan. Cara mudah mengingat orang-orang Zelot adalah dengan mengingat kata “lawan”, “kalahkan”, “usir” penjajah Romawi. Tampaknya tidak ada objektif lain yang lebih kuat ketimbang hal tersebut. Bagi kaum Zelot, itu adalah cita-cita mereka bukan yang lain yang lebih relijius atau spiritual.

Karena karakteristiknya yang kuat dan jelas, maka kita dapat mengingat kata-kata kunci yang dapat mewakili kelompok-kelompok tersebut: Orang-orang Farisi adalah Legalis; Orang-orang Saduki adalah modernis, duniawi atau bersifat kekinian; Orang-orang Esene adalah memisahkan diri dari dunia, apatis, dan menyendiri. Orang-orang Romawi adalah kuat, penakluk atau penjajah; dan orang-orang Zelot adalah penentang atau pemberontak.

Dengan meninjau sifat-sifat atau karakteristik yang ada di dalam diri kelompok-kelompok ini, maka kita pun dapat mengerti bahwa semua itu pun terdapat juga di dalam diri orang atau kelompok-kelompok yang ada di masa kini. Sifat atau karakteristik-karakteristik itu adalah: legalis, modernis, duniawi atau bersifat kekinian, memisahkan diri, apatis, menyendiri, penjajah, penentang atau pemberontak.

Bukan sifat atau karakteristik yang asing, bukan?





Referensi: http://en.wikipedia.org; hal 206 PASH Yohanes oleh DR. William Barclay - BPK Gunung Mulia



Jumat, 08 Mei 2009

NUBUAT-NUBUAT

Ditinjau dari periode waktu, nubuat dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu:

1. Nubuat PL

Nubuat-nubuat PL sebagian besar digenapi di PB. Nubuat tersebut adalah tentang kelahiran Yesus, tentang hidup-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.

Nubuat-nubuat tersebut terdapat di setiap buku PL. Tentang kelahiran-Nya terdapat di Kejadian, Yesaya, Mikha, dan lain-lain. Tentang kehidupan-Nya bahwa Ia adalah Penasihat Ajaib, Raja Kekal, dan lain-lain ada di Yesaya. Tentang penyaliban dan kematian-Nya terdapat di Mazmur. Tentang kebangkitan-Nya terdapat di kitab Yunus, dan lain-lain.

Selain itu, banyak kisah-kisah di PL merupakan bayang-bayang dari yang akan datang yaitu Kristus. Contohnya, tentang darah yang dilaburkan di depan pintu rumah bangsa Israel adalah tentang darah Yesus yang melindungi umat-Nya; tentang Musa memimpin bangsa Israel menyeberang Laut Teberau menggambarkan Yesus yang membawa orang-orang Kristen menyeberang dari dunia yang penuh dosa kepada keselamatan yaitu Sorga.

Yesus sendiri, setelah bangkit menjelaskan bahwa nubuat-nubuat di kitab PL adalah tentang diri-Nya dan telah digenapi di dalam diri-Nya (band. Lukas 24:27-32).

2. Nubuat PB
Nubuat PB sebagian besarnya berasal dari Yesus. Ia menubuatkan tentang Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga.

Berikut ini adalah ayat-ayat tentang nubuat tersebut:
1. Mat 4:17: Kerajaan Allah sudah dekat. Artinya, tidak lama lagi ia akan ada atau datang. Mungkin dalam hitungan bulan atau tahun lagi.

2. Mat 5:3,10; 6:33; 7:21; 18:3: Karakteristik orang-orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mereka adalah orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa, yang tidak kuatir tetapi mengutamakan Dia, dan punya kualitas hati seperti anak kecil.

3. Mat 6:10: Yesus mendoakan agar Kerajaan Allah ada di bumi seperti di sorga. Doa ini bukan keinginan Yesus semata tetapi fokus atau impian-Nya yang akan menjadi kenyataan.

4. Mat 8:11: Kerajaan Sorga terdiri dari orang-orang dari berbagai tempat dan berbagai bangsa (band. Kis 2:9-11).

5. Mat 11:11-13: Kerajaan Sorga ada setelah Yohanes dan ia sendiri tidak sempat melihat dan ada di sana yaitu ketika Kerajaan Sorga ada di bumi. Yohanes mati dipenggal kepalanya oleh raja Herodes.

6. Mat 13:31-32: Kerajaan Sorga bermula dari sesuatu yang sangat kecil seperti biji sesawi atau ragi yang kecil. Tetapi, akhirnya menjadi paling besar dan seluruh dunia. Kerajaan Sorga atau Jemaat Tuhan dimulai dari jumlah orang yang sangat kecil atau sedikit.

7. Mat 13:24-30,36-43: penghakiman terhadap orang yang jahat atau durhaka yang menyusup masuk ke dalam Kerajaan-Nya di bumi. Ada orang-orang yang tidak bertobat, tidak patuh, degil dan keras kepala di Jemaat. Paulus menyebutnya saudara-saudara palsu.

8. Mat 13:44: Kerajaan Allah adalah seperti harta terpendam yang dibeli dan dibayar lunas oleh seseorang. Artinya Kerajaan Allah begitu berharganya bagi orang tersebut sehingga Ia membeli dan membayarnya dengan seluruh milik kepunyaannya.

9. Mat 13:45-46: Kerajaan Allah adalah seperti mutiara yang dibeli dan dibayar lunas oleh seseorang. Artinya Kerajaan Allah begitu berharganya bagi orang tersebut sehingga Ia membeli dan membayarnya dengan seluruh milik kepunyaannya.

10. Mat 13:47-48: Kerajaan Sorga terdiri dari orang yang datang dari berbagai bangsa di dunia, yang terkumpul ke dalam satu tempat (band. Kis 2:9-11).

11. Mat 16:18: 19: Petrus adalah pemegang kunci Kerajaan Sorga yaitu Jemaat Tuhan. Pernyataan ini memberitahukan bahwa Petrus akan berkhotbah pada hari Pentakosta yang dihadiri oleh orang-orang yang berasal dari berbagai tempat dan bangsa di dunia.

12. Mat 20:1-16: Kerajaan Sorga adalah pemberian Tuhan. Itu adalah kasih karunia-Nya bukan karena kerja atau upaya yang kita lakukan.

13. Mat 25:1-13: Nasihat supaya berjaga-jaga menyambut atau menyongsong Kerajaan Sorga.

14. Mat 25:14-30: Kristus akan pergi dan menitipkan Kerajaan Sorga yang ada di bumi yaitu Jemaat kepada hamba-Nya atau murid-Nya. Ayat ini mengartikan bahwa sebagai murid-Nya kita wajib menjaga atau mengelola kepunyaan-Nya yaitu Jemaat-Nya sesuai dengan talenta yang diberikan kepada kita.

Nubuat Yesus tentang Kerajaan Allah digenapi di Kisah Para Rasul 2:1-47. Kerajaan Allah adalah Jemaat mula-mula yang lahir di Yerusalem pada hari Pentakosta. Di mana waktu itu berkumpul orang-orang dari berbagai tempat atau bangsa di dunia. Mereka menyaksikan turunnya Roh Kudus sehingga murid-murid-Nya berbicara dengan berbagai bahasa dari berbagai bangsa di dunia. Meskipun bahasa tersebut bukanlah bahasa mereka dan mereka tidak pernah tahu berbahasa tersebut sebelumnya.

Saat itu, sebagai pemegang kunci Kerajaan Sorga, Petrus berkhotbah menjelaskan isi Kitab Suci dan menyerukan supaya orang-orang yang hadir saat itu untuk bertobat dan dibaptis untuk mendapatkan pengampunan dosa dan karunia Roh Kudus (band. Kis 2:38).

Sebagian nubuat PL dan nubuat PB berisi tentang penghakiman, tentang kedatangan Yesus dan tentang akhir zaman. Semua itu tentunya belum digenapi hingga saat ini. Dengan kata lain, nubuat-nubuat tersebut sedang dalam penggenapan atau akan digenapi kemudian di masa yang akan datang.




SUKACITA SEORANG GEMBALA

Senyum Pendeta Rudi tidak habis-habisnya malam itu. Berbagai respons yang diterimanya sesudah KKR yang baru saja berlangsung membuat dirinya semakin takjub akan karya Tuhan. “Ini bukan kerja manusia”, gumannya. Bayangkan saja, kehadiran yang mereka doakan beberapa minggu itu adalah 500 orang. Itupun adalah jumlah yang sangat besar, untuk ukuran iman mereka dan tempat yang tersedia. Tetapi Tuhan menjawab lebih. Tidak kurang dari 1000 orang memadati auditorium olah raga yang mereka sewa. Semuanya sesak. Banyak jiwa mengambil keputusan untuk bertobat. Bahkan anggota jemaatnya yang hanya 100 orang seperti tertelan dalam lautan manusia. Di beberapa sudut, gembala Rudi memerhatikan salah seorang pemimpinnya begitu sibuk melayani. Ibu-ibu di sudut lainnya tidak kalah repot untuk mengurusi kartu-kartu respons bersama para ushers. Sementara para singer terus menerus melantunkan puji-pujian seperti tanpa kenal lelah.

Di sudut belakang, terlihat beberapa orang tua meneteskan air mata sambil berpelukan. Merekalah yang melihat perjalanan gereja itu untuk waktu yang cukup lama. Pada malam itu, rasanya berbeda dari malam, minggu, bulan dan tahun-tahun sebelumnya. Apakah yang terjadi? Mungkinkah Tuhan mengulangi lagi suasana pentakosta seperti 2000 tahun yang silam, batin beberapa pengajar senior dan tua-tua jemaat. Atau kita telah membangun sebuah dasar yang benar bagi gereja kita? Atau, ini hanyakah kejadian sesaat?

Benar saja, beberapa tahun setelah KKR yang fenomenal itu, ternyata jumlah jemaat yang setia dalam gereja bukannya bertambah, malah semakin menurun, sampai hanya puluhan jiwa saja. Selebihnya, kalaulah ada acara khusus, kehadiran dapat bertambah menjadi sekitar 100 orang. Mengapa hal ini terjadi? Dari desas desus, ternyata tidak jauh dari sana ada sebuah gereja baru dengan bangunan paling mutakhir baru saja selesai. Sebagai gambaran umum, sound system saja berharga tidak kurang dari 2 milyar rupiah, belum lagi pendingin udara dan akustik yang hampir mendekati sempurna. Selain itu pamphlet dan brosur tentang pembicara yang cukup dikenal di gereja baru tersebut terpampang hampir di sudut jalan yang strategis setiap minggunya. Perlahan-lahan, orang-orang mulai melirik gereja yang baru tersebut.

Lain lagi pengalaman Pak Liem. Seorang gembala muda, yang baru merintis sebuah gereja di sebuah kota kecil di Jawa. Sebelumnya, gereja itu digembalakan oleh seorang pelayan lokal yang sudah berumur. Jemaatnya seperti hidup segan mati tak mau. Kehadiran setiap minggu hanya bilangan jari. Tetapi, setelah Pak Liem memberikan semacam training yang diperolehnya dalam sebuah seminar pertumbuhan: “Lima Langkah Menghidupkan jemaat yang mati suri” keadaan berubah drastis. Orang-orang lebih semangat, kehidupan doa semakin berapi-api. Banyak mujizat terjadi, sehingga kabar tentang jemaat ini tersebar sampai ke ibu kota propinsi. Setiap minggu, kehadiran membludak. Bahkan tamu dari luar kota lebih banyak dari jemaat lokal. Karena kota itu adalah tempat wisata, tidak jarang, orang-orang menghabiskan akhir minggunya di sana, untuk selanjutnya ikut ibadah di gereja pak Liem.

Orang-orang mulai bertanya-tanya, kiat apa yang dilakukan gereja tersebut sehingga berubah dan bertumbuh demikian drastis? Mereka mulai mendatangi dan belajar dari gereja tersebut. Gembala sidang mulai sering dicari-cari orang. Bahkan sering diundang untuk berbicara di berbagai seminar Pertumbuhan Gereja.

Sesudah beberapa waktu berselang, Pak Liem telah ‘bertumbuh’ menjadi begitu dikenal di kalangan MLM, sebagai pembicara motivator dan konselor. Beliau sekarang telah memiliki beberapa bidang usaha jasa organiser dan training kepemimpinan. Jadwalnya sangat padat. Tapi bagaimana dengan gereja yang telah dilayaninya beberapa tahun yang silam di Jawa? “Ceritanya panjang” desah pak Liem. Sesudah terdiam beberapa saat dan mengambil nafas dalam-dalam, ia mulai bercerita: “Panggilan Tuhan…Dia meminta saya untuk terlibat di dunia sekuler..” Selanjutnya dia menceritakan panjang lebar berbagai masalah dalam gerejanya yang tidak selesai-selesai. Sementara, kini gereja itu sendiri hampir tutup, seiring dengan hilangnya keberadaan (atau kharisma?) pendeta Liem dari sana.

Banyak pertanyaan yang dapat diajukan dari dua contoh gereja yang pernah semangat ini. Tetapi intinya adalah, lingkungan sangat memengaruhi pertumbuhan (contoh 1) dan ada korelasi yang sangat tajam dan kuat antara kepemimpinan dalam gereja dengan pertumbuhan gereja itu sendiri (contoh 2). Dengan sebuah hipotesa awal dari dua kisah di atas adalah: pertumbuhan suatu ketika agaknya berbeda dengan pertumbuhan yang terus menerus atau berkelanjutan. Dapat saja terjadi sebuah gereja yang pernah bertumbuh, menjadi tidak lagi, bahkan semakin menurun seiring berlalunya waktu. Dengan kata lain, gereja tersebut tidak bertumbuh secara terus menerus, atau berkelanjutan.

Kamis, 07 Mei 2009

YESUS DAN WANITA (Part 2)

Bacaan: Yohanes 8:7

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Melalui peristiwa seorang perempuan yang berzinah, Yesus mengajarkan banyak hal kepada orang banyak teristimewa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Dibanding tiga golongan lain yaitu Saduki, Esenes, dan Zelot, orang-orang Farisi dan ahli Taurat tampaknya paling sering menguji untuk dapat menemukan kesalahan Yesus sehingga punya alasan untuk menghukum atau mempersalahkan Dia. Bahkan mereka sangat ingin membunuh-Nya.

Tetapi, bukannya mendapat kesalahan Yesus, mereka malah mendapatkan pelajaran-pelajaran yang mengguncang paradigma mereka. Terlepas dari menerimanya atau tidak, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan menghasilkan jawaban atau pernyataan yang tepat 100%. Benar, membungkam dan tidak terbantahkan.

Mari perhatikan apakah pelajaran yang sedang Ia sampaikan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada saat itu:
1. Jangan menghakimi
Penghakiman adalah milik atau hak Tuhan bukan manusia. Ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat menyatakan kesalahan sesamanya. Bedanya dengan menghakimi, menyatakan kesalahan adalah mengarahkan orang lain kepada pertobatan atau perubahan yang lebih baik secara rohani.

2. Jangan self righteous
Yesus mengajarkan tentang introspeksi, kesadaran penuh terhadap keadaan atau keberadaan diri yang berdosa. Orang-orang Kristen sesungguhnya adalah orang-orang yang berdosa yang saling membantu, menolong, membangun atau menguatkan satu sama lain. Bukan menyalahkan atau mempersalahkan apalagi menghakimi.

3. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri
Dengan meminta orang yang tidak berdosa yang pertama kali melemparkan batu, berarti Yesus sedang mengajarkan salah satu intisari Kitab Suci yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

4. Yesus berorientasi kepada solusi yaitu pertobatan

5. Yesus mengajarkan tentang kesempatan kedua dan pengampunan

Seperti yang disebutkan di kitab-kitab Injil, Yesus begitu berbeda dibanding pengajar-pengajar Israel. Ia tidak mencontohi, mengutip apalagi mengimitasi para imam, orang Farisi atau ahli Taurat. Sebaliknya, Ia berkata-kata dengan penuh kuasa dan otoritas. Ia menyebut kata-kata-Nya sebagai “Firman-Ku”. Menyebut Allah dengan “Bapa”.

Mengenai perempuan yang berbuat dosa tersebut, ia adalah Maria Magdalena*). Ia juga yang membasuh kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Ia pula yang meminyaki Yesus di Betania. Dan sangat mungkin semua itu ia lakukan sebagai ungkapan perasaan yang berhutang kepada Yesus karena ia pernah hampir dihukum mati. Waktu itu, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan orang banyak siap merajamnya dengan batu. Tentu saja perempuan itu merasa ketakutan. Pastilah ia berpikir: tamatlah riwayatku. Bayangan-bayangan yang mengerikan sudah ada dibenaknya. Batu. Darah. Sakit. Perih dan Mati.

Tidak heran ia menjadi wanita yang banyak berbuat kasih karena ia merasa sangat beruntung. Lebih dari selamat terhadap rajaman batu, ia selamat secara rohani. Perempuan yang berdosa itu telah bertobat dan mendapat pengampunan dosa.



*)Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Maria_Magdalena

Selasa, 05 Mei 2009

YESUS DAN WANITA

Bacaan: Yohanes 4:4-28

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
…Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?

Bukan satu atau dua kasus saja yang terjadi di dunia mengenai pria dan wanita. Sangat banyak jumlahnya. Sejak zaman dahulu bahkan hingga zaman sekarang sangat banyak. Tidak terhitung jumlahnya. Dari yang terekspos di media masa sampai yang hampir tak sampai ke telinga publik.

Belum lama ini, sesuai informasi berbagai media, dapat kita saksikan di berbagai peristiwa seperti yang terjadi terhadap wanita bernama Manohara. Atau, wanita yang bernama Rani yang disebut sebagai wanita yang punya hubungan asmara dengan Ketua KPK non aktif Antasari Azhar. Kedua berita highlight ini saya sebutkan semata-mata hanya untuk membuktikan bahwa bahasan kita tentang permasalahan yang berkaitan dengan pria dan wanita bukanlah hal yang tidak real, fiktif atau terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Terus terang, saya tidak tertarik membahas kasus-kasus tadi lebih jauh, karena hal semacam itu bukan hal baru bagi Kitab Suci. Di Pengkhotbah disebutkan bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari. Dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan yang digembar-gemborkan sedang terjadi sesungguhnya pernah terjadi di masa yang lampau. Penganiayaan, perzinahan, pembunuhan, dan lain sebagainya bukan hal yang baru di dunia ini. Mengapa? Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa.

Sejak kejatuhan Adam, para pria telah mengalami fallen mind, fallen thought, atau fallen sight. Artinya, mereka telah mengalami pergeseran, penyimpangan atau perubahan pikiran atau pandangan terhadap dunia di sekelilingnya atau di sekitarnya termasuk terhadap wanita. Sehingga, bukannya melihat wanita sebagai penolong atau makhluk yang lebih lemah tetapi berpotensi menganggapnya sebagai objek seksual tempat di mana mereka dapat melampiaskan hawa nafsunya.

Oleh sebab itu, Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus menjadi teladan dalam segala hal termasuk tentang bagaimana memandang, bersikap, berkomunikasi, atau berinteraksi dengan wanita.

Yesus memberdayakan wanita bukan memperdaya
Di kitab Injil jelas tercatat semua aktifitas Yesus yaitu mengajar, berkhotbah, memberitakan firman dan menyembuhkan orang sakit. Beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain ada bersama-sama dengan Dia dan kedua belas murid-Nya. Perempuan-perempuan tersebut melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka." (Luk 8:1-3).

Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yaitu Maria Magdalena. Ia menyertai Yesus dan para rasul. Ia juga yang berdiri di kaki salib pada saat penyaliban (bdk Mrk 15:40, Mat 27:56, dan Yoh 19:25) dan juga menjadi saksi pada pemakaman Kristus, dan merupakan orang pertama yang mendapati makam kosong dan yang melihat Kristus yang Bangkit (bdk Yoh 20:1-18).

Yesus membawa perempuan berdosa kepada pertobatan bukan ke tempat yang lain
Tujuan atau objektif Yesus semata-mata hanyalah pertobatan bukan yang lain. Tampak melalui kisah tentang seorang perempuan berdosa yang masuk ke rumah Simon orang Farisi. Perempuan itu menangis dan air matanya membasahi kaki Yesus. Ia mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi serta mengeringkannya dengan rambutnya. Perempuan itu adalah orang tersingkir karena dosa yang amat serius seperti zinah atau hubungan di luar pernikahan. Pada akhir kisah tersebut, Yesus mengampuni-nya.

Perempuan yang lain yaitu Perempuan Samaria yang akhirnya bertobat setelah berbincang-bincang dengan Yesus dan dinyatakan kesalahannya oleh Dia.

Hal lain tentang Yesus terhadap wanita adalah: Ia tidak melihat wanita secara fisik tetapi melihat hatinya. Ketika diperhadapkan pada perempuan yang tertangkap basah berbuat dosa, yang pada saat itu sangat mungkin berpenampilan tidak wajar atau berantakan, tidak dilihat-Nya. Sebaliknya, Ia menunduk sambil menulis di tanah.

Yesus pernah berkata kepada orang-orang Saduki bahwa di sorga orang-orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat.

Jika Anda mungkin pernah bertanya: mengapa Yesus tidak kawin? Maka jawabnya adalah: karena Ia berasal dari sorga.