Jumat, 08 Mei 2009

SUKACITA SEORANG GEMBALA

Senyum Pendeta Rudi tidak habis-habisnya malam itu. Berbagai respons yang diterimanya sesudah KKR yang baru saja berlangsung membuat dirinya semakin takjub akan karya Tuhan. “Ini bukan kerja manusia”, gumannya. Bayangkan saja, kehadiran yang mereka doakan beberapa minggu itu adalah 500 orang. Itupun adalah jumlah yang sangat besar, untuk ukuran iman mereka dan tempat yang tersedia. Tetapi Tuhan menjawab lebih. Tidak kurang dari 1000 orang memadati auditorium olah raga yang mereka sewa. Semuanya sesak. Banyak jiwa mengambil keputusan untuk bertobat. Bahkan anggota jemaatnya yang hanya 100 orang seperti tertelan dalam lautan manusia. Di beberapa sudut, gembala Rudi memerhatikan salah seorang pemimpinnya begitu sibuk melayani. Ibu-ibu di sudut lainnya tidak kalah repot untuk mengurusi kartu-kartu respons bersama para ushers. Sementara para singer terus menerus melantunkan puji-pujian seperti tanpa kenal lelah.

Di sudut belakang, terlihat beberapa orang tua meneteskan air mata sambil berpelukan. Merekalah yang melihat perjalanan gereja itu untuk waktu yang cukup lama. Pada malam itu, rasanya berbeda dari malam, minggu, bulan dan tahun-tahun sebelumnya. Apakah yang terjadi? Mungkinkah Tuhan mengulangi lagi suasana pentakosta seperti 2000 tahun yang silam, batin beberapa pengajar senior dan tua-tua jemaat. Atau kita telah membangun sebuah dasar yang benar bagi gereja kita? Atau, ini hanyakah kejadian sesaat?

Benar saja, beberapa tahun setelah KKR yang fenomenal itu, ternyata jumlah jemaat yang setia dalam gereja bukannya bertambah, malah semakin menurun, sampai hanya puluhan jiwa saja. Selebihnya, kalaulah ada acara khusus, kehadiran dapat bertambah menjadi sekitar 100 orang. Mengapa hal ini terjadi? Dari desas desus, ternyata tidak jauh dari sana ada sebuah gereja baru dengan bangunan paling mutakhir baru saja selesai. Sebagai gambaran umum, sound system saja berharga tidak kurang dari 2 milyar rupiah, belum lagi pendingin udara dan akustik yang hampir mendekati sempurna. Selain itu pamphlet dan brosur tentang pembicara yang cukup dikenal di gereja baru tersebut terpampang hampir di sudut jalan yang strategis setiap minggunya. Perlahan-lahan, orang-orang mulai melirik gereja yang baru tersebut.

Lain lagi pengalaman Pak Liem. Seorang gembala muda, yang baru merintis sebuah gereja di sebuah kota kecil di Jawa. Sebelumnya, gereja itu digembalakan oleh seorang pelayan lokal yang sudah berumur. Jemaatnya seperti hidup segan mati tak mau. Kehadiran setiap minggu hanya bilangan jari. Tetapi, setelah Pak Liem memberikan semacam training yang diperolehnya dalam sebuah seminar pertumbuhan: “Lima Langkah Menghidupkan jemaat yang mati suri” keadaan berubah drastis. Orang-orang lebih semangat, kehidupan doa semakin berapi-api. Banyak mujizat terjadi, sehingga kabar tentang jemaat ini tersebar sampai ke ibu kota propinsi. Setiap minggu, kehadiran membludak. Bahkan tamu dari luar kota lebih banyak dari jemaat lokal. Karena kota itu adalah tempat wisata, tidak jarang, orang-orang menghabiskan akhir minggunya di sana, untuk selanjutnya ikut ibadah di gereja pak Liem.

Orang-orang mulai bertanya-tanya, kiat apa yang dilakukan gereja tersebut sehingga berubah dan bertumbuh demikian drastis? Mereka mulai mendatangi dan belajar dari gereja tersebut. Gembala sidang mulai sering dicari-cari orang. Bahkan sering diundang untuk berbicara di berbagai seminar Pertumbuhan Gereja.

Sesudah beberapa waktu berselang, Pak Liem telah ‘bertumbuh’ menjadi begitu dikenal di kalangan MLM, sebagai pembicara motivator dan konselor. Beliau sekarang telah memiliki beberapa bidang usaha jasa organiser dan training kepemimpinan. Jadwalnya sangat padat. Tapi bagaimana dengan gereja yang telah dilayaninya beberapa tahun yang silam di Jawa? “Ceritanya panjang” desah pak Liem. Sesudah terdiam beberapa saat dan mengambil nafas dalam-dalam, ia mulai bercerita: “Panggilan Tuhan…Dia meminta saya untuk terlibat di dunia sekuler..” Selanjutnya dia menceritakan panjang lebar berbagai masalah dalam gerejanya yang tidak selesai-selesai. Sementara, kini gereja itu sendiri hampir tutup, seiring dengan hilangnya keberadaan (atau kharisma?) pendeta Liem dari sana.

Banyak pertanyaan yang dapat diajukan dari dua contoh gereja yang pernah semangat ini. Tetapi intinya adalah, lingkungan sangat memengaruhi pertumbuhan (contoh 1) dan ada korelasi yang sangat tajam dan kuat antara kepemimpinan dalam gereja dengan pertumbuhan gereja itu sendiri (contoh 2). Dengan sebuah hipotesa awal dari dua kisah di atas adalah: pertumbuhan suatu ketika agaknya berbeda dengan pertumbuhan yang terus menerus atau berkelanjutan. Dapat saja terjadi sebuah gereja yang pernah bertumbuh, menjadi tidak lagi, bahkan semakin menurun seiring berlalunya waktu. Dengan kata lain, gereja tersebut tidak bertumbuh secara terus menerus, atau berkelanjutan.

Kamis, 07 Mei 2009

YESUS DAN WANITA (Part 2)

Bacaan: Yohanes 8:7

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Melalui peristiwa seorang perempuan yang berzinah, Yesus mengajarkan banyak hal kepada orang banyak teristimewa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Dibanding tiga golongan lain yaitu Saduki, Esenes, dan Zelot, orang-orang Farisi dan ahli Taurat tampaknya paling sering menguji untuk dapat menemukan kesalahan Yesus sehingga punya alasan untuk menghukum atau mempersalahkan Dia. Bahkan mereka sangat ingin membunuh-Nya.

Tetapi, bukannya mendapat kesalahan Yesus, mereka malah mendapatkan pelajaran-pelajaran yang mengguncang paradigma mereka. Terlepas dari menerimanya atau tidak, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan menghasilkan jawaban atau pernyataan yang tepat 100%. Benar, membungkam dan tidak terbantahkan.

Mari perhatikan apakah pelajaran yang sedang Ia sampaikan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada saat itu:
1. Jangan menghakimi
Penghakiman adalah milik atau hak Tuhan bukan manusia. Ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat menyatakan kesalahan sesamanya. Bedanya dengan menghakimi, menyatakan kesalahan adalah mengarahkan orang lain kepada pertobatan atau perubahan yang lebih baik secara rohani.

2. Jangan self righteous
Yesus mengajarkan tentang introspeksi, kesadaran penuh terhadap keadaan atau keberadaan diri yang berdosa. Orang-orang Kristen sesungguhnya adalah orang-orang yang berdosa yang saling membantu, menolong, membangun atau menguatkan satu sama lain. Bukan menyalahkan atau mempersalahkan apalagi menghakimi.

3. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri
Dengan meminta orang yang tidak berdosa yang pertama kali melemparkan batu, berarti Yesus sedang mengajarkan salah satu intisari Kitab Suci yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

4. Yesus berorientasi kepada solusi yaitu pertobatan

5. Yesus mengajarkan tentang kesempatan kedua dan pengampunan

Seperti yang disebutkan di kitab-kitab Injil, Yesus begitu berbeda dibanding pengajar-pengajar Israel. Ia tidak mencontohi, mengutip apalagi mengimitasi para imam, orang Farisi atau ahli Taurat. Sebaliknya, Ia berkata-kata dengan penuh kuasa dan otoritas. Ia menyebut kata-kata-Nya sebagai “Firman-Ku”. Menyebut Allah dengan “Bapa”.

Mengenai perempuan yang berbuat dosa tersebut, ia adalah Maria Magdalena*). Ia juga yang membasuh kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Ia pula yang meminyaki Yesus di Betania. Dan sangat mungkin semua itu ia lakukan sebagai ungkapan perasaan yang berhutang kepada Yesus karena ia pernah hampir dihukum mati. Waktu itu, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan orang banyak siap merajamnya dengan batu. Tentu saja perempuan itu merasa ketakutan. Pastilah ia berpikir: tamatlah riwayatku. Bayangan-bayangan yang mengerikan sudah ada dibenaknya. Batu. Darah. Sakit. Perih dan Mati.

Tidak heran ia menjadi wanita yang banyak berbuat kasih karena ia merasa sangat beruntung. Lebih dari selamat terhadap rajaman batu, ia selamat secara rohani. Perempuan yang berdosa itu telah bertobat dan mendapat pengampunan dosa.



*)Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Maria_Magdalena

Selasa, 05 Mei 2009

YESUS DAN WANITA

Bacaan: Yohanes 4:4-28

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
…Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?

Bukan satu atau dua kasus saja yang terjadi di dunia mengenai pria dan wanita. Sangat banyak jumlahnya. Sejak zaman dahulu bahkan hingga zaman sekarang sangat banyak. Tidak terhitung jumlahnya. Dari yang terekspos di media masa sampai yang hampir tak sampai ke telinga publik.

Belum lama ini, sesuai informasi berbagai media, dapat kita saksikan di berbagai peristiwa seperti yang terjadi terhadap wanita bernama Manohara. Atau, wanita yang bernama Rani yang disebut sebagai wanita yang punya hubungan asmara dengan Ketua KPK non aktif Antasari Azhar. Kedua berita highlight ini saya sebutkan semata-mata hanya untuk membuktikan bahwa bahasan kita tentang permasalahan yang berkaitan dengan pria dan wanita bukanlah hal yang tidak real, fiktif atau terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Terus terang, saya tidak tertarik membahas kasus-kasus tadi lebih jauh, karena hal semacam itu bukan hal baru bagi Kitab Suci. Di Pengkhotbah disebutkan bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari. Dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan yang digembar-gemborkan sedang terjadi sesungguhnya pernah terjadi di masa yang lampau. Penganiayaan, perzinahan, pembunuhan, dan lain sebagainya bukan hal yang baru di dunia ini. Mengapa? Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa.

Sejak kejatuhan Adam, para pria telah mengalami fallen mind, fallen thought, atau fallen sight. Artinya, mereka telah mengalami pergeseran, penyimpangan atau perubahan pikiran atau pandangan terhadap dunia di sekelilingnya atau di sekitarnya termasuk terhadap wanita. Sehingga, bukannya melihat wanita sebagai penolong atau makhluk yang lebih lemah tetapi berpotensi menganggapnya sebagai objek seksual tempat di mana mereka dapat melampiaskan hawa nafsunya.

Oleh sebab itu, Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus menjadi teladan dalam segala hal termasuk tentang bagaimana memandang, bersikap, berkomunikasi, atau berinteraksi dengan wanita.

Yesus memberdayakan wanita bukan memperdaya
Di kitab Injil jelas tercatat semua aktifitas Yesus yaitu mengajar, berkhotbah, memberitakan firman dan menyembuhkan orang sakit. Beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain ada bersama-sama dengan Dia dan kedua belas murid-Nya. Perempuan-perempuan tersebut melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka." (Luk 8:1-3).

Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yaitu Maria Magdalena. Ia menyertai Yesus dan para rasul. Ia juga yang berdiri di kaki salib pada saat penyaliban (bdk Mrk 15:40, Mat 27:56, dan Yoh 19:25) dan juga menjadi saksi pada pemakaman Kristus, dan merupakan orang pertama yang mendapati makam kosong dan yang melihat Kristus yang Bangkit (bdk Yoh 20:1-18).

Yesus membawa perempuan berdosa kepada pertobatan bukan ke tempat yang lain
Tujuan atau objektif Yesus semata-mata hanyalah pertobatan bukan yang lain. Tampak melalui kisah tentang seorang perempuan berdosa yang masuk ke rumah Simon orang Farisi. Perempuan itu menangis dan air matanya membasahi kaki Yesus. Ia mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi serta mengeringkannya dengan rambutnya. Perempuan itu adalah orang tersingkir karena dosa yang amat serius seperti zinah atau hubungan di luar pernikahan. Pada akhir kisah tersebut, Yesus mengampuni-nya.

Perempuan yang lain yaitu Perempuan Samaria yang akhirnya bertobat setelah berbincang-bincang dengan Yesus dan dinyatakan kesalahannya oleh Dia.

Hal lain tentang Yesus terhadap wanita adalah: Ia tidak melihat wanita secara fisik tetapi melihat hatinya. Ketika diperhadapkan pada perempuan yang tertangkap basah berbuat dosa, yang pada saat itu sangat mungkin berpenampilan tidak wajar atau berantakan, tidak dilihat-Nya. Sebaliknya, Ia menunduk sambil menulis di tanah.

Yesus pernah berkata kepada orang-orang Saduki bahwa di sorga orang-orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat.

Jika Anda mungkin pernah bertanya: mengapa Yesus tidak kawin? Maka jawabnya adalah: karena Ia berasal dari sorga.


Senin, 04 Mei 2009

Kepada Pembaca dan Partner NMQT

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih,

Melalui surat ini, kami ingin menyapa Anda untuk berterima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan Anda selama ini kepada NMQT - baik secara moral, spiritual maupun finansial. Berkat Anda semua, maka NMQT dapat tetap terus setia melayani sejak satu tahun yang lalu hingga saat ini.

Dan kami bertekad untuk tetap terus setia menyampaikan firman-Nya karena kami menyadari betapa NMQT dapat bermanfaat bagi kerohanian dan juga menyemangati banyak orang. Sebagaimana tanggapan-tanggapan positif yang telah kami terima dari dalam maupun dari luar negeri. Baik secara lisan maupun secara tertulis.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih
, kami menyakini bahwa firman Tuhan-lah yang telah menggugah Anda melalui NMQT bukan hal-hal lain yang ada di sana. Karena kami sendiri berupaya sedapat mungkin menyampaikan-Nya sesederhana dan sejelas mungkin. Sehingga, pesan firman Tuhan dapat disampaikan kepada siapa saja dengan sebenar-benarnya dan semurni-murninya.

Karena kami pun percaya bahwa firman Tuhan adalah yang utama, vital dan mutlak demi perubahan, pertobatan dan pertumbuhan kerohanian Kristen. Sedangkan yang lain selain itu hanyalah faktor pendukung atau faktor pelengkap saja.

Atas dasar tersebut, NMQT mempunyai visi dan komitmen jangka panjang yaitu untuk menyampaikan firman yang sebenar-benarnya, semurni-murninya, sejelas-jelasnya dan seluas-luasnya bagi kemuliaan Tuhan.

Oleh karena itu, melalui surat ini, kami ingin mengajak Anda untuk turut berpartisipasi mendukung pelayanan NMQT.

Ada 3 (tiga) cara yang dapat Anda lakukan untuk mendukung pelayanan ini. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengirimkan tanggapan Anda terhadap NMQT ke letters.berean@gmail.com tentang apa yang Anda pelajari, yang membantu, menyemangati atau yang mengubahkan Anda secara pribadi.

2. Meng-informasi-kan kepada teman-teman, sahabat atau keluarga Anda tentang NMQT atau tentang pesan-pesan atau pelajaran-pelajaran nya yang ber-manfaat bagi Anda.

3. Men-support NMQT secara finansial melalui nomor rekening:
BCA 288 300 5031
a/ n Yayasan Gema Kristus Damai Indonesia.

Sebagai informasi bagi Anda, buku NMQT kini sedang dalam proses pengerjaan. Kami berharap dapat menyelesaikannya dalam waktu dekat dan menyusulnya dengan edisi-edisi selanjutnya kemudian secara kontinu di masa yang akan datang.

Pembaca dan Partner NMQT yang terkasih, percayalah, bahwa kami tidak bertujuan untuk meraup keuntungan materi sebesar-besarnya melalui pelayanan ini melainkan perluasan dan pelebaran jangkauan yang lebih jauh dan besar sehingga dapat menyampaikan pesan firman-Nya. Dan itu semua hanya demi kemuliaan-Nya semata-mata.

Demikian surat ini, atas perhatian dan kerjasamanya (sekali lagi) kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Dari Saudara dan Partner Anda di dalam Kristus,



Naek






KEBENARAN TENTANG BAIT SUCI (Part 2)

Bacaan: Yohanes 2:19-20

Jawab Yesus kepada mereka: ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya:”Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.


Sebelum membahas tentang Bait Suci yang kotor dan berantakan di zaman Yesus, mari pelajari secara ringkas tentang Bait Suci di Yerusalem tersebut.

Di sana, di Yerusalem, ada dua Bait Suci yang berdiri berturut-turut yakni sebagai berikut:
• Bait Suci Salomo yang dibangun sekitar abad ke-10 SM.
• Bait Suci Kedua dibangun setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM. (selesai pada 12 Maret 515 SM.).

Kemudian dilanjutkan dengan perluasan dan renovasi seluruh Bukit Bait Suci oleh Raja Herodes sekitar tahun 19 SM. Tetapi, sejak dihancurkannya Bait Suci tersebut pada tahun 70 M oleh pasukan-pasukan Romawi, baik agama Yahudi maupun agama Kristen terbagi menjadi 2 (dua) golongan besar yaitu mereka yang ingin membangun kembali Bait Suci seperti sebelumnya dan yang kedua adalah mereka yang tidak menuntut pembangunannya kembali, dengan alasan atau pengertian bahwa gedung-gedung gereja sekarang adalah Bait Suci. Demikian pula sejumlah besar orang Kristen menyatakan bahwa Bait Suci adalah orangnya bukan gedungnya (band. 1 Kor 3:16).

Tanpa berargumentasi lebih jauh tentang pendapat mana yang benar atau yang mana yang salah, saya ingin mengajak Anda memperhatikan orang-orang yang mempunyai Bait Suci tetapi berhati serakah, licik dan munafik. Mereka adalah orang-orang Yahudi termasuk pengurus Bait Suci dan para imam di Yerusalem pada zaman Yesus. Anda mungkin bertanya, apakah salah mereka dan salahkah mereka yang ber-jual-beli di sana? Bukankah yang mereka perjual belikan adalah demi kepentingan persembahan? Mulai dari penukaran uang sampai menjual aneka korban seperti: merpati, domba, dan lain-lain.

Tetapi isunya tampaknya tidak sesederhana itu karena lebih dari berjualan, ternyata mereka menaikkan harganya berlipat ganda dan mewajibkan pendatang-pendatang untuk membelinya di sana. Sehingga, bukan soal jual beli-nya tetapi pemerasan yang mereka lakukan sangat amat menekan. Akibatnya, banyak orang-orang yang miskin dan yang tidak mampu mengalami kesukaran besar menjalankan ibadah mereka. Selain itu, jual beli mereka pun bukan lagi di area bebas berjualan tetapi tampaknya sudah memasuki ke dalam-dalamnya dari Bait Suci tersebut.

Tidak heran mengapa Yesus marah dan membersihkan Bait Suci itu. Ia tidak bernegosiasi atau mengadakan dialog dengan pengurus atau para imam di Bait Suci. Karena kekudusan Bait Allah adalah mutlak. Dan sangat mengejutkan karena setelah tindakan tersebut, Yesus menyatakan pernyataan penting yang dicatat oleh penulis-penulis Injil bahwa Bait Allah adalah tubuh-Nya yang akan bangkit pada hari ketiga. Kemudian dikonfirmasi lagi oleh rasul Paulus di surat-nya yang ditujukan kepada Jemaat Korintus. Tubuhmu adalah Bait Allah atau Bait Roh Kudus, demikian ia menyatakannya.

Jika harus membangun kembali Bait Suci yang sama di Yerusalem, maka orang-orang Kristen akan mengalami banyak kendala. Pertama, mereka setidaknya mempunyai semacam kewajiban baru mengunjungi Bait Suci di Yerusalem. Di tambah lagi, jika membawa korban persembahan ke kota itu adalah kewajiban, maka banyak orang Kristen yang tidak dapat memenuhinya. Demikian pula orang-orang Kristen di abad pertama, karena penganiayaan, mereka terpaksa tersebar ke berbagai daerah atau wilayah dan mengadakan pertemuan ibadah mereka di rumah-rumah. Bait Allah yang awalnya tempat berkumpul, sepertinya bukan milik mereka lagi tetapi orang Yahudi yang beragama Yahudi. Walau sebenarnya ada juga agama Yahudi saat ini yang tidak menuntut pemulihan Bait Suci. Mereka disebut sebagai Yudaisme Reformasi. Dan sebaliknya ada juga orang-orang Kristen yang masih menginginkan pembangunan tersebut seperti dari kaum dispensasionalis dan juga restorasionis Mormon (OSZA).

Sebagai orang Kristen, tidak ada salahnya menginginkan Bait Suci dibangun kembali dengan megah dan indah seperti dulu. Tetapi yang paling praktis dan yang tampaknya paling relevan dilakukan saat ini oleh orang Kristen adalah menjaga Bait Suci atau Bait Roh Kudusnya yaitu diri sendiri seperti yang dinyatakan oleh rasul Paulus. Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara menjaga hati. Menjaganya dari dosa seperti pikiran jahat atau pikiran kotor, negatifisme, iri hati, dengki, kepahitan, dendam, amarah, egoisme, dan lain-lain (band. Mrk 7:19-20). Karena Tuhan sangat serius dengan kebersihannya. Bukan saja di PB oleh Yesus tetapi juga di PL, Tuhan membersihkannya dari imam Eli yang lemah dan kompromi bersama dengan kedua anaknya yang jahat yaitu Hofni dan Pinehas.


Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Bait_Allah; Alkitab TB - LAI; PASH Yohanes - DR. William Barclay - BPK Gunung Mulia.

Minggu, 03 Mei 2009

Bedah Buku SUSTAINABLE CHURCH GROWTH

DUA SANHENDRIN


Bacaan: Yohanes 3:4-9

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.…Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"…Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"

Dari empat injil yang ada, hanya Yohanes yang mencatat tentang Nikodemus. Sepertinya melalui kisah pria tersebut ada hal penting atau khusus yang akan disampaikan rasul Yohanes.

Ia mencatat tentang kedatangannya menemui Yesus di malam hari. Mungkin waktu larut malam ketika tidak ada orang yang melihat atau memperhatikannya.

Kunjungannya seorang diri tampaknya bukan sebagai intelijen agama atau Sanhendrin atau orang Farisi. Tetapi lebih persis seperti pribadi yang bergejolak hatinya karena penasaran dan ingin tahu lebih jauh. Ia cukup menghormati Yesus. Tampak dari bagaimana ia menyebut-Nya dengan kata “Rabi”.

Pertanyaannya, apakah pertemuan Nikodemus dan Yohanes berlangsung empat mata atau dihadiri oleh murid-murid Yesus juga? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Jika bukan empat mata berarti Yohanes hadir di pertemuan Yesus dan Nikodemus. Jika tidak, berarti bahwa dari Nikodemus atau Yesus saja lah, Yohanes mendapatkan informasi-informasi tersebut. Dan mungkin pula bahwa kisah itu diterima Yohanes setelah mantan Farisi yang penasaran itu bertobat dan menjadi murid-Nya.

Yohanes mencatat pertanyaan-pertanyaan Nikodemus. Kebingungan-kebi ngungannya, ketidaktahuan dan ketidakmengertiannya terhadap jawaban atau pernyataan-pernyataan Yesus (band. Yoh 3:1-21). Ia pun mencatat tahap demi tahap perubahan hati Nikodemus. Dari orang yang diam-diam datang menemui Yesus hingga membela Dia di hadapan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi (band. Yoh 7:47-51). Selanjutnya, ia pun datang saat mayat Yesus diturunkan dari salib dan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu sebanyak lima puluh kati beratnya.

Lalu, mengapa Yohanes mencatat tentang dia? Mungkin, Yohanes ingin menunjukkan bahwa kehadiran Yesus begitu menggugah. Hingga, bukan saja orang awam, tetapi juga para imam, orang Farisi dan Sanhendrin berguncang hati dibuat-Nya. Namun demikian, catatan Yohanes tentang Nikodemus juga menunjukkan fakta baru bahwa di antara 6000 Farisi dan 70 Sanhendrin, hanya Nikodemus lah yang paling menonjol. Karena ia datang, menemuinya untuk berdiskusi empat mata, membelanya bahkan menaruh simpati terhadap-Nya. Sedang yang lain? Sepertinya mempunyai karakter dan pikiran yang mirip atau hampir sama satu dengan yang lain.

Anda mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak mengangkat pria hebat itu menjadi salah seorang calon rasulnya? Tetapi justru malah menjawab dengan statement yang tampaknya tidak mudah dimengerti oleh Nikodemus? “Engkau harus dilahirkan kembali?”, kata-Nya. Secara sederhana, dapat dimengerti bahwa orang-orang Farisi seperti Nikodemus hidup dan terkondisi dengan legalisme. Ia dibesarkan dengan aturan-aturan dan perincian-perincian yang kaku. Mereka menerbitkannya, mensahkannya dan menerapkannya sehebat-hebatnya.

Bagi orang-orang Farisi termasuk Nikodemus, gambaran Mesias tentunya adalah pribadi yang legalis seperti mereka. Bahkan mungkin lebih atau jauh lebih legalis dari mereka. Bukan seperti Yesus. Sehingga, jika ia mau mengikut Yesus itu berarti bahwa ia harus meninggalkan legalismenya dan mulai dari titik nol atau dapat di-istilahkan seperti lahir kembali. Artinya, ia mulai dengan Kristus, bertumbuh dan dewasa di dalam Dia. Bukan legalisme-legalisme yang dibuat manusia termasuk mereka sendiri.

Tetapi, mengapa dan bagaimana kisah hidup Nikodemus selanjutnya tidak tertulis di Alkitab. Entahkah dia menjadi pengikut Kristus atau tetap menjadi orang Farisi dan Sanhendrin, tidak disebutkan di sana. Berbeda halnya dengan seorang Sanhendrin yang lain yang bernama Paulus, ia mengalami lahir baru, memulai dari titik nol, menganggap ke-Farisian, ke-Sanhendrin-an, dan legalisme-legalismenya sebagai sampah dan kerugian supaya ia memperoleh Kristus (band. Filipi 3:8).

Jadi, jika seseorang ingin menjadi murid-Nya, itu berarti memulai dari Dia, berjalan bersama dengan-Nya dan berakhir di Sorga juga bersama dengan-Nya.

Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba untuk senantiasa berjalan bersama dengan-Mu dan berakhir pula di Sorga bersama dengan Engkau. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.