Jumat, 17 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:32-33
10:32 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.
10:33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.
Paulus menjadi teladan di dalam hubungan sosial atau bermasyarakat. Ia menyenangkan semua orang tanpa harus terlibat atau ikut-ikutan melakukan dosa. Selama tidak terlibat atau ternodai dengan dosa apa salahnya menyenangkan orang lain? Atau sebaliknya, mengapa harus menyakiti atau mengecewakan orang lain jika kita dapat menyenangkan mereka tanpa dosa? Mungkin seperti itulah kira-kira pandangan Paulus.
Anda pun mungkin bertanya bagaimana Paulus melakukannya? Jawabannya adalah kasih. Kasih semestinya menyenangkan tanpa harus dicampur atau dibumbui dengan dosa. Keramahan, sopan-santun, perhatian, kepedulian, memberi, menolong, memikirkan kepentingan orang lain merupakan hal-hal yang dapat menyenangkan orang lain. Di Galatia 5:22-23 Paulus menyebutkan tentang buah-buah Roh sebagai hal yang tidak dapat ditentang oleh hukum apapun.
Hal ini semestinya dapat dijadikan sebagai prinsip dalam penginjilan. Pergaulan atau persahabatan dengan orang-orang berdosa yang dijalin dengan benar dan penuh kasih yang berasal dari Allah akan menolong orang lain untuk memperoleh keselamatan. Bukankah Yesus telah melakukan hal seperti itu terhadap Zakheus, Matius Si Pemungut Cukai, Kepala Perwira Roma, dan lain-lain?
Orang Kristen yang terlalu eksklusif atau kaku di dalam pergaulan atau persahabatannya akan kehilangan banyak kesempatan untuk menolong orang lain dalam memperoleh keselamatan. Sebaliknya orang Kristen yang aktif atau kreatif di dalam menyenangkan lingkungan sekitarnya secara tepat dan benar akan menghasilkan suatu penginjilan yang sangat efektif.
Meskipun demikian, pergaulan atau persahabatan dengan Allah dan jemaat-Nya tetap lebih penting atau lebih utama di atas orang lain di luar jemaat.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa bergaul dan bersahabat dengan orang lain secara benar dan penuh kasih yang daripada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Jumat, 17 Oktober 2008
Minggu, 12 Oktober 2008
CONTOH DAN PERINGATAN
Kamis, 16 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:7-11
10:7 dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: "Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria." (TEV Bible:… turned into an orgy of drinking and sex.”).
10:8 Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.
10:9 Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.
10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut
10:11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba
Paulus mengatakan bahwa apa yang terjadi pada nenek moyang bangsa Israel di padang gurun merupakan contoh dan peringatan bagi orang-orang Kristen di zamannya dan zaman sekarang.
Dapat disimpulkan seandainya nenek moyang bangsa Israel di padang gurun tidak tewas, tidak mati dipagut ular, tidak binasa oleh malaikat maut, tetapi justru malah mendapat berkat yang berlimpah-limpah dari Allah, maka manusia tidak dapat mengenal pribadi-Nya. Selain itu, manusia pun tidak akan memandang dosa sebagai sesuatu yang serius yang harus dihindari, ditinggalkan atau dijauhkan. Sebaliknya manusia akan melakukan dosa sesuka hatinya, salah mengerti tentang pribadi Allah, sehingga tidak mengenal Allah.
Pribadi Allah dapat dikenal melalui respon, sikap atau tindakan-Nya di masa lalu. Ia adalah pribadi yang suci dan kudus, yang tegas terhadap dosa. Allah menjanjikan yang terbaik bagi manusia. Ia menyediakan, menuntun dan memberi hadiah bagi mereka yang percaya, yang patuh, tekun dan setia kepada-Nya.
Tidak semua orang dari antara bangsa Israel yang mati di padang gurun. Ada yang sampai tiba di tanah perjanjian yaitu Yosua dan Kaleb. Mereka mendapat tuntunan, perlindungan, penyediaan, dan hadiah Allah berupa tiang awan, tiang api, manna, kemenangan terhadap lawan, dan tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya.
Jadi jika seorang Kristen percaya, patuh, tekun dan setia kepada Allah dan firman-Nya, seperti Yosua dan Kaleb, maka ia akan sampai di tanah yang dijanjikan Allah yaitu Sorga. Tetapi jika tidak, mereka akan binasa seperti yang digambarkan dari sejumlah besar nenek moyang Israel di padang gurun.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa percaya, patuh, tekun dan setia kepada Engkau. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:7-11
10:7 dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: "Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria." (TEV Bible:… turned into an orgy of drinking and sex.”).
10:8 Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.
10:9 Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.
10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut
10:11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba
Paulus mengatakan bahwa apa yang terjadi pada nenek moyang bangsa Israel di padang gurun merupakan contoh dan peringatan bagi orang-orang Kristen di zamannya dan zaman sekarang.
Dapat disimpulkan seandainya nenek moyang bangsa Israel di padang gurun tidak tewas, tidak mati dipagut ular, tidak binasa oleh malaikat maut, tetapi justru malah mendapat berkat yang berlimpah-limpah dari Allah, maka manusia tidak dapat mengenal pribadi-Nya. Selain itu, manusia pun tidak akan memandang dosa sebagai sesuatu yang serius yang harus dihindari, ditinggalkan atau dijauhkan. Sebaliknya manusia akan melakukan dosa sesuka hatinya, salah mengerti tentang pribadi Allah, sehingga tidak mengenal Allah.
Pribadi Allah dapat dikenal melalui respon, sikap atau tindakan-Nya di masa lalu. Ia adalah pribadi yang suci dan kudus, yang tegas terhadap dosa. Allah menjanjikan yang terbaik bagi manusia. Ia menyediakan, menuntun dan memberi hadiah bagi mereka yang percaya, yang patuh, tekun dan setia kepada-Nya.
Tidak semua orang dari antara bangsa Israel yang mati di padang gurun. Ada yang sampai tiba di tanah perjanjian yaitu Yosua dan Kaleb. Mereka mendapat tuntunan, perlindungan, penyediaan, dan hadiah Allah berupa tiang awan, tiang api, manna, kemenangan terhadap lawan, dan tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya.
Jadi jika seorang Kristen percaya, patuh, tekun dan setia kepada Allah dan firman-Nya, seperti Yosua dan Kaleb, maka ia akan sampai di tanah yang dijanjikan Allah yaitu Sorga. Tetapi jika tidak, mereka akan binasa seperti yang digambarkan dari sejumlah besar nenek moyang Israel di padang gurun.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa percaya, patuh, tekun dan setia kepada Engkau. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
JANGAN ANGGAP ENTENG
Rabu, 15 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:6
10:6 Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,
Paulus menggunakan kisah tentang nenek moyang Israel di padang gurun dari Kitab Perjanjian Lama untuk menemukan sikap dan respon Allah terhadap anggota Jemaat Korintus di zamannya. Sangat menarik! Karena dengan demikian semestinya setiap orang dapat mengetahui atau mengenal pribadi Allah meskipun Ia tidak terlihat secara jasmani atau fisik.
Alkitab menyebutkan 4 (empat) dosa bangsa Israel yang mengakibatkan kematian sejumlah besar bangsa tersebut. Pertama, yaitu penyembahan berhala. Kedua, percabulan. Ketiga, yaitu mencobai Tuhan. Dan keempat, yaitu bersungut-sungut (lih. I Kor 10:7-10).
Melalui perkataan Paulus ini, setiap orang Kristen pun dapat mengantisipasi atau menghindari diri dari perbuatan-perbuatan dosa yang dapat mengakibatkan kematian secara rohani seperti yang digambarkan oleh nenek moyang bangsa Israel di padang gurun. Mereka yang tewas di padang gurun tidak sampai ke tanah yang dijanjikan Allah. Artinya, bahwa orang-orang Kristen yang murtad, yang mati secara rohani pun dapat mengalami hal yang serupa, tidak sampai ke tempat yang dijanjikan Allah yaitu Sorga. Hal ini dikatakan Paulus tentu saja bukan untuk menakut-nakuti Jemaat tetapi untuk menjaga mereka agar tidak bermain-main dengan dosa, menganggap enteng atau remeh, atau pun menyalahgunakan kasih karunia Allah.
Jika seorang Kristen menggunakan kasih karunia Allah sebagai dasar atau alasan untuk berbuat dosa semaunya, dan tidak memandang dosa sebagai sesuatu yang serius yang harus diawasi atau dihindari, maka orang tersebut mungkin tidak pernah membaca dengan teliti dan mengerti isi atau pesan Alkitab yang sesungguhnya.
Kesimpulannya, keselamatan adalah kasih karunia, tetapi tidak berarti bahwa kita bisa ber-main-main dengan dosa, karena kita bisa mati secara rohani, dan akhirnya tidak sampai ke sorga. Bukan karena kasih Allah bersifat conditional atau berubah-ubah tetapi justru karena manusia-lah yang bersifat conditional atau berubah-ubah. Pilihan dan kondisi rohani seseorang dapat berubah bahkan menjadikannya tewas atau mati secara rohani.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menghargai kasih karunia Engkau dan mengantisipasi atau menghindari diri dari dosa . Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:6
10:6 Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,
Paulus menggunakan kisah tentang nenek moyang Israel di padang gurun dari Kitab Perjanjian Lama untuk menemukan sikap dan respon Allah terhadap anggota Jemaat Korintus di zamannya. Sangat menarik! Karena dengan demikian semestinya setiap orang dapat mengetahui atau mengenal pribadi Allah meskipun Ia tidak terlihat secara jasmani atau fisik.
Alkitab menyebutkan 4 (empat) dosa bangsa Israel yang mengakibatkan kematian sejumlah besar bangsa tersebut. Pertama, yaitu penyembahan berhala. Kedua, percabulan. Ketiga, yaitu mencobai Tuhan. Dan keempat, yaitu bersungut-sungut (lih. I Kor 10:7-10).
Melalui perkataan Paulus ini, setiap orang Kristen pun dapat mengantisipasi atau menghindari diri dari perbuatan-perbuatan dosa yang dapat mengakibatkan kematian secara rohani seperti yang digambarkan oleh nenek moyang bangsa Israel di padang gurun. Mereka yang tewas di padang gurun tidak sampai ke tanah yang dijanjikan Allah. Artinya, bahwa orang-orang Kristen yang murtad, yang mati secara rohani pun dapat mengalami hal yang serupa, tidak sampai ke tempat yang dijanjikan Allah yaitu Sorga. Hal ini dikatakan Paulus tentu saja bukan untuk menakut-nakuti Jemaat tetapi untuk menjaga mereka agar tidak bermain-main dengan dosa, menganggap enteng atau remeh, atau pun menyalahgunakan kasih karunia Allah.
Jika seorang Kristen menggunakan kasih karunia Allah sebagai dasar atau alasan untuk berbuat dosa semaunya, dan tidak memandang dosa sebagai sesuatu yang serius yang harus diawasi atau dihindari, maka orang tersebut mungkin tidak pernah membaca dengan teliti dan mengerti isi atau pesan Alkitab yang sesungguhnya.
Kesimpulannya, keselamatan adalah kasih karunia, tetapi tidak berarti bahwa kita bisa ber-main-main dengan dosa, karena kita bisa mati secara rohani, dan akhirnya tidak sampai ke sorga. Bukan karena kasih Allah bersifat conditional atau berubah-ubah tetapi justru karena manusia-lah yang bersifat conditional atau berubah-ubah. Pilihan dan kondisi rohani seseorang dapat berubah bahkan menjadikannya tewas atau mati secara rohani.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menghargai kasih karunia Engkau dan mengantisipasi atau menghindari diri dari dosa . Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
KEMULIAAN ALLAH ATAU HAK?
Selasa, 14 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:29-32
10:29 Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata:”Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?
10:30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?”
10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Melalui perkataan Paulus tersebut di atas, dapat ditemukan satu prinsip penting tentang bagaimana seorang Kristen menjalani hidup di tengah masyarakat. Yaitu bahwa kemuliaan Allah harus diutamakan lebih dari pada kebebasan pribadi. Artinya, setiap orang Kristen yang akan melakukan segala sesuatu harus mempertimbangkan apakah tindakan atau aktifitasnya adalah untuk memuliakan Allah. Atau, semata-mata didorong oleh keinginan untuk memperjuangkan hak atau kebebasan pribadi.
Jika karena memperjuangkan hak atau kebebasan pribadi seorang Kristen menjadi tidak memuliakan Allah, maka lebih baik jika orang tersebut membatalkan atau menghentikan tindakan atau aktifitasnya.
Lalu, apakah hal itu juga berarti bahwa seorang Kristen harus berdiam diri jika hak atau kebebasannya di-injak-injak orang? Di dalam kasus semacam ini tentunya terdapat sedikit perbedaan, namun tetap saja bahwa seorang Kristen harus melakukan tindakan atau aktifitasnya secara simpatik, terhormat dan tanpa menjadi berdosa atau berbuat dosa. Seperti yang pernah dilakukan oleh Martin Luther King saat memperjuangkan hak dan kebebasan bangsa kulit hitam.
Prinsip ini bukan saja berlaku bagi orang-orang yang mengadakan demonstrasi atau unjuk rasa secara anarkis dan tidak simpatik. Tetapi, berlaku pula bagi seorang pimpinan perusahaan yang menghentikan karyawannya tanpa solusi, perencaan atau persiapan yang cukup dan memadai. Atau dapat berlaku pula di dalam keluarga, pernikahan, negara, dan lain-lain, yaitu bahwa setiap orang Kristen harus memilih untuk memuliakan Allah di atas perjuangan hak atau kebebasan pribadi.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa memilih untuk memuliakan Engkau di atas perjuangan hak atau kebebasan pribadi. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:29-32
10:29 Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata:”Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?
10:30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?”
10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Melalui perkataan Paulus tersebut di atas, dapat ditemukan satu prinsip penting tentang bagaimana seorang Kristen menjalani hidup di tengah masyarakat. Yaitu bahwa kemuliaan Allah harus diutamakan lebih dari pada kebebasan pribadi. Artinya, setiap orang Kristen yang akan melakukan segala sesuatu harus mempertimbangkan apakah tindakan atau aktifitasnya adalah untuk memuliakan Allah. Atau, semata-mata didorong oleh keinginan untuk memperjuangkan hak atau kebebasan pribadi.
Jika karena memperjuangkan hak atau kebebasan pribadi seorang Kristen menjadi tidak memuliakan Allah, maka lebih baik jika orang tersebut membatalkan atau menghentikan tindakan atau aktifitasnya.
Lalu, apakah hal itu juga berarti bahwa seorang Kristen harus berdiam diri jika hak atau kebebasannya di-injak-injak orang? Di dalam kasus semacam ini tentunya terdapat sedikit perbedaan, namun tetap saja bahwa seorang Kristen harus melakukan tindakan atau aktifitasnya secara simpatik, terhormat dan tanpa menjadi berdosa atau berbuat dosa. Seperti yang pernah dilakukan oleh Martin Luther King saat memperjuangkan hak dan kebebasan bangsa kulit hitam.
Prinsip ini bukan saja berlaku bagi orang-orang yang mengadakan demonstrasi atau unjuk rasa secara anarkis dan tidak simpatik. Tetapi, berlaku pula bagi seorang pimpinan perusahaan yang menghentikan karyawannya tanpa solusi, perencaan atau persiapan yang cukup dan memadai. Atau dapat berlaku pula di dalam keluarga, pernikahan, negara, dan lain-lain, yaitu bahwa setiap orang Kristen harus memilih untuk memuliakan Allah di atas perjuangan hak atau kebebasan pribadi.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa memilih untuk memuliakan Engkau di atas perjuangan hak atau kebebasan pribadi. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
PERTIMBANGAN ROHANI
Senin, 13 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:25-28
10:25 Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.
10:26 Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.”
10:27 Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.
10:28 Tetapi kalau seorang berkata kepadamu:”Itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.
Menurut ayat 25, dapat ditemukan fakta bahwa daging persembahan berhala pun dijual di pasar daging . Mungkin daging itu akan dipersembahkan kepada berhala atau mungkin pula telah dipersembahkan dan dijual kembali di pasar daging. Dan sepertinya, kemungkinan kedua-lah yang sangat mendekati fakta yang sesungguhnya. Karena berhala memang tidak dapat melahap daging yang disuguhkan seperti manusia melahapnya sampai habis.
Paulus memposisikan keberatan hati nurani orang lain di atas kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Jika ada orang lain yang keberatan dengan daging persembahan berhala, Ia lebih baik tidak membeli atau memakannya. Meski mungkin harga daging persembahan berhala yang dijual jauh lebih murah daripada yang belum atau tidak dipersembahkan.
Hal ini adalah salah satu dari sekian banyak kasus yang dapat atau mungkin dialami oleh orang-orang Kristen di sepanjang zaman. Tetapi kasus ini mengandung prinsip yang serupa atau sama dengan banyak kasus-kasus yang lain. Prinsip tersebut adalah mempertimbangkan keberatan-keberatan hati nurani orang lain di atas kepentingan dan keuntungan diri sendiri.
Para penulis cerita kartun atau per-film-an dapat menangkap nilai-nilai ini. Terbukti melalui cerita atau kisah tentang kerelaan seseorang yang secara sengaja mengalah atau menjadi kalah demi kemenangan umum atau orang lain. Sebut saja film “Bumble Bee” yang diperankan oleh Richard Gere, “The Cars” kartun tentang mobil balap merah yang di akhir pertandingan tidak jadi menduduki peringkat yang pertama, dan lain-lain.
Dengan kata lain sikap atau tindakan yang mempertimbangkan keberatan-keberatan hati nurani orang lain adalah hal yang mulia. Di samping itu, Allah pun memang menghendaki demikian, yaitu agar umat-Nya mengasihi saudara-saudaranya seiman sehingga dengan cara seperti itu mereka dapat menjaga keutuhan dan kesatuan jemaat-Nya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa mempertimbangkan keberatan-keberatan hati nurani orang lain sehingga dengan demikian dapat menjaga keutuhan dan kesatuan jemaat Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:25-28
10:25 Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.
10:26 Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.”
10:27 Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.
10:28 Tetapi kalau seorang berkata kepadamu:”Itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.
Menurut ayat 25, dapat ditemukan fakta bahwa daging persembahan berhala pun dijual di pasar daging . Mungkin daging itu akan dipersembahkan kepada berhala atau mungkin pula telah dipersembahkan dan dijual kembali di pasar daging. Dan sepertinya, kemungkinan kedua-lah yang sangat mendekati fakta yang sesungguhnya. Karena berhala memang tidak dapat melahap daging yang disuguhkan seperti manusia melahapnya sampai habis.
Paulus memposisikan keberatan hati nurani orang lain di atas kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Jika ada orang lain yang keberatan dengan daging persembahan berhala, Ia lebih baik tidak membeli atau memakannya. Meski mungkin harga daging persembahan berhala yang dijual jauh lebih murah daripada yang belum atau tidak dipersembahkan.
Hal ini adalah salah satu dari sekian banyak kasus yang dapat atau mungkin dialami oleh orang-orang Kristen di sepanjang zaman. Tetapi kasus ini mengandung prinsip yang serupa atau sama dengan banyak kasus-kasus yang lain. Prinsip tersebut adalah mempertimbangkan keberatan-keberatan hati nurani orang lain di atas kepentingan dan keuntungan diri sendiri.
Para penulis cerita kartun atau per-film-an dapat menangkap nilai-nilai ini. Terbukti melalui cerita atau kisah tentang kerelaan seseorang yang secara sengaja mengalah atau menjadi kalah demi kemenangan umum atau orang lain. Sebut saja film “Bumble Bee” yang diperankan oleh Richard Gere, “The Cars” kartun tentang mobil balap merah yang di akhir pertandingan tidak jadi menduduki peringkat yang pertama, dan lain-lain.
Dengan kata lain sikap atau tindakan yang mempertimbangkan keberatan-keberatan hati nurani orang lain adalah hal yang mulia. Di samping itu, Allah pun memang menghendaki demikian, yaitu agar umat-Nya mengasihi saudara-saudaranya seiman sehingga dengan cara seperti itu mereka dapat menjaga keutuhan dan kesatuan jemaat-Nya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa mempertimbangkan keberatan-keberatan hati nurani orang lain sehingga dengan demikian dapat menjaga keutuhan dan kesatuan jemaat Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
KEUNTUNGAN ORANG LAIN
Minggu, 12 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:23-24
10:23 “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
10:24 Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.
Masih mengenai makan daging persembahan berhala, Paulus mengingatkan anggota jemaat Korintus agar tidak mencari keuntungan sendiri dengan cara makan daging tersebut. Jika karena makan daging persembahan berhala, ada orang lain yang dirugikan, maka sebaiknya aktifitas tersebut dibatalkan atau dihentikan.
Bagi Paulus makan daging persembahan berhala bukanlah dosa demikian juga jika tidak memakannya. Tetapi yang menjadi dosa adalah jika karena tindakan tersebut orang lain menjadi tersandung, atau lemah secara rohani.
Timbul pertanyaan, bagaimana dengan hak dan kebebasan seorang Kristen yang semestinya dapat memakan daging tersebut? Kekristenan bukan melulu mengenai hak dan kepentingan diri sendiri tetapi dalam hal ini mengenai kasih dan kekudusan.
Setiap orang Kristen semestinya mempertimbangkan apakah sikap, tindakan atau aktifitasnya merugikan orang lain baik secara jasmani maupun rohani. Lebih dari itu, Paulus bahkan mengharapkan agar tiap-tiap anggota jemaat Korintus mencari keuntungan orang lain bukan diri sendiri.
Dapatkah Anda bayangkan seperti apakah suatu jemaat atau komunitas jika tiap-tiap anggotanya tidak mencari keuntungan diri sendiri tetapi orang lain? Tentunya akan tercipta saling memberi dan menerima, keseimbangan hidup, kekurangan-kekurangan akan terpenuhi, kasih, keakraban, persahabatan, dan lain-lain.
Melalui perkataan Paulus tersebut, dapat ditemukan satu attitude atau sikap seorang Kristen yaitu tidak egois atau mencari keuntungan diri sendiri tetapi orang lain. Sungguh merupakan sesuatu yang langka dan sangat menantang bagi orang Kristen di zaman modern yang sarat dengan kompetisi dan individualisme.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menjadi tidak egois atau mencari keuntungan diri sendiri tetapi keuntungan orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:23-24
10:23 “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
10:24 Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.
Masih mengenai makan daging persembahan berhala, Paulus mengingatkan anggota jemaat Korintus agar tidak mencari keuntungan sendiri dengan cara makan daging tersebut. Jika karena makan daging persembahan berhala, ada orang lain yang dirugikan, maka sebaiknya aktifitas tersebut dibatalkan atau dihentikan.
Bagi Paulus makan daging persembahan berhala bukanlah dosa demikian juga jika tidak memakannya. Tetapi yang menjadi dosa adalah jika karena tindakan tersebut orang lain menjadi tersandung, atau lemah secara rohani.
Timbul pertanyaan, bagaimana dengan hak dan kebebasan seorang Kristen yang semestinya dapat memakan daging tersebut? Kekristenan bukan melulu mengenai hak dan kepentingan diri sendiri tetapi dalam hal ini mengenai kasih dan kekudusan.
Setiap orang Kristen semestinya mempertimbangkan apakah sikap, tindakan atau aktifitasnya merugikan orang lain baik secara jasmani maupun rohani. Lebih dari itu, Paulus bahkan mengharapkan agar tiap-tiap anggota jemaat Korintus mencari keuntungan orang lain bukan diri sendiri.
Dapatkah Anda bayangkan seperti apakah suatu jemaat atau komunitas jika tiap-tiap anggotanya tidak mencari keuntungan diri sendiri tetapi orang lain? Tentunya akan tercipta saling memberi dan menerima, keseimbangan hidup, kekurangan-kekurangan akan terpenuhi, kasih, keakraban, persahabatan, dan lain-lain.
Melalui perkataan Paulus tersebut, dapat ditemukan satu attitude atau sikap seorang Kristen yaitu tidak egois atau mencari keuntungan diri sendiri tetapi orang lain. Sungguh merupakan sesuatu yang langka dan sangat menantang bagi orang Kristen di zaman modern yang sarat dengan kompetisi dan individualisme.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menjadi tidak egois atau mencari keuntungan diri sendiri tetapi keuntungan orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
ALLAH YANG CEMBURU
Sabtu, 11 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:21-22
10:21 Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga perjamuan roh-roh jahat.
10:22 Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?
Paulus dengan jelas membedakan antara cawan Tuhan dan cawan roh-roh jahat. Antara perjamuan Tuhan dan perjamuan roh-roh jahat. Ia seolah menarik garis yang jelas dan tegas di antara keduanya. Dua hal tersebut bukan saja berbeda tetapi tidak dapat disatukan atau di-campur-aduk-kan.
Allah adalah Allah yang Cemburu. Ia tidak mau ada allah lain bagi manusia selain diri-Nya. Karena memang apa yang disebut sebagai allah yang lain sesungguhnya memang tidak ada. Tidak ada yang setara dengan diri-Nya sehingga dapat dijadikan sebagai allah. Selain Allah hanya ada roh jahat atau allah yang palsu.
Allah adalah Allah yang Kudus. Ia bukan saja sensitif atau peka terhadap dosa tetapi Ia adalah anti-dosa. Ia tidak dapat berhubungan, bersentuhan atau berinteraksi, apalagi berbaur dan bersatu dengan dosa. Ia memang mengasihi pendosa tetapi bukan dosa dari si pendosa.
Paulus mengingatkan anggota jemaat Korintus yang menyembah berhala agar berhati-hati terhadap tindakan atau perbuatan mereka yang dapat membangkitkan cemburu Tuhan. Dan Ia pun mengingatkan mereka tentang Dia yang Maha Kuasa yang tidak tertandingi dan tidak terkalahkan. Oleh sebab itu, Paulus seolah mengatakan “Hati-hati!” atau “Jangan main-main terhadap Allah”.
Sebagai penerapannya di zaman ini, orang Kristen janganlah menduakan Tuhan. Jangan menyembah allah lain, apa pun bentuknya. Mungkin uang, harta kekayaan, posisi, jabatan, karir, hobby atau apa saja yang menguasai, yang menjadi fokus atau yang paling utama selain daripada Allah. Jadikanlah Allah prioritas pertama dan utama dalam hidup Anda!
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa mengutamakan Engkau dan menomorsatukan Engkau di dalam hidup hamba. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:21-22
10:21 Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga perjamuan roh-roh jahat.
10:22 Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?
Paulus dengan jelas membedakan antara cawan Tuhan dan cawan roh-roh jahat. Antara perjamuan Tuhan dan perjamuan roh-roh jahat. Ia seolah menarik garis yang jelas dan tegas di antara keduanya. Dua hal tersebut bukan saja berbeda tetapi tidak dapat disatukan atau di-campur-aduk-kan.
Allah adalah Allah yang Cemburu. Ia tidak mau ada allah lain bagi manusia selain diri-Nya. Karena memang apa yang disebut sebagai allah yang lain sesungguhnya memang tidak ada. Tidak ada yang setara dengan diri-Nya sehingga dapat dijadikan sebagai allah. Selain Allah hanya ada roh jahat atau allah yang palsu.
Allah adalah Allah yang Kudus. Ia bukan saja sensitif atau peka terhadap dosa tetapi Ia adalah anti-dosa. Ia tidak dapat berhubungan, bersentuhan atau berinteraksi, apalagi berbaur dan bersatu dengan dosa. Ia memang mengasihi pendosa tetapi bukan dosa dari si pendosa.
Paulus mengingatkan anggota jemaat Korintus yang menyembah berhala agar berhati-hati terhadap tindakan atau perbuatan mereka yang dapat membangkitkan cemburu Tuhan. Dan Ia pun mengingatkan mereka tentang Dia yang Maha Kuasa yang tidak tertandingi dan tidak terkalahkan. Oleh sebab itu, Paulus seolah mengatakan “Hati-hati!” atau “Jangan main-main terhadap Allah”.
Sebagai penerapannya di zaman ini, orang Kristen janganlah menduakan Tuhan. Jangan menyembah allah lain, apa pun bentuknya. Mungkin uang, harta kekayaan, posisi, jabatan, karir, hobby atau apa saja yang menguasai, yang menjadi fokus atau yang paling utama selain daripada Allah. Jadikanlah Allah prioritas pertama dan utama dalam hidup Anda!
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa mengutamakan Engkau dan menomorsatukan Engkau di dalam hidup hamba. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)