Jumat, 10 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:18-20
10:18 Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah?
10:19 Apakah yang kumaksudkan dengan perkataan itu? Bahwa persembahan berhala adalah sesuatu? Atau bahwa berhala adalah sesuatu?
10:20 Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.
Paulus sangat waspada terhadap penyembah berhala dan persembahan berhala. Karena hal tersebut dapat menodai atau menistai jemaat Korintus. Ia memandang bahwa persembahan berhala ditujukan kepada roh-roh jahat. Dan atas dasar itu ia melarang anggota jemaat Korintus menyembah berhala karena dengan demikian berarti mereka bersekutu dengan roh-roh jahat dan menodai jemaat-Nya.
Di zaman modern sepertinya praktik penyembahan berhala sudah sangat jarang terlihat atau terdengar..Tetapi sesungguhnya, penyembahan kepada apa atau siapa yang bukan Allah adalah dosa dan pelanggaran terhadap Allah.
Sebut saja dukun, paranormal, kekuatan mistis atau magis, dan lain-lain. Atau, jika seseorang lebih percaya, bersandar dan berserah kepada kekuatan manusia seperti: relasi, posisi, jabatan, karir atau diri sendiri daripada percaya kepada Allah, maka hal itu pun dapat dikategorikan sebagai penyembahan berhala. Karena mereka mengandalkan sesuatu yang bukan Allah, menjadi setara dan menggantikan posisi Dia.
Artinya, jika seseorang begitu “gila” atau terobsesi dengan kekayaan, harta benda, uang, bisnis, karir, relasi, hobby, kesenangan, dan lain-lain sehingga ia tidak mengutamakan Allah, maka ia telah menyembah berhala dan telah menggantikan posisi Allah di urutan nomor satu dalam kehidupan ini.
Hal ini tidak boleh disalahartikan dengan mengambil kesimpulan bahwa orang Kristen adalah orang yang cuek, malas, tidak mau tahu dengan urusan pekerjaan, bisnis, karir, dan lain-lain. Mereka hanya tidak mengandalkan hal-hal tersebut seperti mengandalkan Allah. Dan tidak me-nomor-satu-kan semua itu sehingga me-nomor-dua-kan, menggantikan atau pun mengabaikan Dia.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menyembah Engkau saja bukan yang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Minggu, 12 Oktober 2008
KESATUAN DI DALAM JEMAAT
Kamis, 9 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:14-17
10:14 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!
10:15 Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan!
10:16 Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?
10:17 Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.
Setelah menyinggung soal penyembahan berhala, Paulus menyebut kata cawan, roti dan satu tubuh. Artinya, anggota jemaat Korintus yang menyembah berhala akan menistai atau menodai tubuh Kristus atau jemaat yang adalah satu.
Melalui hal ini dapat ditemukan bahwa Paulus memandang persatuan dan kesatuan jemaat sebagai sesuatu yang sangat penting yang harus dijaga. Bagi dia, menjaga persatuan dan kesatuan jemaat bukan semata-mata untuk kelanggengan organisasi, melainkan karena hal tersebut merupakan kehendak Kristus. Di kitab Yohanes pasal 17, Yesus berdoa untuk persatuan dan kesatuan murid-muridNya. Bahkan tingkat atau kualitas kesatuan yang Yesus harapkan adalah seperti kesatuan di antara diri-Nya dan Bapa di Sorga.
Di zaman modern, hubungan yang dangkal di antara orang-orang Kristen merupakan hal yang biasa yang sudah diterima. Tidak sedikit orang-orang Kristen yang usai mengikuti Kebaktian Minggu langsung menuju halaman parkir, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, menekan gas lalu segera meluncur pulang atau menuju tempat lain yang menyenangkan bagi mereka. Orang-orang Kristen tersebut bukan saja tidak ber-fellowship tetapi sangat mungkin pula bahwa mereka tidak mengenal satu dengan yang lain.
Kebenaran ini semestinya tidak ditanggapi sebagai suatu serangan yang menyinggung atau menjelek-jelekkan orang-orang Kristen tertentu. Tetapi justru sebaliknya, sebagai suatu fakta atau realitas yang menunjukkan atau membuktikan bahwa Doa Yesus tentang persatuan dan kesatuan jemaat harus diingat dan direalisasikan.
Upaya persatuan dan kesatuan ini tentu saja tidak berasal dari satu pihak seperti anggota jemaat atau pendeta saja. Tetapi baik pendeta, penatua, majelis, pengurus, staff full time, part time, dan setiap anggota jemaat perlu memulai bersama-sama, menggalakkan dan membangun persatuan dan kesatuan di dalam jemaat.
Mengenai tindakan, program atau kreativitas yang perlu dilakukan tentunya harus direncanakan atau dijadwalkan. Tetapi hal yang paling penting dan utama adalah bagaimana setiap orang Kristen mempunyai keyakinan yang dalam tentang persatuan dan kesatuan tersebut di dalam jemaat.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan jemaat dari waktu ke waktu. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:14-17
10:14 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!
10:15 Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan!
10:16 Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?
10:17 Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.
Setelah menyinggung soal penyembahan berhala, Paulus menyebut kata cawan, roti dan satu tubuh. Artinya, anggota jemaat Korintus yang menyembah berhala akan menistai atau menodai tubuh Kristus atau jemaat yang adalah satu.
Melalui hal ini dapat ditemukan bahwa Paulus memandang persatuan dan kesatuan jemaat sebagai sesuatu yang sangat penting yang harus dijaga. Bagi dia, menjaga persatuan dan kesatuan jemaat bukan semata-mata untuk kelanggengan organisasi, melainkan karena hal tersebut merupakan kehendak Kristus. Di kitab Yohanes pasal 17, Yesus berdoa untuk persatuan dan kesatuan murid-muridNya. Bahkan tingkat atau kualitas kesatuan yang Yesus harapkan adalah seperti kesatuan di antara diri-Nya dan Bapa di Sorga.
Di zaman modern, hubungan yang dangkal di antara orang-orang Kristen merupakan hal yang biasa yang sudah diterima. Tidak sedikit orang-orang Kristen yang usai mengikuti Kebaktian Minggu langsung menuju halaman parkir, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, menekan gas lalu segera meluncur pulang atau menuju tempat lain yang menyenangkan bagi mereka. Orang-orang Kristen tersebut bukan saja tidak ber-fellowship tetapi sangat mungkin pula bahwa mereka tidak mengenal satu dengan yang lain.
Kebenaran ini semestinya tidak ditanggapi sebagai suatu serangan yang menyinggung atau menjelek-jelekkan orang-orang Kristen tertentu. Tetapi justru sebaliknya, sebagai suatu fakta atau realitas yang menunjukkan atau membuktikan bahwa Doa Yesus tentang persatuan dan kesatuan jemaat harus diingat dan direalisasikan.
Upaya persatuan dan kesatuan ini tentu saja tidak berasal dari satu pihak seperti anggota jemaat atau pendeta saja. Tetapi baik pendeta, penatua, majelis, pengurus, staff full time, part time, dan setiap anggota jemaat perlu memulai bersama-sama, menggalakkan dan membangun persatuan dan kesatuan di dalam jemaat.
Mengenai tindakan, program atau kreativitas yang perlu dilakukan tentunya harus direncanakan atau dijadwalkan. Tetapi hal yang paling penting dan utama adalah bagaimana setiap orang Kristen mempunyai keyakinan yang dalam tentang persatuan dan kesatuan tersebut di dalam jemaat.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan jemaat dari waktu ke waktu. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
MERESPON PENCOBAAN
Rabu, 8 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:13
10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Di padang gurun nenek moyang bangsa Israel mengalami tantangan atau pencobaan hidup. Sesuatu yang dapat menjadikan mereka lebih bergantung, lebih bersandar dan lebih dekat kepada Allah. Tetapi, sejumlah besar dari antara bangsa itu merespon tantangan atau pencobaan yang mereka alami dengan salah atau tidak benar. Bangsa yang keluar dari perbudakan Mesir itu tidak percaya kepada Allah tetapi kepada berhala dan kepada diri mereka sendiri. Mereka bercabul, mencobai Allah dan bersungut-sungut.
Melalui tulisan ini Paulus hendak mengatakan bahwa pencobaan yang dialami oleh manusia, termasuk nenek moyang bangsa Israel, dan orang-orang Kristen di zaman modern, tidak melebih kekuatan manusia itu sendiri. Sehingga tidak ada alasan untuk jatuh ke dalam dosa, apalagi berseru meminta tolong kepada berhala, bercabul, mencobai Allah, bersungut-sungut atau jatuh ke dalam dosa-dosa yang lain.
Di samping itu Allah pun setia kepada umat-Nya. Ia memberikan kekuatan dan jalan keluar. Seandainya, nenek moyang bangsa Israel di padang gurun mau bergantung, bersandar kepada Allah, sabar dan menguasai diri mereka, pastilah mereka dapat melewati tantangan dan pencobaan yang mereka alami. Demikian pula orang-orang Kristen di zaman modern, tidak perlu menjadi kuatir, tidak percaya, panic, takut atau negatif sehingga merespon pencobaan dengan cara yang salah.
Di masa-masa pencobaan semestinya orang Kristen semakin bersandar kepada Allah bukan kepada yang lain seperti: materi, posisi, jabatan, relasi, atau diri sendiri. Dengan demikian mereka dapat semakin bertumbuh, lebih dekat dan lebih mengenal Allah dan kebenaran-Nya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat merespon pencobaan dengan benar dan semakin bersandar kepada Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:13
10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Di padang gurun nenek moyang bangsa Israel mengalami tantangan atau pencobaan hidup. Sesuatu yang dapat menjadikan mereka lebih bergantung, lebih bersandar dan lebih dekat kepada Allah. Tetapi, sejumlah besar dari antara bangsa itu merespon tantangan atau pencobaan yang mereka alami dengan salah atau tidak benar. Bangsa yang keluar dari perbudakan Mesir itu tidak percaya kepada Allah tetapi kepada berhala dan kepada diri mereka sendiri. Mereka bercabul, mencobai Allah dan bersungut-sungut.
Melalui tulisan ini Paulus hendak mengatakan bahwa pencobaan yang dialami oleh manusia, termasuk nenek moyang bangsa Israel, dan orang-orang Kristen di zaman modern, tidak melebih kekuatan manusia itu sendiri. Sehingga tidak ada alasan untuk jatuh ke dalam dosa, apalagi berseru meminta tolong kepada berhala, bercabul, mencobai Allah, bersungut-sungut atau jatuh ke dalam dosa-dosa yang lain.
Di samping itu Allah pun setia kepada umat-Nya. Ia memberikan kekuatan dan jalan keluar. Seandainya, nenek moyang bangsa Israel di padang gurun mau bergantung, bersandar kepada Allah, sabar dan menguasai diri mereka, pastilah mereka dapat melewati tantangan dan pencobaan yang mereka alami. Demikian pula orang-orang Kristen di zaman modern, tidak perlu menjadi kuatir, tidak percaya, panic, takut atau negatif sehingga merespon pencobaan dengan cara yang salah.
Di masa-masa pencobaan semestinya orang Kristen semakin bersandar kepada Allah bukan kepada yang lain seperti: materi, posisi, jabatan, relasi, atau diri sendiri. Dengan demikian mereka dapat semakin bertumbuh, lebih dekat dan lebih mengenal Allah dan kebenaran-Nya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat merespon pencobaan dengan benar dan semakin bersandar kepada Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
WASPADALAH! WASPADALAH!
Selasa, 7 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:12
10:12 Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
Perkataan Paulus ini masih berkaitan dengan kisah tentang nenek moyang bangsa Israel di padang gurun. Mereka menyembah berhala, bercabul, mencobai Allah, dan bersungut-sungut secara tiba-tiba, atau terjadi begitu saja tanpa suatu awal atau sebab-sebab kecil yang terjadi sebelumnya.
Ketidakpercayaan, kesombongan, tidak berterima kasih, tidak hormat, tidak patuh, egois, iri hati, genit, malas, dan dosa-dosa kecil yang tidak terlihat secara jelas oleh Musa atau pemimpin rohani bangsa itu. Selanjutnya nenek moyang bangsa Israel yang tidak rohani itu pun mulai membicarakannya, bersatu, mengkristal menjadi kumpulan pendosa. Mereka menentang dan memberontak Allah dengan cara menyembah berhala, bercabul, mencobai Dia dan bersungut-sungut.
Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi waspada dan menjaga diri mereka agar tidak jatuh, menjadi lemah secara rohani dan akhirnya murtad dari Allah.
Pesan Paulus tentu saja berlaku juga bagi orang Kristen di zaman modern. Orang-orang Kristen di zaman ini semestinya mengambil pelajaran dari kisah tentang nenek moyang bangsa Israel, dan tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi waspada dan menjaga diri mereka agar tidak jatuh, atau lemah secara rohani. Sehingga dengan demikian mereka akan masuk ke tanah perjanjian yang disediakan Allah yaitu Sorga.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga diri, waspada, tidak sombong, atau lemah secara rohani sehingga hamba dapat tiba di Sorga, di tanah yang Engkau janjikan. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:12
10:12 Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
Perkataan Paulus ini masih berkaitan dengan kisah tentang nenek moyang bangsa Israel di padang gurun. Mereka menyembah berhala, bercabul, mencobai Allah, dan bersungut-sungut secara tiba-tiba, atau terjadi begitu saja tanpa suatu awal atau sebab-sebab kecil yang terjadi sebelumnya.
Ketidakpercayaan, kesombongan, tidak berterima kasih, tidak hormat, tidak patuh, egois, iri hati, genit, malas, dan dosa-dosa kecil yang tidak terlihat secara jelas oleh Musa atau pemimpin rohani bangsa itu. Selanjutnya nenek moyang bangsa Israel yang tidak rohani itu pun mulai membicarakannya, bersatu, mengkristal menjadi kumpulan pendosa. Mereka menentang dan memberontak Allah dengan cara menyembah berhala, bercabul, mencobai Dia dan bersungut-sungut.
Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi waspada dan menjaga diri mereka agar tidak jatuh, menjadi lemah secara rohani dan akhirnya murtad dari Allah.
Pesan Paulus tentu saja berlaku juga bagi orang Kristen di zaman modern. Orang-orang Kristen di zaman ini semestinya mengambil pelajaran dari kisah tentang nenek moyang bangsa Israel, dan tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi waspada dan menjaga diri mereka agar tidak jatuh, atau lemah secara rohani. Sehingga dengan demikian mereka akan masuk ke tanah perjanjian yang disediakan Allah yaitu Sorga.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga diri, waspada, tidak sombong, atau lemah secara rohani sehingga hamba dapat tiba di Sorga, di tanah yang Engkau janjikan. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
BELAJAR DARI MASA LALU
Senin, 6 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:3-5
10:3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama
10:4 dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.
10:5 Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.
Meskipun nenek moyang bangsa Israel telah dibaptis menjadi pengikut Musa, makan makanan dan minum minuman rohani yang sama, dari batu karang rohani yang sama, hal itu tidak menjamin bahwa mereka semua berkenan di hadapan Allah. Mengapa demikian? Karena dari antara nenek moyang bangsa Israel tersebut, terdapat sejumlah besar orang yang tidak berkenan di hadapan Allah yang melakukan hal-hal yang jahat, menyembah berhala, mencobai Allah, melakukan percabulan dan bersungut-sungut.
Melalui gambaran tersebut, Paulus mengambil suatu pelajaran dan kesimpulan bahwa orang-orang Kristen yang meskipun telah dipilih oleh Allah, dan telah menikmati berkat-berkat rohani dari Allah, dapat berhenti atau gagal di tengah jalan karena dosa-dosa yang mereka perbuat.
Timbul pertanyaan, bukankah Allah adalah pribadi yang Maha Kasih, Pengampun dan Penyayang? Apakah atau mengapa ia tidak dapat mengampuni mereka yang melakukan kesalahan? Bukankah Yesus Kristus telah mati di atas kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa manusia?
Sepertinya Paulus tidak mau berspekulasi dengan semua itu. Ia mengambil kisah nyata tentang nenek moyang Israel di zaman Perjanjian Lama sebagai dasar atau alasan untuk menjaga diri dari dosa, dan sungguh-sungguh menjaga keselamatan yang dianugerahkan kepadanya oleh Dia.
Paulus tidak mau menyalahgunakan kasih dan pengampunan Allah untuk melakukan dosa dengan sesuka hati dan terus menerus. Karena jika demikian, maka orang yang seperti itu mungkin bukan saja tidak mengerti akan kasih dan pengampunan Allah, tetapi mungkin sedang mencobai Allah, atau mungkin pula sedang menyalahgunakan kasih dan kebaikan Allah.
Jika demikian, semestinya kasih dan kebaikan Allah menjadi semangat dan pendorong bagi orang Kristen untuk hidup benar dan bertumbuh di dalam Dia, bukan malah menjadi orang yang lebih buruk atau semakin banyak melakukan dosa dan kejahatan.
Jadi, keberadaan kasih karunia Allah di dalam diri seseorang tercermin dari bagaimana respon yang terpancar dari dalam diri orang tersebut. Jika respon orang tersebut benar, maka benarlah ada terdapat kasih karunia di dalam diri orang tersebut. Jika tidak, maka patut untuk dipertanyakan apakah orang tersebut telah mengerti akan kasih karunia Allah terhadap dirinya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga diri dan keselamatan dari Engkau, dan tidak menyalahgunakan kasih karunia dari Mu. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:3-5
10:3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama
10:4 dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.
10:5 Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.
Meskipun nenek moyang bangsa Israel telah dibaptis menjadi pengikut Musa, makan makanan dan minum minuman rohani yang sama, dari batu karang rohani yang sama, hal itu tidak menjamin bahwa mereka semua berkenan di hadapan Allah. Mengapa demikian? Karena dari antara nenek moyang bangsa Israel tersebut, terdapat sejumlah besar orang yang tidak berkenan di hadapan Allah yang melakukan hal-hal yang jahat, menyembah berhala, mencobai Allah, melakukan percabulan dan bersungut-sungut.
Melalui gambaran tersebut, Paulus mengambil suatu pelajaran dan kesimpulan bahwa orang-orang Kristen yang meskipun telah dipilih oleh Allah, dan telah menikmati berkat-berkat rohani dari Allah, dapat berhenti atau gagal di tengah jalan karena dosa-dosa yang mereka perbuat.
Timbul pertanyaan, bukankah Allah adalah pribadi yang Maha Kasih, Pengampun dan Penyayang? Apakah atau mengapa ia tidak dapat mengampuni mereka yang melakukan kesalahan? Bukankah Yesus Kristus telah mati di atas kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa manusia?
Sepertinya Paulus tidak mau berspekulasi dengan semua itu. Ia mengambil kisah nyata tentang nenek moyang Israel di zaman Perjanjian Lama sebagai dasar atau alasan untuk menjaga diri dari dosa, dan sungguh-sungguh menjaga keselamatan yang dianugerahkan kepadanya oleh Dia.
Paulus tidak mau menyalahgunakan kasih dan pengampunan Allah untuk melakukan dosa dengan sesuka hati dan terus menerus. Karena jika demikian, maka orang yang seperti itu mungkin bukan saja tidak mengerti akan kasih dan pengampunan Allah, tetapi mungkin sedang mencobai Allah, atau mungkin pula sedang menyalahgunakan kasih dan kebaikan Allah.
Jika demikian, semestinya kasih dan kebaikan Allah menjadi semangat dan pendorong bagi orang Kristen untuk hidup benar dan bertumbuh di dalam Dia, bukan malah menjadi orang yang lebih buruk atau semakin banyak melakukan dosa dan kejahatan.
Jadi, keberadaan kasih karunia Allah di dalam diri seseorang tercermin dari bagaimana respon yang terpancar dari dalam diri orang tersebut. Jika respon orang tersebut benar, maka benarlah ada terdapat kasih karunia di dalam diri orang tersebut. Jika tidak, maka patut untuk dipertanyakan apakah orang tersebut telah mengerti akan kasih karunia Allah terhadap dirinya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga diri dan keselamatan dari Engkau, dan tidak menyalahgunakan kasih karunia dari Mu. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
KEMURTADAN
Minggu, 5 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 10:1-2
10:1 Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.
10:2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.
Paulus belajar dari sejarah. Melalui Perjanjian Lama, ia melihat adanya hubungan antara Musa dan Kristus, Israel dan jemaat, dan baptisan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dari sana ia mengambil kesimpulan, jika pada masa Perjanjian Lama Allah dapat menolak atau tidak menerima orang yang telah mengikut Musa dan dibaptis, maka di zaman Perjanjian Baru, Ia pun dapat menolak atau tidak menerima orang yang meskipun telah menjadi pengikut Kristus dan telah dibaptis. Mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi?
Di zaman Perjanjian Lama, mereka bukan saja tidak percaya, tidak patuh dan bersungut-sungut, tetapi mereka juga telah menolak Allah dan hamba-Nya, Musa, dengan cara menyembah berhala atau allah lain yaitu patung lembu emas.
Orang Kristen mungkin dapat jatuh ke dalam dosa terhadap sesama atau diri sendiri seperti dosa pikiran jahat, hawa nafsu, iri hati, percabulan, pencurian, dan lain-lain. Tetapi, bagaimanakah seseorang dapat bertobat dari dosa-dosa semacam itu jika ia sama sekali sudah tidak menghormati Allah, menolak, menghina bahkan menggantikan-Nya dengan allah lain? Penerimaan seseorang terhadap Allah tentu saja sangat mendasar, bukan?
Mungkin, penolakan semacam itulah yang disebut dengan kemurtadan yaitu suatu perubahan total di dalam diri seseorang. Dari rohani menjadi duniawi, dari Allah ke allah lain, dari percaya menjadi benci terhadap Dia, dari pengikut Kristus menjadi penganiaya jemaat, dan perubahan-perubahan lainnya yang terjadi secara total, mutlak dan menyeluruh.
Artinya, keselamatan dapat terlepas dari diri seseorang ketika orang tersebut telah murtad dari Allah, menolak atau tidak menerima Dia lagi, dan telah mengalami perubahan total dari rohani menjadi antikristus. Dan kemungkinan ini dapat saja terjadi di dalam diri seorang Kristen yang tidak menjaga hati dan imannya terhadap Allah. Bukankah di masa sekarang pun telah terdapat penolakan terhadap Allah secara berani dan terang-terangan? Mereka mengejek, merekayasa, menyebar isu, merendahkan, dan menjatuhkan Yesus dan orang-orang Kristen? Sebut saja tulisan Davinci Code, Your God Is Not So Great, dan sejumlah tulisan-tulisan sesat lainnya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga hati dan iman hamba terhadap Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 10:1-2
10:1 Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.
10:2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.
Paulus belajar dari sejarah. Melalui Perjanjian Lama, ia melihat adanya hubungan antara Musa dan Kristus, Israel dan jemaat, dan baptisan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dari sana ia mengambil kesimpulan, jika pada masa Perjanjian Lama Allah dapat menolak atau tidak menerima orang yang telah mengikut Musa dan dibaptis, maka di zaman Perjanjian Baru, Ia pun dapat menolak atau tidak menerima orang yang meskipun telah menjadi pengikut Kristus dan telah dibaptis. Mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi?
Di zaman Perjanjian Lama, mereka bukan saja tidak percaya, tidak patuh dan bersungut-sungut, tetapi mereka juga telah menolak Allah dan hamba-Nya, Musa, dengan cara menyembah berhala atau allah lain yaitu patung lembu emas.
Orang Kristen mungkin dapat jatuh ke dalam dosa terhadap sesama atau diri sendiri seperti dosa pikiran jahat, hawa nafsu, iri hati, percabulan, pencurian, dan lain-lain. Tetapi, bagaimanakah seseorang dapat bertobat dari dosa-dosa semacam itu jika ia sama sekali sudah tidak menghormati Allah, menolak, menghina bahkan menggantikan-Nya dengan allah lain? Penerimaan seseorang terhadap Allah tentu saja sangat mendasar, bukan?
Mungkin, penolakan semacam itulah yang disebut dengan kemurtadan yaitu suatu perubahan total di dalam diri seseorang. Dari rohani menjadi duniawi, dari Allah ke allah lain, dari percaya menjadi benci terhadap Dia, dari pengikut Kristus menjadi penganiaya jemaat, dan perubahan-perubahan lainnya yang terjadi secara total, mutlak dan menyeluruh.
Artinya, keselamatan dapat terlepas dari diri seseorang ketika orang tersebut telah murtad dari Allah, menolak atau tidak menerima Dia lagi, dan telah mengalami perubahan total dari rohani menjadi antikristus. Dan kemungkinan ini dapat saja terjadi di dalam diri seorang Kristen yang tidak menjaga hati dan imannya terhadap Allah. Bukankah di masa sekarang pun telah terdapat penolakan terhadap Allah secara berani dan terang-terangan? Mereka mengejek, merekayasa, menyebar isu, merendahkan, dan menjatuhkan Yesus dan orang-orang Kristen? Sebut saja tulisan Davinci Code, Your God Is Not So Great, dan sejumlah tulisan-tulisan sesat lainnya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga hati dan iman hamba terhadap Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
KESELAMATAN
Sabtu, 4 Oktober 2008
Bacaan: I Kor 9:26-27
9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Melalui perkataan ini Paulus hendak mengatakan bahwa pemberitaan Injil yang ia lakukan selama itu bukan tanpa tujuan atau sasaran yang jelas. Ia sendiri turut serta di dalam pertandingan, memperhatikan, melatih dan melengkapi dirinya sehingga dapat memperoleh apa yang ia impikan atau cita-citakan.
Timbul pertanyaan, apakah seorang Kristen harus mengerjakan, mengupayakan atau memperjuangkan keselamatan? Bukankah keselamatan adalah kasih karunia dari Allah?
Tidak dapat dipungkiri atau diabaikan bahwa pemberitaan Injil yang Paulus lakukan adalah suatu tindakan, kerja, usaha, dan perjuangan. Aktifitas, mobilitas Paulus, komunikasi yang ia lakukan, tulisan, kunjungannya ke berbagai wilayah atau negara, ke tempat-tempat ibadah, ke jemaat-jemaat membuktikan bahwa ia bukan seorang yang duduk diam, tenang dan berpangku tangan.
Tetapi penting untuk diketahui bahwa semua yang ia lakukan bukan untuk mendapatkan keselamatan, karena keselamatan sesungguhnya telah ia peroleh ketika ia percaya kepada Kristus, bertobat dan dibaptis oleh Ananias di Damsyik.
Singkatnya, Paulus melakukan semua itu untuk menjaga dan memelihara keselamatan yang ia peroleh dari ancaman keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup, kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal yang lain yang duniawi yang dapat mengubah pilihan, ketetapan, arah dan tujuan hidupnya (band. 1 Yoh 2:16; Markus 4:19).
Ayat Renungan:
1 Yoh 2:16; Markus 4:19
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga dan memelihara keselamatan yang hamba peroleh dari Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 9:26-27
9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Melalui perkataan ini Paulus hendak mengatakan bahwa pemberitaan Injil yang ia lakukan selama itu bukan tanpa tujuan atau sasaran yang jelas. Ia sendiri turut serta di dalam pertandingan, memperhatikan, melatih dan melengkapi dirinya sehingga dapat memperoleh apa yang ia impikan atau cita-citakan.
Timbul pertanyaan, apakah seorang Kristen harus mengerjakan, mengupayakan atau memperjuangkan keselamatan? Bukankah keselamatan adalah kasih karunia dari Allah?
Tidak dapat dipungkiri atau diabaikan bahwa pemberitaan Injil yang Paulus lakukan adalah suatu tindakan, kerja, usaha, dan perjuangan. Aktifitas, mobilitas Paulus, komunikasi yang ia lakukan, tulisan, kunjungannya ke berbagai wilayah atau negara, ke tempat-tempat ibadah, ke jemaat-jemaat membuktikan bahwa ia bukan seorang yang duduk diam, tenang dan berpangku tangan.
Tetapi penting untuk diketahui bahwa semua yang ia lakukan bukan untuk mendapatkan keselamatan, karena keselamatan sesungguhnya telah ia peroleh ketika ia percaya kepada Kristus, bertobat dan dibaptis oleh Ananias di Damsyik.
Singkatnya, Paulus melakukan semua itu untuk menjaga dan memelihara keselamatan yang ia peroleh dari ancaman keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup, kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal yang lain yang duniawi yang dapat mengubah pilihan, ketetapan, arah dan tujuan hidupnya (band. 1 Yoh 2:16; Markus 4:19).
Ayat Renungan:
1 Yoh 2:16; Markus 4:19
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga dan memelihara keselamatan yang hamba peroleh dari Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)