Minggu, 21 September 2008
Bacaan: I Kor 7:10-11
7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku -- tidak, bukan aku, tetapi Tuhan -- perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Kepada orang-orang yang telah kawin...Tuhan -- perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
• ...jikalau seorang istri bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya.
• ...seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menyampaikan perintah Tuhan kepada orang-orang yang telah kawin di Jemaat Korintus bahwa mereka tidak boleh bercerai. Istri tidak boleh bercerai dengan suaminya, demikian pula suami tidak boleh menceraikan istrinya.
Jika salah satu dari antara mereka, baik istri atau pun suami menceraikan pasangannya, mereka harus tetap hidup tanpa suami atau istri yang lain. Atau, mereka harus berdamai satu dengan yang lain.
Artinya, permasalahan antara suami dan istri tidak harus diakhiri dengan perceraian. Hubungan pernikahan dapat dipulihkan dan dibina di dalam Kristus. Orang-orang yang telah kawin harus dapat berdamai, menerima kekurangan dan saling mengampuni satu sama lain.
Perceraian bukanlah solusi dari permasalahan dalam pernikahan, malah beresiko terhadap dosa percabulan atau perzinahan.
Orang-orang yang tidak memiliki keyakinan dalam hal ini akan dengan mudah bercerai, lalu kemudian menikah lagi bahkan mungkin berulang-ulang kali. Dapatkah Anda bayangkan jika semua orang melakukan hal yang demikian? Dimanakah terdapat kesetiaan, pengampunan, penerimaan, damai, dan kasih satu sama lain. Jika orang Kristen melakukan hal semacam itu, bukankah di dalam dirinya tidak terdapat nilai-nilai Kristus? Jika dalam diri seseorang tidak terdapat nilai-nilai Kristus, bukankah kekristenannya patut dipertanyakan?
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga dan membina hubungan pernikahan, dan juga dapat membantu menyelesaikan permasalahan dalam pernikahan orang lain. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Senin, 15 September 2008
MANFAAT PERNIKAHAN
Sabtu, 20 September 2008
Bacaan: I Kor 7:1-4
7:1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
7:2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
Fakta:
1. Jemaat Korintus pernah menulis surat kepada Paulus. Besar kemungkinan, surat tersebut berisi pertanyaan tentang pernikahan, tentang sikap atau peran suami dan istri.
2. Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• ...baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
• Suami hendaknya memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
• Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus masih menyinggung tentang percabulan dan bagaimana solusi atau antisipasi terhadap dosa tersebut. Ia menilai sebagai hal yang baik jika seorang laki-laki tidak menikah, tetapi, demi mengantisipasi bahaya percabulan, Paulus pun menasihati agar setiap laki-laki atau perempuan menikah tetapi, dengan catatan, laki-laki hanya menikah dengan satu istri, dan perempuan dengan satu suami.
Paulus mengingatkan agar suami dapat memenuhi kewajibannya terhadap istri, demikian pula istri dapat memenuhi kewajibannya terhadap suami, termasuk dalam hal badani atau seksual, sehingga baik suami ataupun istri terhindar dari percabulan atau perzinahan.
Kurangnya hubungan seksual antara suami dan istri yang disebabkan oleh keegoisan antara satu sama lain dapat mengancam kelanggengan pernikahan, meskipun hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan oleh seorang suami atau istri untuk jatuh ke dalam dosa percabulan. Artinya, seorang laki-laki atau perempuan yang telah menikah seharusnya mendapat manfaat dari pernikahan, yakni terhindar dari percabulan bukan malah sebaliknya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat memiliki keyakinan yang dalam akan pernikahan, dan mengantisipasi dosa percabulan. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:1-4
7:1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
7:2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
Fakta:
1. Jemaat Korintus pernah menulis surat kepada Paulus. Besar kemungkinan, surat tersebut berisi pertanyaan tentang pernikahan, tentang sikap atau peran suami dan istri.
2. Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• ...baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
• Suami hendaknya memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
• Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus masih menyinggung tentang percabulan dan bagaimana solusi atau antisipasi terhadap dosa tersebut. Ia menilai sebagai hal yang baik jika seorang laki-laki tidak menikah, tetapi, demi mengantisipasi bahaya percabulan, Paulus pun menasihati agar setiap laki-laki atau perempuan menikah tetapi, dengan catatan, laki-laki hanya menikah dengan satu istri, dan perempuan dengan satu suami.
Paulus mengingatkan agar suami dapat memenuhi kewajibannya terhadap istri, demikian pula istri dapat memenuhi kewajibannya terhadap suami, termasuk dalam hal badani atau seksual, sehingga baik suami ataupun istri terhindar dari percabulan atau perzinahan.
Kurangnya hubungan seksual antara suami dan istri yang disebabkan oleh keegoisan antara satu sama lain dapat mengancam kelanggengan pernikahan, meskipun hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan oleh seorang suami atau istri untuk jatuh ke dalam dosa percabulan. Artinya, seorang laki-laki atau perempuan yang telah menikah seharusnya mendapat manfaat dari pernikahan, yakni terhindar dari percabulan bukan malah sebaliknya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat memiliki keyakinan yang dalam akan pernikahan, dan mengantisipasi dosa percabulan. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
MENUNTASKAN DOSA DAN PENGARUHNYA
Jumat, 19 September 2008
Bacaan: I Kor 6:15-18
6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."
6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• ...tubuhmu adalah anggota Kristus...tidak akan kuambil anggota-Nya untuk diserahkan kepada percabulan.. Sekali-kali tidak!
• ...siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia..."Keduanya akan menjadi satu daging."
• ...siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menyebut dosa percabulan berulang kali dalam suratnya kepada Jemaat Korintus. Hal ini menunjukkan penolakan dan penentangannya terhadap dosa tersebut. Dosa ini pula yang paling mengancam kerohanian Jemaat karena kota Korintus penuh dengan praktik percabulan bahkan orang-orang di sana menganutnya sebagai agama atau penyembahan terhadap para dewa.
Dapat dibayangkan godaan dan tantangan Paulus dan Jemaat Korintus terhadap dosa ini. Tidak heran Paulus menyebut dosa ini berulang kali di dalam suratnya. Ia sangat fokus dalam menuntaskan dosa dan pengaruh dosa tersebut dari dalam Jemaat. Dan hal yang tidak kalah penting, Paulus mengarahkan pandangan Jemaat kepada Tuhan dengan mengatakan “...siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba untuk dapat senantiasa fokus dalam menuntaskan dosa dan pengaruhnya dari dalam Jemaat, dan dapat mengarahkan pandangan Jemaat hanya kepada Engkau . Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 6:15-18
6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."
6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• ...tubuhmu adalah anggota Kristus...tidak akan kuambil anggota-Nya untuk diserahkan kepada percabulan.. Sekali-kali tidak!
• ...siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia..."Keduanya akan menjadi satu daging."
• ...siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menyebut dosa percabulan berulang kali dalam suratnya kepada Jemaat Korintus. Hal ini menunjukkan penolakan dan penentangannya terhadap dosa tersebut. Dosa ini pula yang paling mengancam kerohanian Jemaat karena kota Korintus penuh dengan praktik percabulan bahkan orang-orang di sana menganutnya sebagai agama atau penyembahan terhadap para dewa.
Dapat dibayangkan godaan dan tantangan Paulus dan Jemaat Korintus terhadap dosa ini. Tidak heran Paulus menyebut dosa ini berulang kali di dalam suratnya. Ia sangat fokus dalam menuntaskan dosa dan pengaruh dosa tersebut dari dalam Jemaat. Dan hal yang tidak kalah penting, Paulus mengarahkan pandangan Jemaat kepada Tuhan dengan mengatakan “...siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba untuk dapat senantiasa fokus dalam menuntaskan dosa dan pengaruhnya dari dalam Jemaat, dan dapat mengarahkan pandangan Jemaat hanya kepada Engkau . Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
PENASIHAT ROHANI
Kamis, 18 September 2008
Bacaan: I Kor 6:5-6
6:5 Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?
6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Hal penanganan perkara di dalam Jemaat selama ini kukatakan untuk memalukan kamu.
• Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?
• Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? (TEV Bible: Instead, one Christian goes to court against another and lets unbelievers judge the case)
Pertanyaan:
Apa latarbelakang dan arti perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus mengharapkan Jemaat Korintus dapat menyelesaikan perkara di antara mereka tanpa harus melibatkan orang lain di luar Jemaat. Orang lain di luar Jemaat Korintus pada zaman Paulus tentu saja tidak mempunyai nilai-nilai atau pengajaran yang sangat buruk. Korintus terkenal dengan penyembahan atau pengabdian kepada para dewa dan dosa percabulan.
Di zaman modern nasihat-nasihat ilmiah atau psikologis sifatnya tentu saja lebih baik dibanding dengan nasihat orang-orang di luar Jemaat Korintus. Namun demikian, orang Kristen tetap harus teliti dan dapat membedakan antara nasihat yang sempurna dari Allah atau nasihat yang palsu atau abu-abu.
Jika nasihat seseorang tidak sesuai atau bertolak belakang dengan prinsip atau nilai Alkitab, seorang murid Kristus harus dapat secara tegas menolak nasihat tersebut. Meskipun nasihat tersebut kedengarannya mempesona, atau berasal dari pakar, selebritis atau orang ternama sekalipun. Sebaliknya, jika seorang yang tampak buruk penampilannya, tidak berpendidikan, atau hal-hal lain yang kurang secara duniawi menyampaikan nasihat yang alkitabiah, setiap orang Kristen harus menerima dan mengaminkannya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan hamba keyakinan yang dalam senantiasa akan nasihat firmanMu dan mampukan hamba menjadi penasihat rohani yang efektif bagi orang lain. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 6:5-6
6:5 Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?
6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Hal penanganan perkara di dalam Jemaat selama ini kukatakan untuk memalukan kamu.
• Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?
• Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? (TEV Bible: Instead, one Christian goes to court against another and lets unbelievers judge the case)
Pertanyaan:
Apa latarbelakang dan arti perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus mengharapkan Jemaat Korintus dapat menyelesaikan perkara di antara mereka tanpa harus melibatkan orang lain di luar Jemaat. Orang lain di luar Jemaat Korintus pada zaman Paulus tentu saja tidak mempunyai nilai-nilai atau pengajaran yang sangat buruk. Korintus terkenal dengan penyembahan atau pengabdian kepada para dewa dan dosa percabulan.
Di zaman modern nasihat-nasihat ilmiah atau psikologis sifatnya tentu saja lebih baik dibanding dengan nasihat orang-orang di luar Jemaat Korintus. Namun demikian, orang Kristen tetap harus teliti dan dapat membedakan antara nasihat yang sempurna dari Allah atau nasihat yang palsu atau abu-abu.
Jika nasihat seseorang tidak sesuai atau bertolak belakang dengan prinsip atau nilai Alkitab, seorang murid Kristus harus dapat secara tegas menolak nasihat tersebut. Meskipun nasihat tersebut kedengarannya mempesona, atau berasal dari pakar, selebritis atau orang ternama sekalipun. Sebaliknya, jika seorang yang tampak buruk penampilannya, tidak berpendidikan, atau hal-hal lain yang kurang secara duniawi menyampaikan nasihat yang alkitabiah, setiap orang Kristen harus menerima dan mengaminkannya.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan hamba keyakinan yang dalam senantiasa akan nasihat firmanMu dan mampukan hamba menjadi penasihat rohani yang efektif bagi orang lain. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
NASIHAT ROHANI
Rabu, 17 September 2008
Bacaan: I Kor 6:1-2
6:1 Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?
6:2 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?
• ...tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?
• ...jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
Pertanyaan:
Apa latarbelakang dan arti perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menegur Jemaat Korintus karena mereka melibatkan orang-orang yang tidak benar dalam perselisihan antar murid Kristus. Besar kemungkinannya bahwa nasihat atau solusi yang diberikan oleh orang-orang yang tidak benar itu adalah nasihat yang sesat atau tidak rohani. Apalagi di kota Korintus terdapat kepercayaan-kepercayaan kepada para dewa dan penyembahan berhala. Tentu saja nasihat yang tidak rohani tersebut dapat mengakibatkan dosa dan pelanggaran terhadap ajaran dan perintah Allah. Contohnya: Di Korintus para penyembah berhala melakukan percabulan raya. Sedangkan orang Kristen menolak bahkan mengusir orang-orang yang tidak bertobat dari dosa percabulan dari dalam Jemaat. Sangat berbeda dan bertentangan, bukan?
Carilah nasihat yang murni dari Alkitab dan dari orang-orang yang berpegang teguh kepada prinsip dan nilai firman-Nya saja.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba menemukan nasihat atau pengajaran yang murni dari dalam firmanMu dan juga dapat mengajarkannya dengan efektif kepada orang lain. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 6:1-2
6:1 Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?
6:2 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?
• ...tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?
• ...jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
Pertanyaan:
Apa latarbelakang dan arti perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menegur Jemaat Korintus karena mereka melibatkan orang-orang yang tidak benar dalam perselisihan antar murid Kristus. Besar kemungkinannya bahwa nasihat atau solusi yang diberikan oleh orang-orang yang tidak benar itu adalah nasihat yang sesat atau tidak rohani. Apalagi di kota Korintus terdapat kepercayaan-kepercayaan kepada para dewa dan penyembahan berhala. Tentu saja nasihat yang tidak rohani tersebut dapat mengakibatkan dosa dan pelanggaran terhadap ajaran dan perintah Allah. Contohnya: Di Korintus para penyembah berhala melakukan percabulan raya. Sedangkan orang Kristen menolak bahkan mengusir orang-orang yang tidak bertobat dari dosa percabulan dari dalam Jemaat. Sangat berbeda dan bertentangan, bukan?
Carilah nasihat yang murni dari Alkitab dan dari orang-orang yang berpegang teguh kepada prinsip dan nilai firman-Nya saja.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba menemukan nasihat atau pengajaran yang murni dari dalam firmanMu dan juga dapat mengajarkannya dengan efektif kepada orang lain. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
TEGAS DAN ANTISIPATIF
Selasa, 16 September 2008
Bacaan: I Kor 5:12-13
5:12 Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat?
5:13 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• ...dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat?
• ...kamu hanya dapat atau berhak menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat
• Orang yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah.
• Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus memberikan penegasan kepada Jemaat Korintus bahwa menghakimi orang yang jahat, yang tidak bertobat, atau tidak berdukacita atau menyesal dengan dosa-dosa yang mereka lakukan, patut diusir dari dalam Jemaat. Tindakan tersebut bukanlah tindakan yang kejam, atau tidak berprikemanusiaan, justru sangat bijaksana dan antisipatif.
Bayangkan saja jika seorang ayah menerima binatang atau hewan buas seperti harimau, serigala, ular berbisa, atau binatang buas lainnya, tinggal bersama di dalam rumahnya, dan berinteraksi langsung dengan keluarganya setiap hari. Bukankah binatang atau hewan buas tersebut akan mengancam dan membahayakan keluarga sang ayah tersebut?
Jika dalam hal jasmani, orang Kristen dapat mengerti dan menerima hal tersebut, tentunya dalam hal rohani pun orang Kristen semestinya tidak perlu merasa sukar atau keberatan dengan sikap atau tindakan yang sama tegas dan antisipatifnya. Sepertinya perkataan dan tindakan Paulus tersebut lebih merupakan antisipasi terhadap bahaya yang mengancam dan membahayakan jemaat Korintus daripada perasaan tidak suka yang subjektif terhadap anggota jemaat tertentu.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba menjadi orang yang bijaksana, tegas dan antisipatif. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 5:12-13
5:12 Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat?
5:13 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• ...dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat?
• ...kamu hanya dapat atau berhak menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat
• Orang yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah.
• Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus memberikan penegasan kepada Jemaat Korintus bahwa menghakimi orang yang jahat, yang tidak bertobat, atau tidak berdukacita atau menyesal dengan dosa-dosa yang mereka lakukan, patut diusir dari dalam Jemaat. Tindakan tersebut bukanlah tindakan yang kejam, atau tidak berprikemanusiaan, justru sangat bijaksana dan antisipatif.
Bayangkan saja jika seorang ayah menerima binatang atau hewan buas seperti harimau, serigala, ular berbisa, atau binatang buas lainnya, tinggal bersama di dalam rumahnya, dan berinteraksi langsung dengan keluarganya setiap hari. Bukankah binatang atau hewan buas tersebut akan mengancam dan membahayakan keluarga sang ayah tersebut?
Jika dalam hal jasmani, orang Kristen dapat mengerti dan menerima hal tersebut, tentunya dalam hal rohani pun orang Kristen semestinya tidak perlu merasa sukar atau keberatan dengan sikap atau tindakan yang sama tegas dan antisipatifnya. Sepertinya perkataan dan tindakan Paulus tersebut lebih merupakan antisipasi terhadap bahaya yang mengancam dan membahayakan jemaat Korintus daripada perasaan tidak suka yang subjektif terhadap anggota jemaat tertentu.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba menjadi orang yang bijaksana, tegas dan antisipatif. Di dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Kamis, 11 September 2008
SEOLAH-OLAH
Senin, 15 September 2008
Bacaan: I Kor 7:29-31
7:29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
7:30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
7:31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
• …dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis;
• …orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira;
• …orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
• …orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya.
• …dunia …akan berlalu.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Sekilas, perkataan Paulus mengandung kebodohan dan tanda tanya bagi mereka yang mendengarnya. Orang-orang yang salah menilai mungkin mengira ia tidak peduli akan kehidupan, semrawut, tidak becus, aneh atau mungkin “gila”.
Secara esensial, Paulus bukan pertama kali mengatakan hal serupa. Dalam suratnya kepada Jemaat Kolose ia mengatakan:”Pikirkanlah perkara diatas, bukan yang di bumi.” (lih. Kolose 3:2)
Sikap Paulus seperti ini adalah salah satu karakteristik pengikut Kristus. Perhatikan saja hidup Yesus Kristus, Ia bukan orang yang materialistis, egois ataupun narsistis , tetapi ia juga bukan orang yang tidak peduli, apatis, aneh, tidak becus, semrawut atau pun gila. Ia adalah seorang yang memiliki tujuan, jadwal, agenda, bahkan manajemen keuangan, dan Yudas Iskariot adalah bendahara-Nya. Seperti Paulus, Yesus pernah berkata:”kumpulkanlah bagimu harta di sorga…”, bukan di bumi.
Murid Yesus yang lain, yaitu Yakobus, dalam suratnya mengatakan:”…persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah…”
Secara hurufiah pun Paulus sangat teliti. Ia menyebutkan kata “seolah-olah”, yang artinya “tidak benar-benar demikian”. Jadi seorang suami yang beristeri tidak benar-benar meninggalkan atau menceraikan suaminya. Orang yang bergembira lantas menjadi sedih. Atau, orang yang membeli barang-barang seketika itu membuang barang-barang yang ia beli.
Kesimpulannya, seorang Kristen haruslah tidak terikat secara emosi dengan dunia dan isinya. Karena keterikatan tersebut dapat menghambat atau menghalangi orang tersebut untuk memperoleh hal yang lebih baik, yang lebih berharga, lebih indah, dan lebih kekal, yaitu Kerajaan Sorga. Contoh nyata dalam hidup sehari-hari, orang Kristen bisa lupa akan arti dan tujuan hidupnya. Mereka bisa lupa berdoa, lupa membaca Alkitab, atau tidak pergi ke gereja karena urusan pribadi, bisnis, hobby, atau kesenangan diri sendiri. Bukankah hal semacam ini dapat menjadi potensi hilangnya iman dan keyakinan seorang Kristen? Dan, pada akhirnya orang Kristen yang seperti itu akan menjadi orang yang tidak percaya, menolak bahkan menentang kekristenan itu sendiri? Walau mungkin tidak secara blak-blakan atau berterus terang.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat mengutamakan dan mengasihi Engkau, dan tidak menjadi materialis, egois atau narsistis, tetapi bijaksana menjalani hidup hamba sebagai murid Kristus. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:29-31
7:29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
7:30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
7:31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
• …dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis;
• …orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira;
• …orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
• …orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya.
• …dunia …akan berlalu.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Sekilas, perkataan Paulus mengandung kebodohan dan tanda tanya bagi mereka yang mendengarnya. Orang-orang yang salah menilai mungkin mengira ia tidak peduli akan kehidupan, semrawut, tidak becus, aneh atau mungkin “gila”.
Secara esensial, Paulus bukan pertama kali mengatakan hal serupa. Dalam suratnya kepada Jemaat Kolose ia mengatakan:”Pikirkanlah perkara diatas, bukan yang di bumi.” (lih. Kolose 3:2)
Sikap Paulus seperti ini adalah salah satu karakteristik pengikut Kristus. Perhatikan saja hidup Yesus Kristus, Ia bukan orang yang materialistis, egois ataupun narsistis , tetapi ia juga bukan orang yang tidak peduli, apatis, aneh, tidak becus, semrawut atau pun gila. Ia adalah seorang yang memiliki tujuan, jadwal, agenda, bahkan manajemen keuangan, dan Yudas Iskariot adalah bendahara-Nya. Seperti Paulus, Yesus pernah berkata:”kumpulkanlah bagimu harta di sorga…”, bukan di bumi.
Murid Yesus yang lain, yaitu Yakobus, dalam suratnya mengatakan:”…persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah…”
Secara hurufiah pun Paulus sangat teliti. Ia menyebutkan kata “seolah-olah”, yang artinya “tidak benar-benar demikian”. Jadi seorang suami yang beristeri tidak benar-benar meninggalkan atau menceraikan suaminya. Orang yang bergembira lantas menjadi sedih. Atau, orang yang membeli barang-barang seketika itu membuang barang-barang yang ia beli.
Kesimpulannya, seorang Kristen haruslah tidak terikat secara emosi dengan dunia dan isinya. Karena keterikatan tersebut dapat menghambat atau menghalangi orang tersebut untuk memperoleh hal yang lebih baik, yang lebih berharga, lebih indah, dan lebih kekal, yaitu Kerajaan Sorga. Contoh nyata dalam hidup sehari-hari, orang Kristen bisa lupa akan arti dan tujuan hidupnya. Mereka bisa lupa berdoa, lupa membaca Alkitab, atau tidak pergi ke gereja karena urusan pribadi, bisnis, hobby, atau kesenangan diri sendiri. Bukankah hal semacam ini dapat menjadi potensi hilangnya iman dan keyakinan seorang Kristen? Dan, pada akhirnya orang Kristen yang seperti itu akan menjadi orang yang tidak percaya, menolak bahkan menentang kekristenan itu sendiri? Walau mungkin tidak secara blak-blakan atau berterus terang.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat mengutamakan dan mengasihi Engkau, dan tidak menjadi materialis, egois atau narsistis, tetapi bijaksana menjalani hidup hamba sebagai murid Kristus. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)