Minggu, 14 September 2008
Bacaan: I Kor 7:25-28
7:25 Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah.
7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.
7:27 Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang!
7:28 Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …tentang para gadis. …aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat …dari Allah.
• Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.
• Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang!
• ...kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa.
• ...kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa.
• ...orang-orang yang kawin akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus membedakan antara perintah Tuhan dan pendapat pribadinya, meskipun ia sangat dihormati, dan perkataannya mudah diterima oleh Jemaat. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang rasul yang menjaga kemurnian firman Allah. Pendapat pribadi yang tidak dibedakan, atau dicampur aduk dengan firman Allah dapat menghasilkan konsekwensi yang buruk di masa yang akan datang. Orang-orang yang mendengarnya tidak memperoleh pesan yang murni dari Allah. Mungkin terjadi kebingungan, kesesatan, bahkan mungkin menghasilkan penolakan atau antipati terhadap kekristenan.
Sejarah mencatat berbagai ulah manusia yang mencampur aduk pendapat pribadi dan firman Allah dan akibat-akibatnya yang pahit dan memilukan. Sebut saja tentang jual-beli surat penghapusan dosa, perang salib, pembunuhan para dukun dan tukang sihir, penentuan angka kiamat, dan masih banyak lagi. Semuanya sangat tidak alkitabiah, walau mungkin menggunakan istilah, asesoris, personil ‘kristen’ atau dengan mengutip ayat alkitab yang tidak kontekstual.
Melalui perkataannya kepada Jemaat Korintus, Paulus ingin mengantisipasi berbagai beban baru yang mungkin timbul akibat pernikahan, perceraian, dan lain-lain. Wanita yang menikah, yang akan melahirkan anak, akan menanggung beban saat mengandung, melahirkan, mengurus, dan membesarkan anaknya. Pria yang menikah menanggung biaya keluarga, yakni istri dan anak-anaknya. Demikian pula suami atau istri yang bercerai. Mereka menanggung beban mental atau psikologis akibat kehilangan pasangan. Menanggung status duda, atau janda di tengah masyarakat. Jika memiliki anak, mereka harus mengurus dan membesarkan anak tanpa salah satunya.
Paulus tidak menggambarkan atau menjelaskan tentang “waktu darurat” yang ia sebutkan pada ayat 26, tetapi melalui perkataannya ini, jelas terlihat kepeduliannya terhadap jemaat, terhadap hal-hal rohani, keselamatan, dan kehidupan yang jauh lebih indah, yang kekal di sorga nanti.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat membedakan antara firman dan pendapat pribadi, dan menyampaikannya dengan benar sehingga menjadi berkat bagi orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Kamis, 11 September 2008
HAMBA ALLAH
Sabtu, 13 September 2008
Bacaan: I Kor 7:20-24
7:20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.
7:21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.
7:22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayananNya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hambaNya.
7:23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
7:24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …tinggallah dalam keadaan, seperti waktu…dipanggil Allah.
• Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa!...jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.
• …seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayananNya, adalah orang bebas, milik Tuhan.
• …orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hambaNya.
• Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
• …hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.
Pertanyaan:
Apa arti perkataan Paulus “…janganlah kamu menjadi hamba manusia”?
Jawaban:
Para hamba pada zaman Paulus bukanlah orang bebas yang memiliki hak atas diri mereka. Sebaliknya mereka adalah orang-orang yang diperjual-belikan, yang patuh dan tunduk kepada majikan yang telah membeli dan membayar mereka lunas.
Paulus dengan cermat menghubungkan situasi-kondisi tersebut dengan kebenaran Allah, yakni, bahwa manusia adalah milik Allah, hamba Allah, yang telah dibeli dan telah lunas dibayar. Dengan kata lain, manusia yang satu tidak berhak atas manusia yang lain, kecuali Allah.
Surat Paulus mengenai hal ini telah menjadi acuan atau dasar bagi orang Kristen pada zaman dahulu dalam menentang perbudakan. Andai saja, alkitab, kekristenan dan rasul Paulus tidak pernah hadir di dunia, tentu saja perbudakan akan terus berlanjut bahkan mungkin mengkristal menjadi hal yang lebih buruk, melebar dan sukar untuk dilukiskan.
Para budak di dunia, mantan budak, calon budak ataupun keturunan budak secara langsung atau tidak langsung berhutang kepada Paulus, kepada kekristenan, dan yang paling utama, berhutang kepada Allah.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Kami bersyukur karena Engkau telah menghapus perbudakan di dunia ini. Berikan hamba keyakinan yang dalam bahwa diri ini adalah milik Engkau dan hamba Engkau, bukan milik dunia atau milik si jahat. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:20-24
7:20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.
7:21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.
7:22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayananNya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hambaNya.
7:23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
7:24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …tinggallah dalam keadaan, seperti waktu…dipanggil Allah.
• Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa!...jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.
• …seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayananNya, adalah orang bebas, milik Tuhan.
• …orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hambaNya.
• Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
• …hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.
Pertanyaan:
Apa arti perkataan Paulus “…janganlah kamu menjadi hamba manusia”?
Jawaban:
Para hamba pada zaman Paulus bukanlah orang bebas yang memiliki hak atas diri mereka. Sebaliknya mereka adalah orang-orang yang diperjual-belikan, yang patuh dan tunduk kepada majikan yang telah membeli dan membayar mereka lunas.
Paulus dengan cermat menghubungkan situasi-kondisi tersebut dengan kebenaran Allah, yakni, bahwa manusia adalah milik Allah, hamba Allah, yang telah dibeli dan telah lunas dibayar. Dengan kata lain, manusia yang satu tidak berhak atas manusia yang lain, kecuali Allah.
Surat Paulus mengenai hal ini telah menjadi acuan atau dasar bagi orang Kristen pada zaman dahulu dalam menentang perbudakan. Andai saja, alkitab, kekristenan dan rasul Paulus tidak pernah hadir di dunia, tentu saja perbudakan akan terus berlanjut bahkan mungkin mengkristal menjadi hal yang lebih buruk, melebar dan sukar untuk dilukiskan.
Para budak di dunia, mantan budak, calon budak ataupun keturunan budak secara langsung atau tidak langsung berhutang kepada Paulus, kepada kekristenan, dan yang paling utama, berhutang kepada Allah.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Kami bersyukur karena Engkau telah menghapus perbudakan di dunia ini. Berikan hamba keyakinan yang dalam bahwa diri ini adalah milik Engkau dan hamba Engkau, bukan milik dunia atau milik si jahat. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
TAK PERLU BINGUNG
Jumat, 12 September 2008
Bacaan: I Kor 7:17-19
7:17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.
7:18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.
• Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu.
• …kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan Paulus menetapkan hal itu, yakni agar tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan dan dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah?
Jawaban:
Setiap perubahan mengandung resiko dan potensi kekacauan. Orang-orang yang menjadi Kristen pada zaman Paulus mungkin mengalami kebingungan atau keraguan tentang bagaimana mereka menjalani hidup yang baru. Orang-orang non-Yahudi mungkin bertanya, apakah mereka harus disunat. Para budak atau hamba mungkin bertanya, apakah mereka harus melepaskan atau melarikan diri dari majikan mereka.
Dalam hal tertentu yang bersifat prinsipil, perubahan tentu harus dilakukan, apalagi yang berkaitan dengan dosa dan pertobatan, tetapi tidak demikian halnya dengan hal yang bersifat tidak prinsipil. Jika seseorang dapat hidup kudus dan benar di hadapan Allah tanpa harus mengalami perubahan status pekerjaan, pernikahan, dan lain-lain, orang tersebut harus tetap di dalam keadaan mereka sebelumnya. Tetapi, jika seseorang bekerja sebagai pelacur, gigolo, pencuri, perampok, mafia, pengusaha judi atau toto gelap, sudah tentu orang tersebut harus percaya kepada Allah, meninggalkan pekerjaannya dan mencari pekerjaan yang baru.
Perubahan tidak harus dilakukan jika tidak berkaitan atau tidak ada sangkut pautnya dengan dosa dan pertobatan. Sebaliknya, perubahan harus dilakukan jika hal tersebut sangat berkaitan langsung dan memiliki sangkut paut dengan dosa dan pertobatan.
Dengan demikian orang yang telah menjadi murid Kristus tidak perlu ragu atau bingung lagi tentang bagaimana mereka harus menjalani hidup yang baru.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menolong calon atau murid Kristus yang baru sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan tepat dan benar di hadapan Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:17-19
7:17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.
7:18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.
• Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu.
• …kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
Pertanyaan:
Apa arti dan tujuan Paulus menetapkan hal itu, yakni agar tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan dan dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah?
Jawaban:
Setiap perubahan mengandung resiko dan potensi kekacauan. Orang-orang yang menjadi Kristen pada zaman Paulus mungkin mengalami kebingungan atau keraguan tentang bagaimana mereka menjalani hidup yang baru. Orang-orang non-Yahudi mungkin bertanya, apakah mereka harus disunat. Para budak atau hamba mungkin bertanya, apakah mereka harus melepaskan atau melarikan diri dari majikan mereka.
Dalam hal tertentu yang bersifat prinsipil, perubahan tentu harus dilakukan, apalagi yang berkaitan dengan dosa dan pertobatan, tetapi tidak demikian halnya dengan hal yang bersifat tidak prinsipil. Jika seseorang dapat hidup kudus dan benar di hadapan Allah tanpa harus mengalami perubahan status pekerjaan, pernikahan, dan lain-lain, orang tersebut harus tetap di dalam keadaan mereka sebelumnya. Tetapi, jika seseorang bekerja sebagai pelacur, gigolo, pencuri, perampok, mafia, pengusaha judi atau toto gelap, sudah tentu orang tersebut harus percaya kepada Allah, meninggalkan pekerjaannya dan mencari pekerjaan yang baru.
Perubahan tidak harus dilakukan jika tidak berkaitan atau tidak ada sangkut pautnya dengan dosa dan pertobatan. Sebaliknya, perubahan harus dilakukan jika hal tersebut sangat berkaitan langsung dan memiliki sangkut paut dengan dosa dan pertobatan.
Dengan demikian orang yang telah menjadi murid Kristus tidak perlu ragu atau bingung lagi tentang bagaimana mereka harus menjalani hidup yang baru.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menolong calon atau murid Kristus yang baru sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan tepat dan benar di hadapan Engkau. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
GOODWILL
Kamis, 11 September 2008
Bacaan: I Kor 7:15-16
7:15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
• …, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? …, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Suami atau isteri yang tidak beriman tentu saja memiliki pengertian dan keyakinan yang berbeda dengan pasangannya, yang beriman. Sehingga, apabila mereka memutuskan untuk bercerai, suami atau isteri yang beriman hanya dapat meyakinkan atau berupaya menyadarkan pasangannya.
Jika mereka tetap bersikeras, apa boleh buat, suami atau isteri yang beriman tidak dapat memaksakan pasangannya tersebut.
Tetapi Paulus sekali lagi melihat bahwa suami atau isteri yang beriman, memiliki peran, amanat atau mandat dari Allah untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus termasuk pasangannya yang tidak beriman. Sehingga pasangan mereka pun dapat beroleh keselamatan dari Allah.
Melalui hal ini dapat terlihat bahwa Paulus sangat bijaksana melihat suatu kasus atau permasalahan pernikahan. Ia dapat melihat realitas bahwa suami atau isteri yang tidak beriman memiliki hak dan pilihan mereka sendiri, dan suami atau istri yang beriman tidak dapat memaksakan kehendak terhadap orang yang tidak beriman. Tetapi, suami atau isteri yang beriman memiliki goodwill dari Allah untuk menolong pasangan mereka secara rohani.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa memiliki goodwill terhadap pasangan saya, dan juga dapat mengajarkan hal ini kepada orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:15-16
7:15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
• …, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? …, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Suami atau isteri yang tidak beriman tentu saja memiliki pengertian dan keyakinan yang berbeda dengan pasangannya, yang beriman. Sehingga, apabila mereka memutuskan untuk bercerai, suami atau isteri yang beriman hanya dapat meyakinkan atau berupaya menyadarkan pasangannya.
Jika mereka tetap bersikeras, apa boleh buat, suami atau isteri yang beriman tidak dapat memaksakan pasangannya tersebut.
Tetapi Paulus sekali lagi melihat bahwa suami atau isteri yang beriman, memiliki peran, amanat atau mandat dari Allah untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus termasuk pasangannya yang tidak beriman. Sehingga pasangan mereka pun dapat beroleh keselamatan dari Allah.
Melalui hal ini dapat terlihat bahwa Paulus sangat bijaksana melihat suatu kasus atau permasalahan pernikahan. Ia dapat melihat realitas bahwa suami atau isteri yang tidak beriman memiliki hak dan pilihan mereka sendiri, dan suami atau istri yang beriman tidak dapat memaksakan kehendak terhadap orang yang tidak beriman. Tetapi, suami atau isteri yang beriman memiliki goodwill dari Allah untuk menolong pasangan mereka secara rohani.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar dapat senantiasa memiliki goodwill terhadap pasangan saya, dan juga dapat mengajarkan hal ini kepada orang lain. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Rabu, 10 September 2008
MENIKAH BUKAN KEHARUSAN?
Rabu, 10 September 2008
Bacaan: I Kor 7:7-9
7:7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
7:8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
7:9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
• …kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
• …kalau orang-orang dewasa yang belum menikah atau janda-janda tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka menikah.
• …lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menilai bahwa lebih baik tidak menikah jika memang seseorang memiliki karunia “tidak menikah” dan dapat menguasai diri dari hawa nafsu. Sebaliknya, bagi yang tidak memiliki karunia tersebut, adalah lebih baik bagi mereka jika mereka menikah.
Dengan demikian orang-orang yang memiliki karunia “tidak menikah” akan lebih optimal atau lebih efektif dalam pelayanan. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang tidak memiliki karunia tersebut dapat terhindar dari percabulan melalui pernikahan kudus, sehingga orang-orang itu pun dapat melayani Allah tanpa gangguan.
Dengan kata lain, menikah atau tidak menikah bukan menjadi soal. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana agar seseorang dapat hidup kudus dan lebih optimal melayani Allah.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan hamba keyakinan yang dalam hal ini sehingga hamba dapat dimampukan menangani persoalan-persoalan “menikah atau tidak menikah” dengan efektif. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:7-9
7:7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
7:8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
7:9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
• …kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
• …kalau orang-orang dewasa yang belum menikah atau janda-janda tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka menikah.
• …lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus menilai bahwa lebih baik tidak menikah jika memang seseorang memiliki karunia “tidak menikah” dan dapat menguasai diri dari hawa nafsu. Sebaliknya, bagi yang tidak memiliki karunia tersebut, adalah lebih baik bagi mereka jika mereka menikah.
Dengan demikian orang-orang yang memiliki karunia “tidak menikah” akan lebih optimal atau lebih efektif dalam pelayanan. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang tidak memiliki karunia tersebut dapat terhindar dari percabulan melalui pernikahan kudus, sehingga orang-orang itu pun dapat melayani Allah tanpa gangguan.
Dengan kata lain, menikah atau tidak menikah bukan menjadi soal. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana agar seseorang dapat hidup kudus dan lebih optimal melayani Allah.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Berikan hamba keyakinan yang dalam hal ini sehingga hamba dapat dimampukan menangani persoalan-persoalan “menikah atau tidak menikah” dengan efektif. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
BE CAREFUL
Selasa, 9 September 2008
Bacaan: I Kor 7:5-6
7:5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
7:6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Janganlah suami-istri saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya baik suami maupun istri mendapat kesempatan untuk berdoa.
• …hendaklah suami-istri kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai salah seorang pun, karena suami atau pun istri tidak tahan bertarak.
• Hal ini kukatakan kepada para suami atau pun istri sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus mengantisipasi percabulan dan perzinahan terjadi dalam pernikahan long distance (jarak jauh) atau saling menjauh karena konflik di antara suami-istri.
Sesuai nasihat Paulus, terdapat 4 (tiga) hal penting dalam pernikahan jarak jauh atau saling menjauh:
1. Perpisahan bersifat sementara.
2. Perpisahan sementara disetujui atau disepakati bersama oleh suami dan istri.
3. Perpisahan bertujuan untuk berdoa kepada Allah bukan untuk hal lain, sehingga baik suami atau pun istri dapat memperoleh kekuatan rohani dan damai sejahtera dari Allah.
4. Suami-istri harus kembali hidup bersama-sama dengan situasi kondisi yang lebih baik.
Seorang suami atau istri yang kesal dan marah terhadap pasangannya dapat menjadi benci dan dendam jika mereka tidak berdoa kepada Allah. Kebencian atau dendam dapat berakhir dengan perceraian atau perzinahan dengan orang lain. Sepertinya itulah cara atau strategi Iblis dalam menghancurkan pernikahan. So, be careful!
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat waspada dan mengantisipasi diri dari perceraian atau perzinahan. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 7:5-6
7:5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
7:6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• Janganlah suami-istri saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya baik suami maupun istri mendapat kesempatan untuk berdoa.
• …hendaklah suami-istri kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai salah seorang pun, karena suami atau pun istri tidak tahan bertarak.
• Hal ini kukatakan kepada para suami atau pun istri sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Paulus mengantisipasi percabulan dan perzinahan terjadi dalam pernikahan long distance (jarak jauh) atau saling menjauh karena konflik di antara suami-istri.
Sesuai nasihat Paulus, terdapat 4 (tiga) hal penting dalam pernikahan jarak jauh atau saling menjauh:
1. Perpisahan bersifat sementara.
2. Perpisahan sementara disetujui atau disepakati bersama oleh suami dan istri.
3. Perpisahan bertujuan untuk berdoa kepada Allah bukan untuk hal lain, sehingga baik suami atau pun istri dapat memperoleh kekuatan rohani dan damai sejahtera dari Allah.
4. Suami-istri harus kembali hidup bersama-sama dengan situasi kondisi yang lebih baik.
Seorang suami atau istri yang kesal dan marah terhadap pasangannya dapat menjadi benci dan dendam jika mereka tidak berdoa kepada Allah. Kebencian atau dendam dapat berakhir dengan perceraian atau perzinahan dengan orang lain. Sepertinya itulah cara atau strategi Iblis dalam menghancurkan pernikahan. So, be careful!
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat waspada dan mengantisipasi diri dari perceraian atau perzinahan. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Senin, 01 September 2008
PERCABULAN? NO WAY!
Senin, 8 September 2008
Bacaan: I Kor 6:19-20
6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milikmu sendiri?
6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,…
• …Roh Kudus…kamu peroleh dari Allah, -
• …kamu bukan milikmu sendiri…
• …kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:…
• …muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Secara umum, Paulus menentang kenajisan atau kenistaan dosa di dalam diri Jemaat Korintus sebagai bait Roh Kudus. Secara khusus, tulisan ini dilatarbelakangi dengan dosa percabulan oleh anggota tertentu di dalam jemaat.
Melalui tulisan ini, Paulus hendak mengatakan bahwa murid Kristus atau anggota jemaat adalah milik Allah bukan milik diri mereka sendiri. Mereka telah dibeli dan telah lunas dibayar. Artinya, tidak seorangpun yang berhak atas diri seorang murid Kristus, termasuk murid Kristus itu sendiri, kecuali Allah.
Paulus sering menggunakan frase “tidak tahukah kamu?”. Hal ini menunjukkan upaya rasul tersebut dalam menegaskan suatu pengertian yang dilupakan atau mengkonfirmasi hal yang belum disadari atau diyakini sepenuhnya. Kesimpulannya, Paulus hendak menyadarkan dan meyakinkan Jemaat Korintus bahwa mereka tidak dapat sesuka hati terhadap tubuh mereka, melainkan harus menjaga tubuh mereka agar tetap kudus dan tidak dicemari dengan dosa.
Kesadaran atau keyakinan yang kurang akan hal ini merupakan salah satu akibat mengapa seseorang mudah jatuh ke dalam dosa percabulan.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga diri agar tetap kudus dan tidak dicemari oleh dosa percabulan. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Bacaan: I Kor 6:19-20
6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milikmu sendiri?
6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Fakta:
Paulus berkata kepada Jemaat Korintus:
• …tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,…
• …Roh Kudus…kamu peroleh dari Allah, -
• …kamu bukan milikmu sendiri…
• …kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:…
• …muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Pertanyaan:
Apakah arti atau tujuan dari perkataan Paulus tersebut?
Jawaban:
Secara umum, Paulus menentang kenajisan atau kenistaan dosa di dalam diri Jemaat Korintus sebagai bait Roh Kudus. Secara khusus, tulisan ini dilatarbelakangi dengan dosa percabulan oleh anggota tertentu di dalam jemaat.
Melalui tulisan ini, Paulus hendak mengatakan bahwa murid Kristus atau anggota jemaat adalah milik Allah bukan milik diri mereka sendiri. Mereka telah dibeli dan telah lunas dibayar. Artinya, tidak seorangpun yang berhak atas diri seorang murid Kristus, termasuk murid Kristus itu sendiri, kecuali Allah.
Paulus sering menggunakan frase “tidak tahukah kamu?”. Hal ini menunjukkan upaya rasul tersebut dalam menegaskan suatu pengertian yang dilupakan atau mengkonfirmasi hal yang belum disadari atau diyakini sepenuhnya. Kesimpulannya, Paulus hendak menyadarkan dan meyakinkan Jemaat Korintus bahwa mereka tidak dapat sesuka hati terhadap tubuh mereka, melainkan harus menjaga tubuh mereka agar tetap kudus dan tidak dicemari dengan dosa.
Kesadaran atau keyakinan yang kurang akan hal ini merupakan salah satu akibat mengapa seseorang mudah jatuh ke dalam dosa percabulan.
Doa:
Tuhan terima kasih atas pelajaran pagi ini. Mampukan hamba agar senantiasa dapat menjaga diri agar tetap kudus dan tidak dicemari oleh dosa percabulan. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)